
Malika terlalu lama berada di Butik. Untuk itu Ia memutuskan untuk pulang. Bahkan Aditya pun sudah datang untuk menjemputnya.
Mereka berjalan ke arah Aisyah yang sedang memilah-milah barang yang di jualnya.
"Maaf Tante ganggu kamu, padahal kamu sedang sibuk bekerja. Kalau gitu kami pamit dulu yah Aisyah! karena Aditya sudah jemput Tante!." ucap Malika saat mereka sudah dekat dimana Aisyah berada.
"Tidak apa Tante, saya sangat senang Tante bisa datang berkunjung ke butik Aisyah. Terima kasih banyak!." ucap Aisyah seraya tersenyum manis, hal itu tak luput dari pantauan Aditya yang juga ikut tersenyum.
"Kalau begitu ini sekedar oleh-oleh dari kami." lanjutnya sembari menyerahkan paperbag yang sudah di siapkan oleh Assistent Aisyah untuk di berikan kepada Malika.
"Tidak usah Aisyah, tidak perlu seperti ini." ucap Malika tidak enak karena Aisyah memberikan Tas yang begitu mewah untuk nya.
"Tidak apa Tante saya ini hanya sedikit untuk Tante. Semoga Tante suka yah."
"Kalau begitu ini..." ucap Malika menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu namun di cegah oleh Aisyah.
"Jangan Tante, ini hadiah untuk Tante dari saya!." Aisyah menolak pemberian uang dari Malika.
"Baiklah terima kasih Aisyah." ucap Malika pasrah menerima hadiah pemberian tas dari Aisyah.
"Tante pamit pulang yah Aisyah!." lanjut Malika pada Aisyah.
"Kak Adit juga pamit yah Aisyah!." pamit Aditya saat bersalaman dengan Aisyah membuat Aisyah memelototkan matanya hendak menerkam pria itu. Betapa malu nya dia, Aditya mengucapkan itu di depan Malika yang tersenyum mesam-mesem karena tingkah putranya.
.
.
.
Mobil melaju dengan pelan, sebenarnya berat bagi Aditya meninggalkan Butik Aisyah, dia ingin terus berada di dekat wanita itu. Tapi Apa dayalah, cinta nya saja belum tahu di terima atau sebaliknya.
"Kamu kelihatan bahagia sekali, Dit?." ucap Malika menatap anaknya yang menyetir dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Tentu saja, Mah. Mamah sudah membantu ku yang sedang jatuh cinta ini. Mamah mengenal Aisyah seperti apa."
"Iyah Mamah memang mengenal Aisyah sejak dulu sebagai gadis yang sopan dan baik hati dan sifat nya itu masih sama sampai sekarang. Semoga Aisyah bisa membuka hati untukmu secepatnya. Mamah ingin segera menggendong cucu!."
"Cintaku aja belum di terima, Mah!. Bagaimana mau bikin cucu. Hahaaa!." Aditya tertawa dengan kencang hingga di tepuk bahunya oleh Malika. Ia ikut bahagia melihat Aditya bisa tertawa selepas itu.
***
"Aisyah bagaimana kamu sudah menerima Aditya?." tanya Sonya. yang menatap anak semata wayangnya.
Saat Aditya dan Malika pamit pulang, pekerjaan Aisyah juga sudah selesai dan Aisyah memutuskan untuk pulang ke rumah juga.
Dan sekarang dia baru saja pulang ke rumah, Sonya sudah mengajukan pertanyaan itu. Padahal Aisyah sendiri masih di lema, apakah akan menerima cinta nya Aditya atau tidak.
"Entahlah, Bun. Aku belum mikir ke sana. Kita lihat saja nanti!." Sahut Aisyah dengan helaan nafas panjang, seolah memiliki beban yang berat.
Aisyah tak habis pikir, kenapa takdir seakan-akan tergesa mendatangkan jodoh untuknya. Sedangkan dia masih terasa lebih nyaman dengan keadaan seperti sekarang. Tanpa beban dan tanggung jawab sebagai istri, rasanya ingin menikmati kesendirian nya terlebih dahulu.
"Bunda sih ikut apa kata mu. Beri mereka jawaban agar mereka tidak berharap banyak jika belum mau menjalin hubungan lagi. Karena mai bagaimana pun Ibunya juga ikut datang ke sini dan berharap kami menerima anaknya." Sonya berucap tanpa menatap anaknya.
"Iyah Bun. Kak Adit juga menunggu jawaban untuk sekarang, Ibunya juga begitu. Hanya saja Tante Malika memang ada ucapan supaya aku yakin bahwa Kak Adit tidak akan pernah menyakitiku. Tapi bukan itu masalahnya, aku hanya ingin menikmati dulu kesendirian ku ini." ucap Aisyah mengungkapkan isi hatinya yang masih ragu untuk menerima pinangan Aditya.
Karena lelaki itu sudah jelas ingin menjalin hubungan yang serius.
"Iyah, kamu memang harus lebih matang mengambil keputusan. Bunda sebagai orang tua hanya bisa mendukungmu. Apa yang menurut mu baik. Maka lakukanlah!." ujar Sonya lagi.
Kini tatapannya begitu sendu pada anak pertama, dia ingat bagaimana kejamnya mantan suami dan mertua Aisyah yang tega mengurung putri nya di kamar. Entah bagaimana jika dia telat sedikit saja untuk datang ke rumah Aisyah dan dia juga bersyukur karena pada saat itu Adel dan Aditya juga datang untuk menyelamatkan Aisyah.
"Jangan lupa sholat minta petunjuk sama Allah swt. Jika memang Aditya adalah jodohmu maka dengan cara apapun kamu menolak maka tidak akan mampu melawan takdir. Usaha kita adalah hanya meminta yang terbaik pada sang pemilik nyawa." tambah Sonya lagi, sebagai seorang Ibu dia tahu bagaimana keresahan hati Aisyah.
Perempuan mana yang menolak pesona tampan seorang Ceo di perusahaan ternama. Sonya pun yakin, besar kecilnya perasaan Aisyah pasti ada untuk Aditya. Dilihat dari gestur tubuh dan bahasa yang di gunakan saat berinteraksi dengan Aditya membuat Sonya yakin kalau Aisyah tengah mati-matian memasang tembok tinggi untuk menjaga perasaannya.
"Iyah Bun nanti Aisyah pikirkan." ucap Aisyah lalu pamit dan berlalu pada Bundanya untuk masuk kamar terlebih dahulu.
__ADS_1
***
Di lapas tahanan, Dimas kini sudah melakukan salam perpisahan dengan beberapa teman satu sel nya. Hari ini dinyatakan bebas dan bisa keluar dari penjara.
"Selamat yah Dimas, Semoga kamu bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Dan tidak akan pernah menginjakan kaki kamu di sini lagi." ungkap seorang teman yang selama ini sudah baik di dalam sel tahanan.
"Iyah, Pak. Semoga Pak Sanjaya juga bisa segera bebas dari sini!." ujar Dimas.
Selama di lapas, keduanya saling bercerita tentang kehidupan masibg-masing. Mereka saling menyemangati agar bisa bertahan di dalam sel tahanan itu.
"Aku ingin menemui Maira aku rindu sekali dengannya. Apakah dia masih tinggal di Apartement yang sama yah?." ucap Dimas kemudian melangkah meninggalkan area lapas tahanan.
Kebebasan Dimas ada andil dari Maira. Ternyata Maira tidak berbohong kalau dia akan segera membebaskan Dimas.
Ia berjalan menelusuri jalanan sambil membayangkan wajah cantik Maira kini.
Langkah Dimas terhenti kini di tengah jalan. Ia kemudian menghentikkan sebuah angkot dan meminta mengantarkannya ke sebuah tempat.
"Sudah sampai, Mas!." ucap supir angkot itu.
"Terima kasih yah Pak." Dimas berkata sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mana uang nya, Mas?." tanya supir itu sambil menengadahkan tangan nya.
"Em- maaf pak saya ngga punya uang." Dimas menjawab dengan menyembunyikan rasa malu nya.
"Ngga punya uang?." ulang supir itu terkejut.
"Saya baru pulang dari penjara, Pak. Saya belum pegang uang." ujar Dimas dengan jujur.
"Apa?."
...***MOHON BANTU LIKE DAN COMMENT NYA***...
__ADS_1