
Keesokan hari nya saat Ruli sedang berkumpul dengan geng sosialitanya, dia menerima telepon dari kantor polisi kalau Dimas berkelahi dengan teman satu sel nya.
Lalu Ruli memutuskan untuk menemui Dimas di kantor Polisi. Ia datang bersama seorang pengacara. Saat dia datang dan menemui Dimas betapa terkejut nya, Ia melihat kondisi Dimas yang sudah acak-acakan dengan wajah lebam. Dan bertambah syok nya lagi, saat Dimas sudah membuat teman sel nya masuk rumah sakit.
"Apa? kok bisa kamu berantem di dalam? Astagaaa Dimas, kamu kok ga berhenti buat masalah sih" geram Ruli sambil menelisik luka lebam wajah Dimas.
"Aww, sakit mah". ringis Dimas menahan sakit saat wajahnya di tekan oleh Ruli.
"Kamu tuh yah seharusnya kamu bersikap baik di sini, gimana mau dapet remisi, lah kamu malah berantem yang ada masa hukuman kamu justru bertambah" kesal Ruli.
"Aku hampir di perk*sa mah, sama laki tuh sialan. Mana mungkin aku diam saja. Kalau bukan dia yang celaka yah aku"
"Halah alasan aja kamu, mana ada yang begituan di sini. Cowok kok mau perk*s*an cowok. Sudah mamah mau menemui polisi dulu. Makan nih dulu makanan, pasti kamu gak makan enak semalam". ucap Ruli sambil mengulurkan sekotak nasi yang ia beli di restaurant saat perjalanannya ke kantor polisi tadi.
"Wah, mamah tahu aja. Makasih mah"
"Iyah"
Lalu Sonya menemui polisi mengurus berkas-berkas bersama pengacaranya. Dia berharap Dimas bisa segera bebas dan membalaskan sakit hati nya kepada Aisyah.
...----------------...
Setelah kedatangan mertuanya kemarin, Aisyah tidak jadi menemui pengacaranya karena mendadak perut nya sakit, Aditya yang menjemput pun khawatir ketika melihat wajah pucat Aisyah, dia pun menyarankan Aisyah untuk istirahat.
Aisyah merasa tidak enak kepada sahabat nya Adel yang sudah sabar menunggunya, takut Adel marah kepadanya. Tapi di luar dugaan ternyata Adel justru tidak marah sama sekali, Aisyah beruntung memiliki sahabat seperti Adel.
Bahkan Adel datang menjenguk Aisyah ke rumah dan menginap di rumah Aisyah seharian.
Dan sekarang Aisyah sudah tidak sakit lagi, ia sudah agak mendingan setelah minum obat dan langsung istirahat. Ia ingin segera menyelesaikan urusan nya untuk segera bercerai dengan Dimas.
"Gimana Sya udah mendingan sekarang?" tanya Adel memastikan.
"Udah, Alhamdulillah. Makasih yah kamu udh ngerawat aku semalaman" ucap Aisyah tulus pada Adel.
"Sama-sama, kamu tuh kan sahabat aku, jadi ga perlu sungkan" ucap Adel.
Mereka pun tersenyum bahagia.
__ADS_1
Tin
Tin
Tin
"Seperti nya itu kak Adit deh, Sya" ucap Adel sambil melirik ke arah jendela dan ternyata benar itu mobil Kak Adit. Lalu Adel berlari menghampiri Kak Adit ke luar.
"Kak" Lalu melambaikan tangannya. Adit hanya tersenyum melihat Adiknya itu.
Aisyah menghampiri mereka ke luar dan di susul Bunda nya di belakang. Aditya pun menghampiri Bunda nya Aisyah lalu mencium punggung tangan Sonya. Melihat itu Sonya bisa menilai kalau Adit itu anaknya sopan.
"Nak Adit makasih loh udah mau nganterin Aisyah. Sejak mendiang Ayahnya meninggal, ia sudah kehilangan senyumnya berharap akan bahagia bersama suaminya, tapi ternyata suaminya itu justru menyakiti hatinya. Dan bodohnya tante tidak tahu tentang itu, dia terlalu menyimpan masalahnya sendiri" Ucap Sonya menghapus jejak air mata di pipi nya.
"Tante berharap setelah ini, Aisyah bisa hidup bahagia dengan pilihan nya sendiri. Yang mencintai nya tulus dan tidak pernah mengkhianati atau berselingkuh di belakang nya" tambah Sonya.
Mendengar itu Aisyah hanya memeluk Bundanya, menguatkan dan menyalurkan rasa di hati nya bahwa Aisyah baik-baik saja, dan berharap Sonya tidak perlu mengkhawatirkan dirinya lagi.
"Tante tidak perlu khawatir aku dan Adel akan selalu menjaga Aisyah" ucap Aditya tersenyum.
Aisyah mendongak mengalihkan mata nya ke arah lelaki tampan yang sedang berdiri di samping Adel, dia tersenyum lalu membalas menatap manik mata indah Aisyah tapi seketika kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, mengucapkan kata istighfar karena apa yang dilakukannya itu salah.
"Ya sudah Ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Adel kepada Aisyah dan Aditya.
Mereka pun memasuki mobil dan mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah. Sonya menatap mobil itu hingga menghilang dari pandangannya lalu masuk ke dalam rumah.
Adel duduk di samping Aditya yang menyupir kendaraan beroda empat itu sedangkan Aisyah duduk di belakang, mungkin jika Aisyah menikah dengan Ka Adit dia yang akan duduk di samping Ka Adit, pikir Aisyah. Aisyah tersadar dengan apa yang dipikirkannya lalu tanpa sadar menggetok kepala Aisyah dan Aditya melihat itu.
"Ada apa Aisyah?", tanya Aditya melihat Aisyah dengan kaca spion.
"Mmmm, tidak ka" ucap Aisyah gugup.
"Apa kamu mau duduk di depan, Aisyah?" goda Adel pada Aisyah.
"Tidak, apaan sih" ucap Aisyah lalu mengalihkan pandangannya ke arah kaca jendela mobil.
Di dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan serius di antara mereka. Baik Aisyah, Adit dan Adel hanya membahas apa yang mereka dengarkan di radio mobil. Hingga saat ini mereka termasuk nyambung jika berbicara.
__ADS_1
Tak lama berselang mereka tiba di sebuah restaurant mahal di kota itu. Semua pengunjung mengenakan dress dan jas. Nampak sekali ini adalah restaurant berkelas.
Aisyah, Adel dan Aditya keluar dari mobil, Aisyah dan Adel berjalan beriringan sedangkan Aditya di depan mereka, lalu mereka memasuki ke dalam restaurant.
Beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Tentu saja mereka mengenal laki-laki itu, Sebagai Pewaris keluarga Wijaya Group. Tetapi para pengunjung bersikap acuh tak acuh, ini retaurant mewah. Tentu saja para pengunjungnya dari kalangan berkelas yang tidak punya waktu mengurusi kehidupan orang lain.
Aisyah, Adel dan Aditya berjalan menuju meja makan yang sudah mereka pesan untuk bertemu dengan pengacara yang akan mengurusi perceraian Dimas dan Aisyah. Ternyata pengacara nya itu sudah datang dan sedang menunggu mereka bertiga.
Pengacara nya sontak berdiri saat tahu kliennya sudah datang
"Selamat siang pak Doni" Aditya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pengacara nya itu.
"Siang, Pak Adit" lalu Doni membalas jabat tangan Adit.
Adel dan Aisyah hanya menangkupkan ke dua tangannya di dada untuk bersalaman dengan Doni.
"Bagaimana kalau kita makan dulu" usul Adel semangat.
"Boleh, gimana Aisyah?" tanya Aditya menoleh ke arah Aisyah.
"Boleh, kita makan dulu" Jawab Aisyah.
Mereka pun duduk dan memesan makanan, Aisyah pun melihat daftar menu makanan yang di sajikan.
Terlihat makanan yang di sajikan sangatlah berkelas dan mewah, cita rasa yang menggunggah selera dan pelayanan terbaik serta pemandangan perkotaan yang ditawarkan oleh restaurant tersebut mampu menghipnotis para pengunjung untuk berkunjung ke restaurant ini.
"Silahkan kalian pesan apa saja, aku yang akan traktir. Ga usah sungkan, kamu juga pak pengacara" ucap Aditya lalu menyenggol lengan pengacara itu, Aisyah heran dengan sikap Aditya, mereka terlihat akrab sekali, batin Aisyah.
"Kami adalah teman lama Aisyah, jadi seperti inilah kalau kami bertemu" ucap Aditya memberikan jawaban atas keheranan Aisyah.
Aisyah tersenyum,
Tidak lama kemudian makanan datang. Mereka mengobrol obrolan ringan sembari menyantap makanan yang di sajikan. Terlihat sekali jika Aisyah sudah terbiasa dengan etiket meja makan dan Aditya pun sedikit kagum dengan hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...