Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
[44] Menemui Mantan


__ADS_3

Keesokan hari nya, pagi-pagi sekali Maira sudah di suguhkan oleh berita-berita dirinya yang menjadi selingkuhan Dimas.


Maira mendengus kesal seraya melemparkan ipad yang dia gunakan untuk melihat berita itu ke atas sofa. Bukan satu kali atau dua kali berita tentang dirinya yang menjadi simpanan di muat ke media, bahkan dia sering di gosipkan dengan lawan main nya, dan tidak jarang media menulis berita yang di lebih-lebihkan.


Tapi sejak perselingkuhan dirinya dengan Dimas dan persoalan dirinya yang menikung temannya sendiri, entah kenapa mereka tidak berhenti menggosipkan dirinya.


Rasanya Maira ingin sekali marah, kenapa orang-orang begitu sibuk mengurusi hidupnya? kenapa mereka tidak sibuk saja mengurusi kehidupannya masing-masing yang bisa jadi lebih buruk dari pada kehidupan dirinya.


"Nyebelin banget sih, pagi-pagi udah bikin emosi aja!" dengus Maira dengan raut wajah yang sudah masam.


Maira menengadahkan kepalanya ke arah langit dengan tangan yang memijat pelipisnya. Dia sekarang sedang berada di balkon teras apartementnya.


Beberapa hari kemarin dia sibuk menyendiri bahkan dia sampai meminum-minuman keras untuk mengurangi rasa kesepiannya tapi Bastian datang dan dia tidak lagi merasa sendiri ada Bastian yang akan selalu menemaninya walaupun dirinya belum bisa mencintai laki-laki itu.


Sekarang dia tidak akan terpuruk lagi, apalagi dia sudah membayar seseorang untuk membunuh Aisyah. Dia tidak akan bisa kalah dari Aisyah, dia tidak boleh hancur sekarang.


Dengan sedikit bantuan Bastian, ia akan memanfaatkan itu. Senyum manis tersungging di bibir manis Maira, dia sudah bisa membanyangkan apa yang akan dia lakukan pada Aisyah.


***


Di sisi lain, Aisyah membuat roti bakar dan segelas susu untuk sarapannya.


Dia meraih telpon nya dan segera menghubungi Rina.


Tut...Tut...Tut


"Ya bu" Jawab Rina di sebrang telepon,


Aisyah sudah memberikan Rina kesempatan untuk bekerja dengannya, karena jadwal mengurusi butik dan sesekali harus mengikuti rapat di perusahaan S.k Group membuat Aisyah sibuk sehingga dia memilih Rina untuk menjadi Assistennya.


"Rin, tolong kosongkan beberapa jadwalku atau cari jadwal kosong. Aku perlu membesuk calon mantan suamiku di hotel prodeo!."


"Baik Bu" Jawab Rina menyanggupi.


Telepon pun terputus.

__ADS_1


***


Seminggu pasca sidang putusan hakim pada Dimas Anggara, selesai pula surat gugatan cerai Aisyah dan Dimas.


Akhirnya, Aisyah mendapat jadwal kosong juga sehingga dia bisa membesuk Dimas calon mantan suaminya, dia akan mengirimi nya langsung surat sidang perceraian mereka.


Rina melakukan tugasnya dengan baik, tidak salah Aisyah memberi kesempatan kedua untuk Rina bekerja. Dia tahu kesalahan Rina waktu itu karena di ancaman oleh Dimas.


Aisyah masih berdiri di hadapan cermin. Riasannya sudah rapih, dandanannya pun kasual. Dia hanya membayangkan bagaimana reaksi Dimas saat Aisyah memberikan surat gugatan cerai kepadanya.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya Aisyah sampai di lapas tempat Dimas di tahan. Segera dia meninggalkan semua alat elektronik dan barang-barang lainnya di mobil. Toh sampai di sana, semua barang akan di tinggal di tempat pemeriksaan. Jadi lebih baik dia hanya membawa kartu identitas dan beberapa cemilan ringan.


Tiga puluh menit kemudian, Aisyah sudah dipersilahkan oleh petugas bertemu dengan Dimas Anggara.


"Hai Mas, Apa kabar?" tanya Aisyah menghampiri Dimas yang sedang menunduk.


Mendengar suara yang dikenali nya itu, sontak laki-laki itu berdiri. "Aisyah" panggil Dimas. Dia tak henti-hentinya memandang wajah Aisyah. Karena Aisyah kini semakin di pandang semakin cantik.


Dengan berbalut gamis berwarna peach dan juga pashmina berwarna senada, membuat Aisyah semakin terlihat cantik. Apalagi kulitnya kini sudah terlihat lebih bersih dan juga bodynya yang lebih ramping.


Dimas benar-benar terkesima dengan penampilan istri nya itu, aura nya terpancar. Bagaimana tidak dia sudah lama tidak melihat Aisyah, tidak menyangka istri nya akan datang menemui dirinya sekarang.


Dimas yang melihat itu hanya tersenyum getir.


"Mas aku ke sini hanya ingin menyerahkan surat cerai" ucap Aisyah lalu menyimpan surat itu di atas meja.


"Apa?"


"Aku tidak ingin bercerai dengan mu Aisyah, beri aku kesempatan kedua!"


"Tidak, Mas. Tidak ada kesempatan kedua"


"Tolong Aisyah, maafkan aku, aku akan meninggalkan Maira dan memilih hidup bersama mu"


Aisyah berdecih, "Aku tidak sudi menerima kamu menjadi suamiku lagi. Kamu dan keluarga mu hanya keluarga toxic dan sangat licik, aku tidak bisa membanyangkan kalau saja waktu itu aku lengah sedikit saja mungkin aku sekarang sudah beda alam. Aku tahu kamu dan mamahmu merencanakan pembunuhan untukku. Iyah kan?" ucap Aisyah menatap tajam Dimas.

__ADS_1


"Bu..Bukan seperti itu. Aisyah".


"Ngga usah mengelak, Mas. Aku tidak akan pernah tertipu lagi dengan wajah pura-pura baik kamu. Seharusnya kamu senang karena sudah tidak ada penghalang kebahagiaanmu untuk menikah dengan Maira. Tapi sepertinya kamu harus bersabar dan menetap sedikit lebih lama di sini yah," ucap Aisyah tersenyum mengejek.


"Dengan ini aku dan kamu tidak ada hubungan lagi, Mas." imbuh Aisyah lagi.


Dimas diam, dia mengepalkan tangan hingga buku - buku jari nya memutih, Dimas tidak menerima di ceraikan seperti ini oleh Aisyah. Hal ini membuat harga diri nya jatuh sebagai laki-laki.


"Aku hanya mengantarkan surat ini kepadamu, Mas. Jadi aku harap kamu merenungi kesalahanmu di sini!. Aku pamit pulang Mas." ucap Aisyah pada Dimas.


Aisyah pun keluar dan segera mengambil kartu identitasnya. Dia kembali melajukan mobilnya di jalanan.


Sementara itu Dimas terdiam di kursi nya, menatap surat itu di atas meja. Sampai akhirnya petugas sipir kembali membawa nya ke jeruji besi.


Sepulang dari Lapas, Aisyah melajukan mobil nya ke arah Butik nya.


***


Tut...Tut...Tut


"Halo..... Apa?. Yah saya akan ke sana sekarang!" seseorang dari pihak rumah sakit menelpon Aisyah. Katanya Sonya terpeleset jatuh di kamar mandi.


Aisyah memutar arah mobil nya menuju Rumah sakit tempat Sonya di rawat. Tanpa Aisyah sadari, sejak tadi ada sebuah mobil yang mengikuti mobil Aisyah. Laki-laki itu memakai masker dan kaca mata hitam itu menunggu waktu yang tepat untuk menabrak Aisyah. Namanya Xion, orang suruhan Maira.


Sesampainya di rumah sakit, Aisyah keluar dari mobil lalu menuju ke bagian resepsionist menanyakan dimana Ibu nya di rawat.


Xion masih menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Maira. Xion keluar dari mobil menuju mobil Aisyah, melirik ke kanan dan ke kiri, dia tidak ingin ada orang yang melihat aksinya. Di rasa sudah aman dan tidak ada yang melihat, lalu Xion memotong kabel rem mobil Aisyah.


Lalu ia beranjak pergi meninggalkan mobil Aisyah, terdengar suara dari arah belakang Xion.


"Hei apa yang kamu lakukan?" teriak orang itu kepada Xion dan hendak mengejarnya tapi Xion sudah pergi jauh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2