Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 84


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Malika. Kedua pasangan yang sebentar lagi akan menjadi satu keluarga itu sedang melakukan diskusi mengenai pernikahan mereka berdua. Aditya sudah tak ingin membahas mengenai masalah Dimas di depan Aisyah dan Mamahnya. Ia akan menyelesaikan masalah itu sendiri tanpa melibatkan kedua wanita yang di cintai nya ini.


"Aisyah Bunda mu sudah di kabari, kalau kamu ada di sini?." tanya Malika.


"Sudah Tante, Bunda sebentar lagi sedang dalam perjalanan ke sini."


"Oh iyah, tapi kamu tidak menceritakan tentang kejadian semalam kan kepada Bunda mu?."


"Tidak Tante, Aisyah meminta Bunda untuk datang ke sini saja, biar nanti Aisyah cerita kalau Bunda ada di sini."


Malika menganguk mendengar penuturan Aisyah.


"Adit kamu sudah punya konsep yang bagus belum? jangan nyantai aja, waktu cepat sekali berputar." ucap Malika yang sudah tak sabar melihat anak lelaki nya menikah.


"Sudah Mah, aku dan Aisyah sudah sepakat tentang konsep nya. Nanti kita tinggal bilang aja sama Wo yang Mama pilih." Aditya membalas ucapan Mamah nya kemudian tanganny berselancar di ponselnya.


"Hah!."


Mata Adit tiba-tiba melotot ketika melihat postingan di sebuah grup berita kota yang ada di media sosial.


[Di Cari Bandar narkoba dan obat-obat terlarang lainnya. Jika ada yang melihat pria yang ada di gambar ini. Silahkan hubungi ponsel terdekat.]


Postingan yang di unggah dua jam lalu itu mengupload foto Dimas dengan jelas.


"Kenapa Kak? kok kaget gitu?." tanya Aisyah yang melihat perubahan raut wajah Aditya.


"Ini loh Sya, Dimas viral di media sosial?." Aditya menyerahkan ponsel nya pada Aisyah.


"Astaghfirulloh... sejak kapan Mas Dimas jadi bandar narkotika gini Mas." tanya Aisyah.


"Ngga tahu Sya, mungkin baru-baru ini, padahal dia masih dalam masa percobaan tapi dia nekat melakukan segala cara agar dia bisa kaya." celetuk Aditya.


"Itu berarti Mas Dimas tidak bisa kemana-mana dia sudah jadi buronan." ucap Aisyah.


'Kali ini kamu ngga bakalan bisa lolos Dimas' batin Aditya dengan semangat yang membara.


***


Bastian memperhatikan Gisel yang duduk di hadapannya. Wanita tercinta nya itu pun ikut menatap nya.


"Kenapa kamu melihat ku seperti itu Mas?. Apa ada yang salah dengan wajahku?." tanya Gisel Refleks menyentuh wajahnya.

__ADS_1


Bastian menggeleng pelan. Ia terlihat


"Kamu cantik!." seru Bastian tersenyum.


Gisel mengalihkan wajahnya ke arah kiri. Menyembunyikan rona jambu yang berasa panasnya wajah akibat ucapan suami nya itu.


"Ngga usah gombal in aku Mas. Gak bakalan terpengaruh aku tuh!." Maira berucap sambil menarik tangannya yang berada dalam genggaman Bastian.


Tidak lama kemudian, Bi Sumi Assisten rumah Bastian datang menghampiri kedua majikan nya itu.


"Maaf Tuan permisi!."


"Ada apa Bi?." tanya Bastian.


"Ada paket untuk Nona Gisel."


Gisel mengerutkan alis karena bingung, perasaan dia tidak pesan online.


"Dari siapa Bi?." tanya Gisel.


"Tidak tercantum nama nya, Nyonya. Ini tadi sudah ada di depan pintu." Jawab Bi Sumi seraya menyerahkan sebuah kotak kepada Gisel.


Gisel menerima paket itu seraya mengucapkan terima kasih kepada Bi Sumi."Oh Baiklah Bi, terima kasih."


ddrtt,


"Maaf Sayang, aku terima telepon dulu. Nanti kita buka paket ini sama-sama."


Gisel mengiyakan kemudian Bastian meninggalkan ruangan itu untuk menerima telepon dari seseorang.


Karena penasaran dengan isi paket ini, Gisel bergegas membuka nya. Dia terlihat tidak sabar untuk melihat isi paket misterius itu.


Gisel terbelalak membuka isi paket tersebut. Isi nya adalah gambar-gambar persetubuhan Gisel bersama Dimas ada juga rekaman vidionya. Wajah keduanya begitu jelas, tanggal, bulan dan tahun nya pun terpampang di sana.


"Ini...?" Gisel kehabisan kata-kata.


Kemudian ada pesan email masuk ke dalam ponsel Gisel. Gisel membuka isi email itu dari anonim, email itu berisi rekaman vidio panas dirinya dan juga Dimas.


"Ini..." Gisel sudah tak mampu lagi mengatakan apa-apa. Nampak sekali ia syok dan juga terkejut.


Seseorang sedang mengamati ekspresi terkejut nya Gisel itu kemudian tersenyum penuh misteri. Lalu ia melangkah menghampiri Gisel.

__ADS_1


"Sayang!." ucap Bastian.


Gisel yang mendengar suara Bastian, buru-buru menyembunyikan gambar-gambar dan rekaman itu. Ia memasukkan itu semua ke dalam kantong miliknya.


"Kau sudah membuka paket nya, Sayang?." tanya Bastian pura-pura tidak tahu apapun.


"Hhmm bukan apa-apa, Sayang hanya orang iseng." Jawab Gisel.


"Orang iseng?." tanya Bastian.


"Iyah, nggak usah di pikirkan Mas. Lebih baik kita ke kamar sudah malam aku ngantuk, Ayo." Ajak Gisel seraya menarik lengan Bastian untuk mengikuti nya masuk ke dalam kamar mereka di lantai 2.


***


Bastian dan Gisel merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Gisel tidak benar-benar tidur. Dia hanya pura-pura tidur saja karena ia terus memikirkan siapa yang mengirim nya paket tersebut. Siapa pelaku ? dan apa motif nya? itulah yang ada di pikiran Gisel saat ini. Namun ia berusaha untuk berpura-pura tidur, ia ingin menemui Dimas malam ini setelah Bastian tertidur.


Bukannya tidur, Bastian malah memiringkan tubuhnya dan menjadikan tangan sebagai tumpuan kepala agar lebih tinggi dan bisa leluasa menatap wajah istrinya.


"Kamu cantik sekali," gumam nya. 'Tapi kamu mengkhianatiku lagi, setelah aku memberikan segalanya' ujar Bastian dalam hati.


Bastian menatap wajah Maira yang berubah nama menjadi Gisel atas saran dari nya. Karena nama Maira sudah buruk di mata masyarakat. Berubah nya wajah Maira berubah juga nama menjadi Gisel. Tapi tidak menyangka Gisel akan melakukan itu lagi kepada namanya.


'Kenapa aku bisa-bisa nya mencintai wanita ini? dia hanya wanita ular yang hanya memanfaatkan harta kekayaan mu dari pada cinta tulus Mu. Kau bodoh Bastian!,' maki Bastian pada dirinya sendiri.


Bastian mendekat dan menciumi wajah Gisel untuk terakhir kali nya. Perlakuan Bastian membuat Gisel terbangun.


"Mas!." bentak Gisel dengan mata memerah. Ia lantas duduk seraya memijat kepala nya yang pusing. "Kamu ngapain sih? kamu nggak lihat kalau aku lagi tidur?." sentaknya. Ia kesal karena tidurnya terganggu. Hal yang paling ia benci adalah ketika waktu istirahatnya di ganggu meski oleh suaminya sendiri.


Moment ini biasanya membuat Bastian gemas, namun tidak untuk sekarang. 'Tunggu saja pembalasanku Maira, karena kamu sudah terlalu lama mempermainkan hatiku. Kamu dan Dimas akan ku beri pelajaran yang tidak akan bisa kamu lupakan', batin Bastian namun bisa tersenyum di hadapan Gisel.


Bastian ikut duduk, di sentuhnya pundak Gisel dan di pijatnya pelan. "Maafkan aku, Sayang. Aku tidak sengaja membangunkanmu." sahutnya pelan.


Gisel menatap Bastian dengan pandangan tajam.


'Berani nya dia menatapku tajam', batin Bastian menyembunyikan kekesalan dalam hatinya, namun berpura-pura lembut di depan Gisel.


.


.

__ADS_1


.


bersambung...


__ADS_2