Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 86 Hari bahagia Part 1


__ADS_3

Hari H pernikahan Aisyah dan Aditya


Segala keperluan pernikahan sudah dilakukan sebaik mungkin. Gedung yang di sewa untuk tempat jalannya acara, sudah di dekorasi, di hias dengan apik nan sempurna.


Bunga-bunga artificial berwarna ungu muda, pink dan putih menggelayut sepanjang dinding ruangan, juga di tengah tiang-tiang penyangga. Warna yang manis dan romantis itu menjadi primadona hari ini sesuai dengan permintaan sang calon pengantin perempuan.


Tak lupa aneka hiasan pita yang di pasang menjuntai menambah kesan keindahan yang tiada terkira, serta jamuan makanan serta kue-kue yang di hiladangkan dalam meja para tamu.


Lampu kerlap-kerlip warna gold dan juga warna pelangi ikut memeriahkan suasana pesta, menunjukkan bahwa hari ini pesta mewah dan besar-besaran segera di mulai.


Dentuman suara musik dan lagu klasik pun mulai terdengar memenuhi ruangan.


Semua persiapan sudah di atur sedemikian rupa agar semuanya berjalan dengan lancar.


Tamu yang di undang oleh Sonya dari pihak perempuan dan Malika dan Bagas Wijaya pun tak main-main, mereka mengundang semua kolega bisnis, orang-orang kaya dan berkelas, dan orang-orang yang berada di level atas. Belum dari teman, sahabat, rekan kerja dari kedua mempelai menambah meriah nya pesta pernikahan Aisyah dan Aditya. Tamu yang datang pun di sesuaikan dengan jadwal yang sudah di tentukan oleh pihak WO.


.


.


.


.


Keluarga dari pihak kedua mempelai sudah berkumpul sebelum acara di mulai. Semua tertawa bergembira seolah kebahagiaan milik mereka selamanya.


Kebaya brokat warna abu-abu dan hiasan payet di bagian dada dan ujung kebaya menjadi seragaman keluarga untuk perempuan sedangkan yang laki-laki memakai kemeja batik dengan corak hitam dan abu-abu.


.


.


.


Di salah satu kamar; masih berada di gedung itu, Aisyah sedang di make up oleh seorang MUA yang begitu terkenal. MUA itu di undang langsung oleh Malika dari Jakarta. Karena biasanya dia memakaikan make up untuk para artis, jadi tidak usah di ragukan lagi dengan pekerjaan nya. Pokoknya apapun itu mereka menginginkan yang terbaik untuk keberlangsungan acara ini.

__ADS_1


Aisyah hampir selesai di make up oleh tim MUA begitu juga dengan Sonya.


"Done!." ucap Salsabila, MUA yang merias wajah Aisyah.


"Cantik sekali kamu." ucap nya dengan bangga saat melihat hasil coretan di wajah Aisyah. Sang Assisten pun ikut tersenyum turut bahagia karena make up Aisyah telah selesai.


Adel tersenyum melihat Aisyah yang benar cantik seperti yang di katakan oleh perias itu.


Sonya menghampiri anaknya dan mengusap bahu nya. Senyum nya sulit di artikan antara bahagia atau sedih. Tatapan nya begitu dalam pada Aisyah. Berbagai doa tentang kebaikan semua di rapalkan untuk rumah tangga sang anak nanti.


Masalah makanan atau catering semua di handle oleh Tim jasa WO profesional.


***


Para tamu yang hadir begitu antusias dan ikut merasa suka cita dengan pertunjukan lengser saat penyambutan pengantin Pria. Sonya mengalungkan bunga pada Aditya dan Malika menyerahkan simbolis seserahan berupa satu set perhiasan yang akan di pakai sebagai mas kawin nanti.


Pertunjukan Ki Lengser membuat semua orang tertawa, terharu dan menangis. Apalagi saat MC memberikan satu dan dua patah kata saat Sonya mengalungkan bunga itu.


Keluarga Aditya di persilahkan untuk duduk di kursi yang sudah di persiapkan. Acara akan segera di mulai dari sambutan dari kedua belah pihak, pembacaan Ayat suci Alquran dan kini acara yang di nanti adalah acara Ijab Qobul.


Semua mata tertuju pada Aisyah yang memakai kebaya putih dan kain warna coklat. Di atas kepala nya ada mahkota yang di sebut Singer Sunda. Dia melangkah dengan malu karena dia tahu saat ini semua mata tertuju padanya. Tak terkecuali Aditya, takjub dan merasa beruntung mendapatkan wanita secantik Aisyah. Malika segera mencubit putranya agar tidak bengong hingga Aditya meringis.


Aisyah di papah oleh Adel dan Rina ke tempat di mana Aditya dan para saksi pernikahan juga Bapak Penghulu berada. Pernikahan mereka menggunakan wali hakim karena Ayah Aisyah sudah meninggal.


Aisyah duduk di samping Aditya dengan perasaan campur aduk. Apalagi kini Aditya yang kini tengah was-was. Namun dia terlihat tenang biasa saja, di samping kanannya ada Malika dan Bagas Wijaya, begitupun di samping Aisyah ada Sonya dan dua orang saksi.


"Sudah siap?." tanya penghulu memandang ke dua mempelai.


"Sudah." Kedua nya menganguk dan serempak menjawab.


"Saudara Aditya Wijaya bin Bagas Wijaya! saya nikahkan dan kawanan engkau dengan saudari Aisyah Saraswati Binti Alm. Bramastya. Dengan mas kawin lima puluh gram logam mulia, dua puluh tiga gram set perhiasan, o, 27 karat berlian dan uang tunai seribu dua ratus sepuluh ribu dolar dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Saraswati Binti Alm Bramastya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." hanya dengan satu halaman nafas Aditya mengucapkan Ijab Qobul dengan hati deg-degan.


Malika dan Bagas mengucapkan Alhamdulillah saat Aditya begitu lancar melaksanakan akad. Tak ada pengulangan, tak ada keraguan; terlihat kesungguhan dan ketulusan cinta Aditya begitu sangat besar.

__ADS_1


"Sah para saksi?." tanya Bapak penghulu.


"Sah, Sah, Sah." Bukan hanya para saksi yang menjawab tapi hampir semua orang yang hadir menjawab. Membuat Aditya tersenyum lega begitu pun Malika dan Bagas juga Adel. Mereka begitu bangga pada Aditya.


Aisyah dan Aditya menandatangani sebuah berkas dan surat nikah mereka. Kini Aditya telah berhasil memiliki seutuhnya diri Aisyah dengan halal.


***


Di tengah kebahagiaan Aditya dan juga Aisyah. Dua orang manusia terkapar tak berdaya beralasankan keramik dingin dan kotor. Mereka adalah Dimas dan Maira.


Maira tersadar, matanya terbelalak kala ia melihat dirinya di ikat bersama dengan Dimas yang sedang tak sadarkan diri.


Sebelumnya orang-orang suruhan Bastian mencari Dimas di tempat persembunyiannya, rumah sewa Gisel alias Maira.


"Mas Dimas bangun, Mas!." panggil Maira membangunkan Dimas.


Berkali-kali Maira memanggil Dimas, namun ia juga belum juga tersadar. Maira mencoba melepaskan ikatan tali yang ada di tangannya. Namun hasilnya nihil, pengikat tali itu sangatlah kuat.


"Sialan! Kenapa kenceng banget gini sih tali nya." geritu Maira.


Brak!.


Pintu gerbang di buka dengan kasar oleh Bayu dan di susul oleh dua lelaki bertubuh kekar tadi.


"Sudah bangun rupanya?." ujar Bayu mendekati Maira.


"Jangan dekat-dekat mau apa kamu?." Seru Maira masih dalam keadaan tangan terikat, menggerakkan pantat nya sedikit mundur hingga punggung nya menempel dengan tembok.


Bayu tersenyum, "Ngga usah jual mahal, Manis." ucapnya masih tetap berjalan ke arah Maira yang ketakutan.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2