
"Syukurlah, dan seperti nya mereka saling suka." goda Malika.
"Iih apaan sih. Mah!." ucap Aditya sedangkan Aisyah pipinya kini bersemu merah karena malu.
"Cepetin halalin kalau kalian saling suka, jangan lama-lama. Mamah pengen cepet punya cucu." ucap Malika yang terus saja menggoda Aditya dan Aisyah.
"Bener Djeng Malika, kalau Aisyah kerja saya di rumah gak akan kesepian. Pasti akan ramai sama cucu." lanjut Sonya.
Aisyah dan Aditya tidak bisa berkata apa-apa. Ada rasa canggung di antara mereka, bingung bagaimana mereka harus bersikap di tengah godaan orang tua mereka.
"Mamah sama Tante Sonya itu berniat untuk menjodohkan kamu dengan Aisyah. Kamu mau kan Dit?." ujar malika menatap putra nya yang sejak tadi hanya bisa menunduk.
Degh!.
Aditya yang di tanya seperti itu tentu saja langsung mendongak, dia menatap Mamahnya dengan tatapan tak percaya. Ada rasa senang yang membuncah di hatinya, tentu saja jika ia tidak memikirkan rasa malu. Maka dia akan melompat kegirangan saat ini juga.
"Dit, gimana kamu mau kan?". tanya Malika menatap sang putra yang masih saja diam kemudian dia beralih menatap Aisyah yang juga sama-sama diam.
"Kalau kamu bagaimana Aisyah?, Maukan kamu jadi menantu Tante?." tanya Malika dengan tatapan penuh harap kepada Aisyah.
"Hhmmm, Mah mungkin aku sama Aisyah perlu bicara berdua dulu, karena ini menyangkut masa depan kami." ucap Aditya yang melihat Aisyah merasa tidak nyaman dengan pertanyaan sang Mamah.
Di samping itu Sonya paham dengan dengan kegelisahan putrinya saat ini, bagaimanapun perjodohan ini begitu tiba-tiba untuknya, walaupun Aisyah dan Aditya sudah kenal lama. Namun untuk menjalani biduk rumah tangga merupakan keputusan yang sangat besar. Sonya tidak ingin Aisyah kembali gagal dalam menjalani kehidupan rumah tangga, dia berharap Aisyah menemukan pasangan yang cocok yang mencintai Aisyah dengan tulus sebelum ajal menjemputnya. Setidaknya dia akan tenang, Aisyah tidak sendiri.
__ADS_1
Untuk itu dia menyerahkan semua keputusan kepada putrinya, Apakah Aisyah akan menerima perjodohannya bersama Aditya atau tidak.
"Aisyah!," panggil Sonya pada putrinya "Bunda tidak akan memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini, Bunda akan menerima apapun keputusan kamu!."
"Ya sudah kalian bicarakan saja dulu!. Kita menerima apapun keputusan kalian!." ujar Malika memberikan mereka privasi untuk bicara berdua.
Aisyah langsung bergegas bangun dan di ikuti Aditya yang mengekor di belakangnya. Dalam hati Aditya bertanya apakah Aisyah akan menerima perjodohan ini atau tidak?, hati nya berdegup kencang takut dengan keputusan yang akan di ambil Aisyah. Namun Aditya berharap bahwa cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan.
Aisyah menduduki diri di kursi teras, dia duduk di kursi tunggal. Sedangkan Aditya duduk di kursi yang muat untuk dua orang. Dia duduk di ujungnya sehingga Aisyah dan Aditya tidak berdekatan. Ada jarak sekitar satu setengah meter yang memisahkan mereka.
Sebagaimana Aditya ingin berdekatan dengan Aisyah, tapi dia tidak akan pernah mengabaikan norma-norma agama dan dia yakin Aisyah pun tidak akan mau berdekatan dengannya tanpa ada ikatan halal di antara mereka.
Semilir angin malam menerpa keduanya, mereka masih membisu dalam keheningan, baik Aditya maupun Aisyah belum ada mengeluarkan satu kata pun sedari tadi. Aisyah sendiri masih menatap jalanan yang masih ada sedikit orang yang berlalu lalang dan juga sepeda motor di sana karena malam belum begitu larut.
Namun Aditya tidak bisa menahan rasa penasaran lebih lama lagi, menatap wajah Aisyah memang hal yang menyenangkan. Tapi dia ingin mengetahui keputusan apa yang akan di ambil Aisyah.
"Aisyah, apa kamu mau menerima perjodohan ini?" tanya Aditya penuh kehati-hatian.
Aisyah yang semula menatap ke arah depan Spontan menoleh menelisik wajah Aditya dengan seksama. Dia bisa melihat ada binar cinta untuknya ada di sana, tapi.... apakah cinta saja sudah cukup?.
"Tunggu!, sebelum kamu jawab. Aku ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintai kamu, entah kapan rasa itu ada, tapi yang jelas aku tidak pernah berhenti memikirkanmu!.". Ungkap Aditya sedikit terbata-bata karena gugup.
Aisyah tertegun dengan apa yang di katakan Aditya, seumur hidup Aisyah belum pernah ada yang mengungkapkan rasa cinta nya kepadanya, meskipun itu dari mantan suami nya.
__ADS_1
Bramastya sangat protektive terhadap Aisyah bahkan Aisyah tidak pernah di izinkan untuk keluar atau sekedar nongkrong bersama lawan jenis. Hingga perjodohan dengan Dimas berlangsung, itupun Aisyah menerima karena terpaksa bukan karena cinta.
Entah kenapa ada ludah yang mengumpal di lehernya, sehingga dia merasa kesulitan dalam mengeluarkan suara. Aisyah berdehem beberapa kali. Tentu saja tidak ingin terlihat bodoh di hadapan Aditya. Dia berusaha menetralisir degup jantung yang berdetak saat mendengar ungkapan cinta Aditya.
"Aisyah kamu kenapa?," tanya Aditya dengan nada khawatir.
Bagaimana laki-laki ini tidak khawatir, wong wanita di depan nya ini kelihatan seperti kesusahan. Aisyah berkali-kali terlihat menelan ludah dan wajah cantik uang tadi nya tenang berubah menjadi gusar. Apakah ada yang salah dengan pernyataan cintanya?,
"Kak Adit?." lirih Aisyah pelan namun masih bisa di dengar Aditya.
Aditya menatap dengan fokus Aisyah, dia mendengarkan apapun yang akan Aisyah katakan tanpa berniat menyela sedikitpun. Dalam hati nya harap-harap cemas dengan apa yang akan Aisyah katakan.
"Kak Adit, apa yang ka Adit suka dari saya?." tanya Aisyah.
"Hhmm, apa perlu alasan untuk menyukai seseorang?." tanya Aditya balik. "
Aisyah menghela nafas panjang, dia merasa kalau pembicaraan kali ini akan sulit di lakukan karena terlihat jelas kalau Kak Adit saat ini menatapnya dengan penuh kesungguhan.
"Kak Adit tahu kan kalau saya seorang janda?, dan status janda memiliki pandangan buruk bagi masyarakat. Terlebih wanita seperti saya tidak pantas di sandingkan dengan Kak Adit yang sempurna. Saya tidak ingin gagal dalam berumah tangga lagi karena saya tidak ingin mengecewakan Bunda saya."
"Saya tidak peduli dengan pandangan orang atau apapun yang mereka katakan. Saya hanya memilih kamu untuk menjadi pendamping hidup saya. Terlepas dari apapun status yang kamu sandang, kamu adalah seorang wanita yang baik, cantik, berbudi luhur, dan tentu saja saya mencintai kamu apa adanya." Kata Aditya dengan nada tegas.
Saat mendengar kata-kata itu, tentu saja Aisyah menjadi tertegun. Dia menatap Aditya dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun tak lama senyum tersunging di bibir nya yang mungil.
__ADS_1
*** MOHON BANTU LIKE DAN KOMENT YAH ***