Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
[54] Nasihat Edmund


__ADS_3

"Yah Mamah gak menyangka Papahmu pulang cepat,"


Sindy menghela nafas, karena nafsu Mamah nya tidak bisa berpikir. Bagaimana bisa membawa selingkuhan ke rumah sudah pasti akan ketahuan karena Papah selalu ada di rumah.


"Jadi rencana Mamah sekarang apa?" tanya Sindy.


"Kamu carikan tempat tinggal untuk Mamah, dan kamu bujuk Papah kamu untuk menerima Mamah kembali!."


Sindy menganguk menyanggupi permintaan Mamahnya, karena sebenarnya dia tidak ingin Mamah dan Papahnya bercerai. Walaupun keadaan Papahnya tidak seperti dulu, tapi ia sangat menyanyangi Papahnya.


"Ya sudah sekarang kita cari kontrakan untuk Mamah yah,!" Ajak Sindy setelah selesai makan dan ia membayar makanannya lalu keluar dari Restaurant.


"Tapi Mamah pengen kontrakan yang besar yah, yang ada Ac nya!"


Sindy menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mamah nya yang ada di belakangnya.


"Apa Mamah punya uang?" tanya Sindy.


Ruli menggeleng,


"Ya sudah aku cari kontrakan yang murah aja dulu. Sindy gak bisa sewa kontrakan yang mahal," ucap Sindy berbalik kembali berjalan ke depan.


Di belakang Sindy, Ruli mendengus kesal sambil terus aja menggerutu.


"Punya anak dua tapi gak ada yang bisa nyenangin Ibu nya di masa tua, yang satu di penjara yang satu gak bisa nurutin kemauan Mamahnya."


Sindy mendengar omongan Mamahnya dan berbalik kembali dan berkata "Kalau Mamah gak mau ya sudah, Sindy gak bisa nolongin Mamah. Karena Sindy gak punya uang buat sewa kontrakan mahal."


"Ya sudah Mamah terpaksa menerima tawaran kamu." ucap Ruli lalu berjalan mendahului Anaknya daripada dia harus tidur di pos kamling lagi jadi lebih memilih menerima tawaran Sindy.


Sindy mencari kontrakan untuk Mamahnya lalu setelah menemukan kontrakan, Sindy langsung pamit untuk pulang dan bergegas menemui Papahnya.


"Pokoknya kamu yakinkan Papah kamu supaya mau menerima Mamah lagi."


"Iya." Sindy pun keluar dari kontrakan dan pulang ke rumahnya menggunakan Taksi.


Sesampainya di rumah, dia masuk ke rumah tanpa sepi karena mungkin Papahnya sedang di kamar.


"Suster Renata, Papah dimana?," tanya Sindy pada wanita yang memakai baju suster itu.


"Lagi di kamar Mba" Jawab Suster Renata.


"Oh yah aku ke kamar Papah dulu."

__ADS_1


***


Tok


tok


tok


"Pah..." ucap Sindy.


Hening, tidak ada jawaban.


Tok


Tok


Tok


Sekali lagi Sindy mengetuk pintu.


"Papah, ini Sindy Pah. Sindy mau bicara sebentar sama Papah." Sindy berbicara dengan lebih keras.


"Masuk saja." sayup-sayup terdengar suara dari dalam.


Ceklek!,


Pintu kamar ternyata tidak di kunci. Sindy masuk dan menutup kembali pintu kamar.


"Baguslah kamu sudah pulang, kemana saja sih kamu. Anak gadis kok kelunyuran tiap malam dan sekarang baru pulang, Hah?" Sahut Edmund saat yang muncul di pintu itu adalah putrinya.


Sindy terdiam sesaat, memikirkan alasan apa yang akan dia katakan pada Papahnya. Lalu Sindy menghampiri Edmund yang sedang berbaring di ranjang.


"Kerja apa yang membuat karyawan nya tiap hari pulang malam, bahkan sekarang sudah pagi."


"Sindy lembur kerja, Pah. Karena sudah malam Sindy menginap di rumah teman." Jawab Sindy berbohong walaupun sebenarnya dia tidak sepenuhnya berbohong karena emang benar dirinya menginap di rumah temannya. Tapi temannya itu laki-laki.


Edmund mengalihkan pandangannya ke arah lain tidak ingin menatap sang putri, "Papah tidak percaya,"


"Ya sudah kalau Papah gak percaya, sebenarnya Sindy cape dengan keadaan keluarga kita. Seharusnya Sindy masih tetap kuliah, tapi karena keadaan Sindy memutuskan untuk berhenti dan bekerja untuk membayar obat Papah juga." ucap Sindy mencari simpati Edmund. Dia menunduk dan sedikit meneteskan air mata.


Edmund merasa bersalah dan menoleh pada anaknya.


"Maaf kan Papah karena kondisi Papah seperti ini kamu harus bekerja."

__ADS_1


Kena kan, dalam hati Sindy tersenyum. Dia berhasil mengambil simpati Papahnya. Padahal uang yang selama ini ia dapatkan seringnya dipakai untuk berpoya-poya.


"Tapi Papah tidak ingin kamu bekerja dengan cara yang haram, sudah cukup kakakmu di penjara akibat perbuatannya. Tidak dengan kamu!" Edmund tahu tabiat putrinya itu, sebelas dua belas sama Istrinya, selama ini putri dan Istrinya sedikit pun tidak pernah mau membantu apalagi bekerja, kerjanya hanya untuk belanja dan belanja.


"Apa Papah masih tidak percaya sama Sindy?" tanyanya dengan nada seperti orang yang sakit hati mendengar ucapan Papahnya.


Edmund diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Sindy.


"Sindy ke sini cuman bertanya sesuatu pada Papah, tapi Papah sudah menuduh Sindy yang tidak-tidak. Sindy tidak menyangka Papah tega berbicara seperti itu pada Sindy." ucap Sindy.


"Maaf kalau Papah menuduh kamu tanpa bukti, tapi Papah berharap kamu tidak seperti Ibumu yang hobi berzina. Papah tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari."


"Ini pesan seorang Papah pada putrinya, kamu harus bisa menjaga kehormatan mu sebagai wanita. Kamu putri Papah satu-satu nya, Papah sangat menyanyangi kamu. Apa yang Papah katakan itu untuk kebaikan kamu juga." ucap Edmund dengan nada lembut. Dia tidak ingin putrinya melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya nanti. Dia sebagai Papah wajib untuk menasihati putrinya. Dia tidak ingin di cap sebagai orang tua yang gagal dalam mendidik anak-anaknya, Edmund tidak ingin Sindy seperti putra sulungnya yang membuat ia kecewa.


Sampai sekarang Edmund masih merasa bersalah kepada Aisyah dan keluarga nya atas sikap putra sulungnya itu. Dia juga tidak sepenuhnya menyalahkan Dimas, karena mungkin Dimas seperti itu karna kurangnya didikan darinya. Edmund terlalu terpuruk dengan kejadian kecelakaan yang menimpanya yang membuat dia lumpuh.


Mendengar nasihat Papahnya, hati Sindy sedikit luluh. Sindy tahu apa yang ia lakukan selama ini salah apalagi semenjak Kakaknya di penjara, dia mulai merayu dan menggoda pacar teman kuliahnya dan mengambil uang mereka.


Tapi Sindy tidak peduli yang penting ia dapat uang dan bisa memuaskan gaya hidupnya.


"Sekarang apa yang mau kamu katakan tadi?" tanya Edmund.


"Apa kamu penasaran kenapa Papah tega mengusir Mamah kamu?, Mamah kamu itu memang pantas mendapatkannya, dia bukan istri yang baik. Kamu tahu sendiri kan, kamu juga sudah melihatnya kan. Apalagi semenjak kecelakaan itu terjadi Mamah kamu tidak pernah mau mengurusi Papah lagi. Selama ini Papah tahu kalau Mamah kamu sering jalan dengan berondong, tapi Papah tidak bisa berbuat banyak karena keadaan Papah yang seperti ini.


Dan puncaknya Mamah kamu melakukan itu di kamar kami saat Papah tidak ada, di tambah mengingat sikap Mamah kamu dulu yang menyakiti Aisyah membuat Papah tidak bisa bersabar lagi dalam menghadapi Mamah kamu. Jadi Papah memutuskan untuk mengusir Mamah kamu dengan bantuan para tetangga supaya dia sadar apa yang Mamah kamu lakukan itu salah."


Sindy mendengarkan semua apa yang menjadi keluh kesah Papah nya selama ini.


"Kalau kamu jadi Papah, bagaimana perasaan kamu saat pasangan kamu mengkhianati kamu, mengabaikanmu dan tidak peduli kepadamu?"


Deg,


Sindy terkejut dengan ucapan Papah nya, pasalnya dia ada di pihak orang yang mengkhianati temannya dengan mengencani pacar mereka.


Apakah mereka juga merasakan hal yang sama seperti apa yang di rasakan Papahnya, batin Sindy bertanya.


Sindy jadi merasa bersalah pada Papah nya karena selama ini dia juga tahu kalau Mamah nya sering pergi kencan bersama berondongnya, tapi Sindy tidak pernah mau membantu Papahnya atau mencoba menasihati Mamahnya karena dirinya terlalu sibuk dengan dunia nya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2