Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
[66] Menyakinkan Aisyah


__ADS_3

"Kak Adit tahu kan kalau saya seorang janda?, dan status janda memiliki pandangan buruk bagi masyarakat. Terlebih wanita seperti saya tidak pantas di sandingkan dengan Kak Adit yang sempurna. Saya tidak ingin gagal dalam berumah tangga lagi karena saya tidak ingin mengecewakan Bunda saya."


"Saya tidak peduli dengan pandangan orang atau apapun yang mereka katakan. Saya hanya memilih kamu untuk menjadi pendamping hidup saya. Terlepas dari apapun status yang kamu sandang, kamu adalah seorang wanita yang baik, cantik, berbudi luhur, dan tentu saja saya mencintai kamu apa adanya." Kata Aditya dengan nada tegas.


Saat mendengar kata-kata itu, tentu saja Aisyah menjadi tertegun. Dia menatap Aditya dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun tak lama senyum tersunging di bibir nya yang mungil.


"Terlebih pihak keluarga kita merestui, apa yang kamu takut kan, Aisyah?." tanya Aditya lagi.


Aisyah menggeleng,


"Apa aku kurang baik." tanya Aditya sekali lagi dengan tatapan menelisik


"Tidak bukan seperti itu, Kak Adit laki-laki sempurna, baik hati dan mapan. Pasti banyak wanita single yang mau menjadi pendamping Kak Adit, bukan saya yang status nya seorang janda."


"Dengar Aisyah, Saya tidak memperdulikan apapun status kamu. Jadi kamu tidak usah mempermasalahkannya, Yah?. Aku mencintai kamu apa adanya." Jujur Aditya.


"Baiklah mungkin kamu butuh waktu, saya akan menunggu kamu!. Tapi tolong jangan buat saya menunggu terlalu lama, di samping karena umur saya yang tidak muda lagi, Mamah dan Bunda kamu juga sangat mengharapkan kita bersatu." ucap Aditya dengan seutas senyum manis.


Aditya beranjak meninggalkan Aisyah yang masih duduk. Kemudian menghampiri sang Mamah untuk berpamitan pulang karena hari sudah larut malam.


"Gimana?." tanya Malika.


Hanya di balas dengan senyuman oleh Aditya.


"Baiklah Djeng kami berdua pamit dulu sudah malam." ucap Malika beranjak dari sofa.


Aditya juga ikut pamit kepada Bunda nya Aisyah dengan mencium punggung tangan Sonya. "Adit pamit Tante."


"Iyah Nak hati-hati yah." Aditya tersenyum lalu mengikuti Mamah nya di belakang. Pada saat mereka sudah sampai di luar, ternyata Aisyah masih duduk di teras dengan pandangan nya tetap lurus ke depan.


"Aisyah, Tante pamit pulang dulu yah." ucap Malika menyadarkan Aisyah dari lamunannya.


Sontak Aisyah berdiri lalu menghadap Malika. "Iyah Tante." ucap Aisyah lalu mencium punggung tangan Malika.


Malika tersenyum, Aisyah emang sejak dulu tidak pernah berubah. Dia anak yang sopan.


Kehidupan Malika sebelum menjadi bagian dari keluarga Wijaya memiliki keterbatasan ekonomi, namun Aisyah sejak kecil selalu bersikap sopan kepada dirinya yang usia nya lebih tua dari nya. Tanpa memandang strata sosial mereka yang berbeda. Malika sendiri bersyukur Adel memiliki sahabat sebaik dirinya sesholeh Aisyah.


***


Beberapa hari setelah pernyataan cinta Aditya kepada Aisyah. Tiap malah Aisyah gelisah tak jarang Aisyah bangun kesiangan karena memikirkan itu semalaman.


Sudah satu tahun dia menyandang status janda. Apakah dia akan merubah status nya itu, Namun sebetulnya dirinya masih ragu untuk berumah tangga kembali.

__ADS_1


Aisyah pun selalu meminta pendapat Bundanya. Tapi Bundanya selalu bilang, 'Keputusan ada di tangan kamu, Bunda hanya berharap kamu tidak terlalu lama sendiri.'


.


.


.


Saat ini Aisyah sedang berada di ruang kerjanya di Butik. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


Tok...Tok...Tok


"Masuk!." teriak Aisyah dari dalam ruang kerjanya.


"Maaf Bu, Ada tamu ingin bertemu dengan Ibu." ucap Rina.


"Siapa?."


Belum juga di jawab oleh Rina, seorang wanita paruh baya yang berada di belakang Rina maju kedepan, sehingga Aisyah bisa mengenali siapa tamu yang di maksud Rina itu.


"Tante?." ucap Aisyah lalu menghampiri Malika dan mencium punggung tangan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya kini. Malika pun tersenyum melihat sambutan dari Aisyah.


"Aisyah ga papa kan Tante mampir ke sini?." tanya Malika.


"Tante mau minum apa?." tanya Aisyah pada Malika.


"Apa aja."


"Rin, bawakan kami minuman yah!." ucap Aisyah pada Aisyah.


"Baik, Bu!." ucap Rina lalu berlalu meninggalkan ruang kerja Aisyah.


Aisyah dan Malika larut dalam obrolan hangat, mereka bahkan membicarakan tentang masa lalu mereka, seputar mengenai bisnis dan banyak hal yang dibicarakan.


Sampai kepada pembicaraan serius.


"Boleh saya tanya sesuatu sama kamu, Aisyah?." ucap Malika membuat Aisyah deg deg - an.


"Boleh Tante!."


"Apa kamu mencintai Aditya?."


"Hah!." Aisyah menganga mendengar apa yang di katakan Malika.

__ADS_1


"Sa-saya." Aisyah menggantung jawaban yang di nanti Malika. Karena dia sendiri belum tahu dan belum yakin akan bisa menerima Aditya dengan cepat. Dalam lubuk hati yang paling dalam dia masih bimbang takut mengambil keputusan yang salah.


"Kamu ragu?. Tante tidak akan memaksa, yang saya tahu sejak saya menjadi Ibu sambungnya, Aditya anak yang baik, lembut dan saya yakin dia akan meratukan dirimu, sama seperti halnya Ayahnya yang meratukan saya. Jadi kamu jangan takut Tante akan banyak menuntut. Kamu sudah mengenal Tante sejak lama, Tante hanya ingin cintai dia dengan sepenuh hati. Kamu panggil Tante, Mamah yah! biar akrab!. Mamah akan sangat berterima kasih sekali jika kamu mau menerima Aditya!." ucap Malika dengan tegas. Dia tidak mau membuat anaknya patah hati, walaupun dirinya hanya Ibu tiri namun Malika sangat menyanyangi Aditya seperti anak kandungnya sendiri.


Kini dia yang akan menyakinkan dan menjamin bahwa Aisyah akan hidup bahagia bersama Aditya.


Aditya sangat mengindolakan Ayahnya jadi sudah tentu sikap ke Istrinya nanti tidak akan beda jauh dengan sikap Bagas kepadanya. Karena Malika dan Bagas tidak pernah bertengkar hebat di hadapan anak-anaknya ataupun belakang anak-anaknya. Perselisihan yang terjadi antara Malika dan Bagas hanya sebatas beda pilihan membeli barang atau saat membaca Google maps di jalan.


Pernikahan Bagas dan Malika tidak pernah di warnai dengan pertengkaran, belajar dari masa lalu mereka pernah gagal dalam berumah tangga. Mereka tidak ingin gagal lagi. Bagas sangat mencintai Malika, dia selalu bersikap lembut kepada Malika.


Dan Malika bersyukur mendapatkan suami sebaik Bagas Wijaya, apalagi Bagas lah yang sudah menyelamatkan Malika dari siksaan suaminya yang terdahulu.


Deru mesin mobil terdengar di telinga Aisyah dan Malika. Keduanya melongok ke arah luar dan ternyata Aditya datang untuk menjemput Mamahnya.


"Assalamualaikum." ucap Aditya.


"Waalaikum salam wr wb!." Aisyah dan Malika serempak menjawab salam dari Ceo Tampan yang baru datang.


Pria berkemeja putih itu masuk dengan mengembangkan senyumannya, saat melihat kedua wanita yang sangat dia cintai tengah duduk berduaan. Tak ada pemandangan yang lebih indah dari keadaan yang saat ini. Aditya mencium tangan Ibunya lalu duduk di sampingnya.


Aisyah menjadi salah tingkah saat Malika menatapnya dengan senyum bahagia rasanya dia ingin sekali masuk ke dalam lubang kecil dan tak ada yang bisa masuk.


"Apa kabar Aisyah?." Sapa Aditya dengan senyuman yang dapat bikin Aisyah menahan napas. Padahal sebelum Aditya menyatakan perasaannya dan sebelum Malika datang untuk mwnyakinkannya, Aisyah bersikap biasa aja. Tapi setelah Aditya menyatakan perasaannya dengan dukungan Malika. Aisyah sedikit grogi berhadapan dengan Ibu dan anak itu.


"Baik, gumna kabar mu hari ini, Kak?." tanya Aisyah dengan perasaan tak karuan. Kalau di lihat - lihat tak ubah anak usia tujuh belas tahun yang sedang salah tingkah karena geer.


"Alhamdulillah sehat, seperti yang kamu lihat saat ini. Aku selalu semangat apalagi aku punya misi untuk dapatkan sesuatu." ucapnya dengan melirik mamahnya, Malika tersenyum senang melihat Aditya tak malu-malu di hadapannya.


"Terima kasih yah, Mah. Sudah menyakinkan Aisyah kalau aku sangat mencintainya." Aditya meraih tangan Ibunya, sedangkan Aisyah wajahnya udah memerah karena malu.


"Saya permisi dulu yah sebentar yah!." Aisyah langsung bangkit dan pergi ke luar dari ruang kerjanya.


Malika tertawa dan menepuk bahu anak sulungnya. "Iseng aja, dia malu tuch!." ucap Malika setelah Aisyah meninggalkan ruang kerjanya.


"Berarti tandanya dia suka sama aku yah kan, Mah?."


"Mamah ngga tahu!. Bismillah aja semoga Aisyah adalah pilihan terbaik dan kalian bisa bahagia."


...****************...


...****************...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2