Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 77


__ADS_3

Peluh membanjiri tubuh dua insan yang tengah bergelut di atas ranjang. Mereka saling mendesah, menikmati surga dunia. Malam itu menjadi saksi kisah cinta mereka berdua. Panas dan mengelora di rasakan pasangan haram itu itu di sebuah kamar yang menjadi saksi bisu perbuatan bejat mereka.


"Kamu memang nikmat sayang." dosis Dimas seraya melepaskan diri dari pernyatuan bersama Maira. Dia memalingkan tubuhnya di ranjang dengan nafas terengah-engah.


"Kamu juga tidak pernah mengecewakan ku sayang. Selalu bisa memuaskanku. Berbeda dengan Bastian, dia mengatakan jika dia tulus mencintaiku tapi dia tidak bisa memuaskan."


"Sampai kapanpun Bastian tidak akan bisa merebut hati kamu dariku dan menyaingiku walaupun kenyataan nya sekarang Bastian lebih kaya dari ku tapi tetap saja kamu lebih memilih aku kan.?" ucap Dimas seraya melirik dan menatap wajah cantik Maira yang sekarang.


Maira tersenyum, Ia memeluk erat tubuh polos Dimas yang ada di samping kanannya. Mereka kelelahan dan akhirnya tidur sampai pagi.


Tanpa mereka sadari ada yang merekam kejadian mereka.


***


Hari telah berganti itu pertanda bahwa sang surya sudah terbit usai menggantikan tugas bulan pada malam hari. Tampak dua orang di atas ranjang kelelahan usai bergumul tadi malam.


Hingga suara dering panggilan membangunkan sang wanita dari tidurnya.


Dengan mata masih terpejam, Maira mencari ponsel nya, dan ternyata ada di atas nakas.


"Halo." ucap nya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Sayang, kamu di mana?." ucap Bastian di sebrang sana.


Mendengar suara itu sontak membuat sang wanita membuka mata wanita melotot karena terkejut.


"M-mas Tian?." cicit Maira.


Setelah menikah dengan Bastian, Maira memanggil Bastian dengan panggilan sayang yaitu Tian sedangkan Bastian memanggil Maira dengan panggilan Gisel. Karena nama Maira sudah menjadi nama sial untuknya.


"Iyah, kamu di mana? kenapa aku pulang kamu tidak ada di rumah?." tanya Bastian.


"A-aku menginap di rumah teman, Mas. Bukankah Mas bilang tidak akan pulang sampai besok?."


"Meeting nya di batalkan jadi aku pulang cepat, ya sudah mau aku jemput?." tanya Bastian.


"Ti-tidak usah Mas. Aku pulang sendiri!. Kamu istirahat saja di rumah sambil nunggu aku pulang." ucap Maira.


"Oke!." Jawab Bastian. Lalu Maira mengakhiri panggilannya.


Semenjak Maira menikah dengan Bastian, perlakuan Maira tentu berbeda saat dulu Bastian menjadi manager nya. Sekarang Bastian sudah menjadi CEO dari sebuah perusahaan milik keluarga angkat nya, tentu saja penampilan Bastian lebih manly di dukung dengan paras nya yang tampan. Namun itu semua tidak cukup membuat hati Maira tertuju pada Bastian justru yang ia cintai dari diri Bastian adalah harta saja.

__ADS_1


Maira memanfaatkan cinta tulus Bastian kepadanya, Karena hidupnya sekarang bergantung kepada Bastian.


Bergegas Maira membangunkan Dimas yang ada di sampingnya, meminta untuk segera bangun.


"Sayang, bangun!." ucap Maira seraya menggoyangkan lengan Dimas dan menepuk-nepuk pipi Dimas. Namun bukan nya bangun Dimas justru menarik selimut dan menutupi kepala nya dan berucap.


"15 menit lagi, sayang." ucapnya dengan wajah lesu.


"Jangan tidur lagi Mas. Anterin aku pulang!." titah Maira.


"Kamu pulang sama supir saja!."


"Tidak bisa Mas. Bisa-bisa kita ketahuan jika aku pulang pakai supir. Kamu mau kehilangan ladang uang kita?." tanya Maira.


"Iyah-iyah aku bangun!" ucap Dimas seraya mengucek-ngucek mata nya.


"Kamu pakai kamar mandi bawah yah." Ucap Maira.


"Iyah." Jawab Dimas.


***


POV ADITYA.


"Adit, gimana sudah ada kabar dari Adel?." tanya Mamah.


Semalam Mamah meminta ku untuk telepon Adel, menanyakan kabar nya, Adel sekarang sedang berada di jogja, ia sedang mengikuti kontes memasak. Sudah satu minggu tapi belum ada kabar dari Adel.


"Oh yah Mah, maaf Adit lupa!. Nanti sampai kantor Adit telepon Adel." ucap ku nyengir.


"Oke, ya sudah kita sarapan dulu!."


Usai menghabiskan sarapan pagi, aku berpamitan pada Mamah untuk berangkat ke kantor.


Di tengah perjalanan ke kantor, aku mendapatkan telepon dari sekretaris. Kalau meeting di undur dua jam.


"Ke rumah Aisyah aja dulu yah?, mumpung masih ada waktu luang sebentar." gumamku, kemudian memutar laju kendaraan menuju tempat tinggal Aisyah.


Sebelum sampai di sana, aku mampir ke minimarkwt terlebih dahulu. Aku membeli buah tangan untuk di berikan kepada Aisyah.


Setelah sampai aku melirik gerbang pintu rumah Aisyah masih tertutup, dan kelihatannya sepi, tidak ada satpam yang menjaga.

__ADS_1


Aku mencoba menghubungi ponsel Aisyah, dua panggilan tidak terjawab. Aku terus menghubungi nya lagi. Namun lagi-lagi tak di angkat. Padahal nomernya aktif.


Perasaanku seketika cemas, pikiran-pikiranku seketika membanyangkan hal-hal buruk. Kemudian aku mencoba menghubungi Tante Sonya, tapi lagi-lagi tidak di angkat.


Aku juga mencoba bertanya kepada Rina, Assisten Aisyah.


"Halo Rin, ini aku Aditya." ujarku setelah panggilan terhubung.


"Iyah Pak, Ada apa pak tumben menghubungi saya, pagi-pagi lagi." Jawab nya dari sebrang sana.


"Kamu tahu Aisyah pagi ini ada jadwal kemana?, Soalnya ini aku ada di rumah nya, tapi sepertinya tidak ada orang. Aku telepon dari tadi tapi tak di angkat." jelasku langsung pada intinya.


"Setahu saya Bu Aisyah tidak ada jadwal apapun Pak hari ini. Nanti siang pun saya libur karena ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan." jawabnya kemudian.


"Ya sudah kalau begitu terima kasih." Aku langsung menutup panggilan itu.


"Kamu dimana Aisyah, kenapa perasaan ku tiba-tiba menjadi cemas gini." gumam ku gelisah.


Aku benar-benar khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.


Aku mondar-mandir di depan rumah Aisyah seraya mencemaskan keadaannya.


"Nak Adit ngapain mondar-mandir di situ?." tegur salah satu tetangga di sini yang kebetulan lewat.


Mereka memang sudah mengenalku karena aku sering berkunjung kesini.


"Ini Pak lagi nungguin Aisyah. Apa Bapak lihat kemana Aisyah pergi?." tanyaku.


"Wah saya kurang tahu Nak Adit. Saya baru keluar rumah jadi ngga lihat Mbak Aisyah pergi."


"Oh ya udah ga papa, Pak. terima kasih." ujar ku lalu Bapak itupun pergi.


"Ya ampun Aisyah kamu kemana sih?."


Pikiran ku kalut, aku benar-benar mengkhawatirkan Aisyah.


"Kak Adit?."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2