Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 87 Hari bahagia part 2


__ADS_3

Setelah prosesi Ijab Qobul selesai kedua pengantin menyalami


"Bunda titip Aisyah yah, Nak Adit!." ucap Sonya dengan lirih sebutin air mata lolos bersama kedepan matanya. Suasana hatinya sulit di artikan, karena ini adalah pernikahan Aisyah yang ke dua kalinya tentu saja Sonya di penuhi banyak ketakutan daripada harapan.


"Insyaalloh Bunda. Saya akan menjaga sebaik mungkin dan semampu saya. Saya akan membahagiakan putri, Bunda." sahutnya dengan lantang tanpa ragu dan senyum kebahagiaan. Karena memang jauh dari lubuk hati dan pikirannya, Aditya hanya ingin selalu bahagia membina rumah tangga bersama perempuan yang kini duduk di sampingnya dan telah sah menjadi istrinya.


"Tolong sayangi Aisyah dan jangan sakiti dia, Bunda tidak sanggup melihat Aisyah di sakiti."


"Saya berjanji dan saya akan selalu ingat pesan Bunda. Dan niat saya menikahi Aisyah selain rasa sayang juga karena Allah. Jangan khawatir!." Aditya menatap mertuanya yang begitu sangat khawatir dan takut Aisyah di sakiti. Sonya mengaguk sambil mengusap air matanya.


Kedua mempelai akhirnya duduk di pelaminan dan semua tamu yang sudah hadir mulai memberi ucapan selamat satu persatu.


Selesai bersalaman, mereka langsung menuju meja prasmanan yang melingkar seperti huruf O dan penuh dengan berbagai macam makanan lokal dan makanan yang berbau keju. Seperti lasagna berbagai macam olahan seperti spageti dan zuppa soup. Tersedia juga stand-stand cemilan dari mulai buah-buahan, kue lokal, ice cream hingga jajanan viral. Pesta ini benar-benar di persiapkan dengan megah dan semeriah mungkin.


Di depan tertulis banner tidak menerima amplop.


Sang MC meminta waktu pada semua hadirin yang kini mulai riuh. Dia memberitahukan bahwa akan diadakan acara sungkeman terlebih dahulu.


Semua persiapan sudah di siapkan dengan matang. Kini prosesi sungkeman akan segera di mulai, kepada kedua orang tua.


Setelah acara sungkeman selesai di lanjutkan dengan sesi foto-foto. Serta tamu undangan mulai berdatangan dan sebagian tamu yang sudah hadir tengah menikmati hidangan yang tersedia.


Di tengah ribuan tamu yang hadir, Aisyah di kejutkan dengan kedatangan Mantan Papa Mertua nya dan Mantan adik iparnya.


Edmund dan Sindy hadir atas undangan dari pihak laki-laki, tepat nya dari Adel. Awalnya Sindy tidak akan hadir karena dia tahu calon pengantin dari kakak nya Adel adalah mantan Kakak Ipar nya yaitu Aisyah.


Namun setelah di nasihati oleh Ayah nya mungkin lebih baik datang dan meminta maaf secara langsung atas sikap dan perilaku nya di masa lampau.


"Mbak Ais." ucap Sindy tersenyum mendorong kursi roda Ayahnya untuk lebih dekat dengan kedua pengantin itu.


"Sindy, Papa." panggil Aisyah, yah Aisyah masih memanggil Papa karena Edmund sudah Aisyah anggap sebagai pengganti Ayah nya yang sudah tiada. Aisyah menaruh hormat kepada laki-laki tua itu, saat kepergian mereka tanpa pamit, Aisyah sangat sedih dan berdoa di mana pun mereka berada mereka akan baik-baik saja.


Tentu saja kedatangan mereka hari ini, membuat Aisyah sangat bahagia sekali. Kemudian Aisyah memeluk Sindy.


"Maafin aku mbak." ucap Sindy tulus.


"Mbak sudah maafin kamu tanpa kamu minta maaf sekalipun. Yang lalu biarlah berlalu sekarang kita meniti masa depan untuk bisa lebih baik lagi." ucap Aisyah mengelus punggung Sindy setelah itu Aisyah melepaskan pelukan lalu berjongkok berhadapan dengan Edmund di bantu oleh suaminya.


Edmund tak kuasa menahan tangis bahagia bisa bertemu dengan Aisyah kembali.


"Papa." panggil Aisyah.

__ADS_1


"Mudah-mudahan kamu selalu bahagia yah, Nak." ucap Edmund sembari tersenyum.


"Iyah Pa." Lalu Aisyah memeluk Edmund. Mereka berpelukan saling menyalurkan rasa rindu karena sudah lama sekali tidak saling bertemu.


***


Sementara di gedung tua yang berada di tengah hutan.


"Ku bilang jangan mendekat!." teriak Maira pada Bayu.


"Tenang, Sayang!." ucap Bayu mencengkram rahang Maira hingga ia meringis kesakitan.


"Tolong lepaskan aku, Aku mohon!. Bastian tolong aku!" teriak Maira memohon dengan badan gemetar ketakutan.


Plak! plak!


Dua tamparan mendarat di kedua pipi Maira hingga salah satu sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Maira meringis merasakan panas dan perih di sudut bibirnya, ia terus memberontak agar cekalan tangannya di lepas tapi usahanya sia-sia.


"Bawakan aku gunting!." titah Bayu pada temannya.


"A-aku mohon jangan lakukan itu. Aku mohon! sebenarnya siapa kamu! Kenapa kamu lakukan ini kepadaku? dimana Bastian?."


"Hahahaa kamu masih tidak mengenalku? Kamu tidak ingat Aku adalah kakak sepupu Aisyah yang sudah kamu sakiti dulu. Adikku memang polos dan lugu karena pernah menjadikan kamu sahabat. Tapi tenang saja aku akan membalaskan rasa sakitnya itu!."


Maira berusaha mengingat.


"Mungkin kamu lupa, kamu juga yang mengfitnah aku hingga Aisyah marah kepadaku dan tidak ingin bertemu lagi denganku. Bukan hanya itu kamu juga yang menghina fisikku hanya karena aku gendut dulu."


Penjelasan Bayu membuat Maira mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat mereka masih kecil.


Flashback on


Maira kecil sedang duduk di kursi panjang yang berada di taman bersama Bayu. Mereka sedang menunggu Aisyah.


"Maira ada yang mau aku bicarakan!."


Maira cantik berwajah ayu mengalihkan pandangan nya ke arah Bayu yang tampak gemetar "Apa?."


"A - aku suka sama kamu." ucap Bayu gugup lalu menyerahkan sebatang coklat kepada Maira.

__ADS_1


Maira beranjak dari duduk nya dan hendak pergi, Bayu yang melihat itu kemudian menahan tangan Maira.


"Apaan sih." ucap Maira menyentak kasar tangan Bayu.


Bayu tampak kecewa dengan sikap kasar yang di tunjukkan Maira kepadanya.


Maira melipat tangan di dada lalu menatap Bayu dengan kasar melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan hina.


"Kamu punya kaca ngga sih di rumah? Kamu itu jelek, gendut, pendek, jerawatan lagi. Mana mau aku Maira yang cantik jelita sama kamu yang modelan karung beras." sinis Maira kepada Bayu.


Mata Bayu memerah mendengar hinaan dari mulut gadis yang ia suka, tangannya pun mengepal kuat. Ia marah pada gadis di hadapannya ini.


Dari kejauhan Aisyah kecil melihat Maira dan Bayu. Posisi nya Maira membelakangi Aisyah.


Aisyah memanggil sahabatnya Maira dan Kakak sepupunya Bayu. Mendengar panggilan Aisyah, Maira pura-pura jatuh. Bayu yang melihat bingung.


Melihat Maira jatuh, Aisyah berlari menghampiri Maira.


"Ada apa Maira?." tanya Aisyah yang sudah dekat dengan Maira.


Maira mengacungkan jari telunjuk nya ke arah Bayu, "Mas Bayu mendorong ku Aisyah." ucap Maira dengan suara lembut.


Aisyah yang pada dasar nya sangat menyanyangi Maira mempercayai ucapan Maira begitu saja.


"Apa yang kamu lakukan Mas Bayu?. Kenapa Mas Bayu mendorong Maira?." tanya Aisyah menatap tajam Bayu.


"Aku tidak mendorong nya Aisyah dia jatuh sendiri."


"Sudahlah aku marah sama Mas Bayu. Ayo Ra kita pulang tinggalkan saja dia sendiri di sini." ucap Aisyah lalu memapah Maira dan meninggalkan Bayu sendiri di taman.


Flashback off


Bukan hanya kejadian itu saja, berulang kali Maira memfitnah Bayu hingga Aisyah tidak ingin bertemu dengan kakak sepupunya itu.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2