Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
[62] Gisel


__ADS_3

Setelah liburan bukannya fresh, tapi Aisyah malah malas-malasan untuk pergi ke butik. Dia sekarang lagi di sofa tiduran sambil menonton tv, pakaian tidur masih ia kenakan. Sesekali dia tertawa melihat adegan yang ia anggap lucu.


"Kamu tidak ke butik, Sya?" tanya Sonya menghampiri sang anak duduk di sofa sebelah Aisyah.


"Mau, tapi agak siangan, kok males sekali yah Bun!" ucapnya.


"Kecapean kali, Sya. Ya udah ga usah ke butik toh ada karyawan kamu kan?,"


"Ya Ga bisa gitu dong, Bun. Sebagai atasan yang bertanggung jawab aku harus memberi contoh yang terbaik untuk karyawannya . Apalagi udah satu minggu aku liburan." ucap Aisyah. Sonya menganguk membenarkan apa yang di katakan Aisyah. Kalau bisnis atau usaha itu tidak boleh di lepas tangan begitu saja oleh sang empunya, tentu harus di pantau dengan cara terjung langsung ke usaha tersebut kalau memang usaha itu ingin sukses.


"Ya udah terserah kamu." Ucap Sonya lalu mereka kembali menonton tayangan televisi.


***


"Saudara Dimas, ada yang ingin bertemu dengan anda." ucap seorang polisi.


Dimas yang sedang duduk di dalam sel pun berdiri dan mengikuti langkah polisi tersebut.


Sesampainya di ruang khusus menjenguk, dia terkejut karena yang menjenguk nya kali ini adalah seorang wanita cantik yang tidak ia kenal sama sekali.


"Hai, Mas,"


Dimas memgenyitkan alis nya, bingung karena wanita itu seperti akrab dengannya tapi Dimas sama sekali tidak mengenalnya.


"Mas aku kangen," wanita itu menghambur ke pelukan Dimas. Dimas yang belum siap hampir saja jatuh kalau saja dia tidak memegang meja untuk menahan bobot tubuhnya karena di terjang oleh wanita yang tidak ia kenali.


"Siapa kamu?," tanya Dimas, Namun wanita itu masih enggan melepaskan pelukannya kepada Dimas.


"Apa kamu tidak mengenalku , Mas?" tanya wanita itu lalu melepaskan pelukanya supaya Dimas bisa melihat lebih dekat siapa dirinya.


"M-mmm kamu Maira?, tapi kok wajah kamu beda?," tanya Dimas bingung karena dia mengenal suara dan tekstur tubuh wanita yang pernah mengisi hati nya itu tapi saat melihat wajahnya bukan wajah Maira.


"Iyah Mas, Aku Maira."

__ADS_1


"Tapi bagaimana bisa?."


"Ini karena ulah mantan istrimu dan mantan sahabatku juga, Aisyah. Dia yang membuat wajah ku hancur karena di cakar monyet, mau tidak mau aku menghabiskan seluruh tabunganku untuk operasi wajah jadi seperti ini. Tapi apakah aku masih cantik kan, Mas?" tanya Maira dengan memberikan senyuman kepada laki-laki yang ia cintai.


Dimas menganguk dan mengatakan, "Iyah kamu cantik."


"Jadi gimana kabar mu, Mas?, masih betah di sini?," tanya Maira lalu menggenggam tangan Dimas.


"Mana ada orang betah di penjara. Kamu ada-ada aja sayang." Jawab Dimas membalas genggaman tangan Maira lalu mengelus pipi mulus Maira.


"Tenang, Mas. Tidak lama lagi kamu akan bebas. Aku akan menyewa pengacara supaya kamu bisa bebas."


"Kamu serius sayang?,"


Maira menganguk dan tersenyum,


Dimas terheran dan bingung, tapi masa bodoh dia ingin segera keluar dari penjara.


Sedangkan Maira sendiri sudah banyak pikiran licik yang bersarang di kepalanya untuk membalaskan rasa dendamnya pada Aisyah yang sudah menghancurkan karir nya sebagai Artis.


Kalian pasti heran bagaimana bisa Maira mendapatkan banyak uang untuk membebaskan Dimas. Padahal uang nya sudah habis untuk operasi wajahnya dan saat ini dia sudah tidak bekerja.


Yupzzz.... beberapa minggu sebelum nya, tepatnya saat Maira mengajak Bastian menikah. Bastian setuju karena dia amat sangat mencintai Maira dan keesokan hari nya mereka melangsungkan pernikahan mereka secara siri.


Maira memanfaatkan cinta nya Bastian kepada dirinya, karena Maira akhirnya tahu kalau Bastian adalah anak orang kaya. Walaupun hanya anak angkat tetapi orang tua angkatnya sangat menyanyangi Bastian seperti anak kandung mereka sendiri.


Bahkan Bastian di percaya untuk mengelola perusahaan keluarga mereka.


"Kamu sekarang harus memanggilku dengan nama Gisel." ucap Maira. Bastian juga setuju dengan memanggil Maira dengan nama Gisel, karena ia tahu nama Maira sudah tercoreng dengan sebutan pelakor.


Dengan wajah nya yang berubah tidak ada yang tahu kalau dia adalah Maira kecuali Bastian dan Dimas.


"Baiklah Gisel, tapi secepatnya kamu harus bebaskan aku dari sini!."

__ADS_1


"Iyah sayang, kamu tenang aja!". ucap Gisel alias Maira.


***


Sesampainya di butik, Aisyah langsung ke ruang kerjanya. Butik ini cukup luas dengan menyediakan ruang owner dan kamar mandi. Aisyah merebahkan dirinya di sofa bed yang ada di ruangan itu. Ia sama sekali tidak bersemangat. Tentunya setelah berpesan pada karyawannya dulu bahwa ia ingin istirahat.


Kaca ruang kerja Aisyah hanya bisa di lihat dari ruangan saja. Sedangkan dari luar mantul sebagai cermin.


Di pejamkan mata nya sebentar, ini mengingatkan nya pada situasi dimana dia baru saja di tinggalkan oleh Ayahnya dan pulang dengan status sebagai seorang istri. Dia tidak bersemangat karena separuh jiwa nya pergi. Seharusnya dia tidak akan khawatir karena pada saat itu dia sudah memiliki suami pilihan Ayahnya. Tapi nyatanya mereka hidup masing-masing walau status nya suami istri.


Aisyah sempat merasa bersalah karena mengabaikan suaminya tapi ternyata rasa bersalah nya itu di balas dengan pengkhianatan bersama sahabatnya.


Di tengah lamunannya yang hanya mengingatkannya pada kesedihan, ada wanita yang berdiri di dekat kaca ruangan kerja Aisyah. Dia tengah menempelkan beberapa baju ke dada nya dengan terus mengobrol dengan wanita berbaju sapari.


"Apa aku cocok pakai?" tanya Wanita itu pada temannya.


Aisyah penasaran siapa wanita itu, karena mendengar suara nya mirip seseorang yang ia kenal.


Lalu Aisyah keluar hendak menemui pelanggan butiknya karena penasaran dengan wanita itu.


"Selamat datang, mungkin ada yang bisa saya bantu Nyonya?" ujar Aisyah menghampiri ke tiga wanita yang sedang berbelanja di butiknya.


"Iya, saya mau mencari tas yang bagus, Ada?" tanya seorang teman wanita itu. Sedangkan wanita itu tidak melirik ke arah nya hanya memilih-milih baju yang ada di belakangnya, padahal Aisyah sendiri penasaran dengan wanita itu.


"Oh yah Gisel, kamu juga mau mencari tas juga kan?," tanya teman wanita itu ramah lalu menarik tangan wanita itu yang baru Aisyah ketahui bernama Gisel.


Aisyah menyipitkan mata melihat wanita bernama Gisel. Ia seperti kenal tapi siapa?.


"Oh iyah mbak saya juga beli tas, di sebelah mana yah?" tanya wanita bernama Gisel.


"Mari ikut ikut saya mba!" Ajak Aisyah ke estalase tas berada.


...*** MOHON BANTU LIKE DAN KOMENT YAH ***...

__ADS_1


"


__ADS_2