Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
[45] Sabotase dan Penyakit Jantung Sonya Kambuh


__ADS_3

"Aduh handphone ku ketinggalan." ucap Aisyah lalu berbalik kembali ke parkiran.


Saat tiba di parkiran,


"Loh kok Kak Adit di sini?" Sapa Aisyah saat melihat ada Aditya berada di samping mobilnya.


Laki-laki itu pun berbalik, "Aisyah?, ini mobil kamu?" tanya Aditya menunjuk mobil hitam di sampingnya.


"Iyah Kak" Jawab Aisyah sambil mengangguk kan kepalanya.


"Tadi saya memergoki seseorang melakukan sesuatu pada mobil ini, dan itu sangat mencurigakan."


Aisyah terkejut dengan apa yang di katakan Aditya, lalu melirik ke arah mobilnya.


"Ngomong-ngomong kamu di sini sedang ada urusan apa?" tanya Aditya.


Aisyah menoleh kembali ke arah Aditya yang bertanya kepadanya, " Bunda di rawat di sini, Ka" jelas Aisyah.


"Apa? Tante Sonya sakit apa?," tanya Aditya.


"Bunda tadi katanya jatuh dan terpeleset di kamar mandi. Kaka sendiri ngapain?,"


"Saya tadi menemui kenalan saya di sini,"


"Oh, ya sudah kak permisi saya mau ke ruangan Bunda dulu,"


"Aisyah boleh kah saya ikut denganmu?, lebih baik mobil kamu jangan di pakai dulu. Nanti saya antar kamu pulang."


"Saya takut merepotkan Kak Aditya, biar saya pesan taxi aja nanti."


"Tidak merepotkan sama sekali Aisyah, Saya juga mau menengok Tante Sonya dulu." Jawab Aditya lalu melangkahkan kaki nya lebih dulu ke rumah sakit. Aisyah terdiam sesaat lalu menyusul Aditya dari belakang.


***


Aisyah berlari di sepanjang lorong rumah sakit diikuti Aditya di belakang. Hari sudah larut malam, hawa dingin tidak menghalangi untuk segera mencapai dimana Bunda nya di rawat.

__ADS_1


Pikiran Aisyah kalut memikirkan keadaan Bunda nya, dia tidak memikirkan orang yang baru saja menyabotase mobil miliknya. Yang Aisyah pikirkan keadaan Bunda nya sekarang.


Setelah menuju ruang di mana Bunda nya di rawat, Aisyah bisa melihat sepupu nya Bayu sedang duduk seorang diri di depan ruangan Bunda nya. Aisyah berjalan pelan, Ia mencoba mengatur nafas nya.


"Mas gimana keadaan Bunda?," tanya Aisyah ketika dirinya sudah berhasil mendekati mas Bayu yang terduduk lesu.


"Bunda mu tadi tiba-tiba jatuh dan terpeleset saat berada di kamar mandi, Aisyah. Kemungkinan karena penyakit jantunganya kambuh lagi. Tadi Mas di telepon oleh Bi Asih, karena katanya mau mengabari kamu tapi kamu tidak mengangkat telepon mu." jelas Bayu.


Aisyah ingat saat itu ia sedang berkunjung untuk menemui Dimas, ia meninggalkan handphone nya di mobil.


"Lalu sekarang bagaimana keadaan Bunda, Mas?" tanya Aisyah.


"Beliau sedang di periksa oleh Dokter, Aisyah." Jawab Bayu.


Mendengar itu Aisyah tidak kuasa menahan tangis, dia khawatir keadaan Sonya, Aisyah tidak ingin kehilangan Bundanya karena hanya Sonya yang Aisyah miliki sekarang.


Bayu meraih tubuh Aisyah dan memeluk nya erat, mencoba menyalurkan kekuatan. Aisyah masih terisak di pelukan Bayu. Sedangkan Aditya memandang nanar wanita yang selalu dia mimpi-mimpi kan itu sedang bersedih. Ingin sekali Ia menarik dan merangkul ke pelukannya menenangkan jiwa nya yang sedang bersedih.


Tapi itu tidak mungkin Aditya lakukan, karena dirinya bukan siapa-siapa Aisyah.


"Aisyah benar-benar takut kehilangan Bunda, Mas." ucap Aisyah sambil berurai air mata. Bayu paham dengan perasaan Aisyah, bahkan dulu saat Ayah Aisyah meninggal dunia, Aisyah lah yang begitu terpuruk hingga suami yang seharusnya menghiburnya justru malah bermain dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan Aisyah. Dan Aisyah hanya bisa memendam kesedihannya sendiri.


Sebagai anak semata wayang, Aisyah hanya memiliki Sonya begitu pun Sonya yang hanya memiliki Aisyah putrinya.


Ini memang bukan pertama kalinya Sonya di larikan ke rumah sakit akibat serangan jantung yang ia alami. Tapi kali ini dada nya terasa lebih sesak. Satu per satu ujian dan masalah kerap datang menimpanya, seolah mereka sudah menentukan kapan akan menghampiri Aisyah.


"Aisyah, Aisyah gak boleh ngomong kayak gitu. Bunda pasti kuat. Bunda sudah mas anggap seperti orang tua mas Bayu sendiri dan mas tahu Bunda orang nya kuat dan justru selalu menguatkan kita berdua kalau ada masalah di keluarga kita.


Sekarang yang bisa kita lakukan hanya bisa mendoakan yang terbaik buat Bunda. Kamu nggak boleh putus asa, kita harus percaya sama Tim Dokter yang lagi berjuang sebaik mungkin di dalam sana, Sya. Kamu harus yakin supaya energi positif kita juga sampai ke Bunda yah." ucap Bayu menenangkan hati Aisyah. Aisyah emang terlihat kuat di luar tapi tidak akan ada yang menyangka kalau hati nya begitu rapuh.


Dia bisa terlihat kuat di hadapan musuhnya Dimas dan keluarganya, tapi tidak kalau di hadapkan dengan kehilangan Bundanya.


"Maafin Aisyah, Mas. Aisyah cuma ngga tahu apa yang Aisyah pikirkan saat ini." ucap Aisyah sambil terus menangis.


Lalu Aisyah duduk dan menyandarkan di tembok rumah sakit yang dingin. Tidak lama kemudian tim dokter dan perawat keluar dari ruangan Bunda. Bayu, Aditya dan Aisyah segera berdiri menghampiri Dokter.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Bunda Dokter?" Aisyah segera bertanya. Rasa-rasa nya dia terlalu lama menunggu hasil pemeriksaan tim dokter pada Bundanya.


"Saat tiba ke sini di sini, kondisi nya begitu mengkhawatirkan. Tapi ada tak perlu khawatir karena Bu Sonya sudah dalam kondisi stabil saat ini. Bu sisanya sedang tidur sekarang, sehingga jangan mengganggu istirahatnya." jelas salah satu tim dokter yang sedang bertugas itu.


Aisyah, Bayu dan Aditya menghela nafas lega. Setidaknya ia bisa sedikit bernafas lega karena Bunda nya sudah membaik. Aisyah pun tersenyum lega mendengar informasi dari dokter itu.


"Terima kasih Dokter." kata Aisyah dan Bayu bersamaan. Tim Dokter itu pun izin pergi dari sana karena masih banyak yang harus di lakukan oleh mereka.


Aisyah, bayu dan Aditya pun masuk ke dalam kamar Sonya di rawat.


Aisyah menitikkan air mata, selama ini Bunda nya terlihat kuat bahkan saat Sonya membela Aisyah dari keluarga Dimas. Namun, kini Sonya terkapar lemah tak berdaya karena penyakit itu. Aisyah memutuskan untuk tidur di rumah sakit malam itu.


Ia ingin menjaga Bunda, karena hanya dirinya lah yang Sonya miliki. Dia tidak punya kakak atau adik, Bayu pun harus segera pulang, karena istri dan anaknya sudah pasti menunggunya di rumah.


"Aisyah?," ucap Aditya pelan takut mengganggu Sonya yang sedang tidur.


Aisyah menoleh ke belakang dan kaget ternyata Ia melupakan sosok Aditya yang mengikutinya tadi. Saking khawatir dengan kondisi sang Bunda, ia melupakan Aditya. Aisyah jadi merasa tidak enak.


"Ya ampun Kak Aditya aku lupa ada kaka, maaf yah". ucap Aisyah merasa bersalah karena melupakan Aditya.


"Tidak apa-apa, Aisyah. Saya hanya mau pamit pulang dulu, semoga Tante Sonya cepat sembuh. Kamu jangan khawatir besok saya datang lagi kemari bersama Adel. Soal mobil kamu saya akan membawa nya ke bengkel, nanti saya akan berbicara dengan pihak rumah sakit untuk meminta cctv dekat parkiran supaya kita tahu siapa yang menyabotase mobil kamu." jelas Aditya.


"Apa kamu di sabotase Aisyah?" tanya Bayu kaget tapi dengan suara yang pelan.


Aisyah mengangguk,


"Terima kasih Kak Adit, Maaf saya merepotkan!"


"Tidak apa-apa, saya senang bisa membantu. Kalau begitu saya pamit pulang dulu yah!" ucap Aditya tersenyum pada Aisyah dan Bayu kemudian keluar dari ruang rawat Sonya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2