Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 78 Wanita di Pinggir Jalan


__ADS_3

"Kak Adit?." Aisyah tiba-tiba memanggil dari arah jalan.


Gegas Aku langsung berlari dan menghampiri Aisyah.


"Ya ampun Sayang?, Kamu ngga papa?." tanya ku panik lalu memindai Aisyah dari ujung ke ujung, aku khawatir terjadi sesuatu dengan nya karena susah untuk di hubungi.


Aisyah terdiam, karena mungkin bingung dengan tingkahku. Tapi siapa yang tidak akan khawatir jika Calon istrinya tidak bisa di hubungi.


"Ada apa Kak? Kak Adit kenapa?." tanya Aisyah seraya menyentuh keningku.


"Enggak panas." gumam Aisyah seraya mengenyit.


"Maksudnya?." tanya ku heran.


"Ku kira badan Kak Adit panas, atau mungkin Kak Adit sedang sakit? soalnya tiba-tiba datang seperti itu." ujar nya santai, padahal aku begitu mencemaskannya.


"Ya ampun Aisyah, Aku tuh khawatir sama kamu. Aku tadi ke sini kamu nggak ada di rumah, di telpon juga ngga di angkat, satpam kamu juga ngga ada. Aku itu cemas banget, takut kamu kenapa-napa." jelasku namun Aisyah justru tertawa.


"Kok kamu ketawa sih, Aisyah?."


"Hahaaa, habis nya Kak Adit lebay banget," serunya seraya terpingkal.


"Lebay?, Kamu bilang aku lebay?. Aku itu takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu, perasaan aku tidak seenak memikirkan kamu. Kamu malah bilang aku lebay?." gerutuku kesal kemudian melangkah meninggalkan Aisyah.


Kemudian aku duduk di bangku dekat pos Satpam rumah Aisyah, Aisyah terdiam mungkin sedang memikirkan apa yang ku ucapkan.


"Kak..." panggilnya.


Aku hanya diam tak menjawab, aku benar-benar kesal di buatnya.


"Maaf Kak, membuat Kakak khawatir. Semalam...." Aisyah terdiam, aku yang penasaran berjalan mendekat ke arah Aisyah.


"Semalam kenapa Aisyah?." tanyaku menatap manik cantik Aisyah yang seperti ragu dengan apa yang akan di katakannya.


Aku jadi tambah penasaran, apa yang membuat nya ragu.


Lalu dia menatapku,


"Semalam Mas Dimas datang ke rumah." ucap Aisyah pada akhirnya.


"APA?." teriakku terkejut. Berani nya di datang ke sini?.


"Lalu apa yang dia perbuat? apa kamu tidak apa-apa?." tanya ku cemas.


"Dia hanya sedikit mengancamku, Kak. Tapi aku tidak takut lalu mengusir nya. Namun karena mood aku buruk sejak kedatangannya jadi pagi tadi aku olahraga lari mengelilingi kompleks." Jawab Aisyah menceritakan kronologis kenapa dia sedang tidak ada di rumah.

__ADS_1


"Dan mengenai Satpam yang tidak ada, kebetulan mereka ijin cuti pulang kampung. Kak Adit ngga usah khawatir, aku tidak apa-apa kok."


"Bagaimana aku tidak khawatir, Dimas mengancammu. Kurang ajar sekali dia?. Tapi kenapa dia bisa bebas?, pasti dia bermain curang dan pasti ada yang membantu nya, tidak mungkin dia bisa bebas, masa tahanannya sepuluh tahun lagi" emosi ku langsung naik seketika. Namun aku melihat Aisyah terkejut melihat ekspresiku yang marah.


"Terus kenapa telepon tidak di angkat sayang." tanyaku dengan suara lembut dan pelan.


"Aku ngga bawa handphone, Kak" jawabnya.


"Maaf yah udah bikin kakak khawatir, tapi aku seneng deh." lanjutnya.


"Seneng kenapa?." tanyaku lagi. .


"Itu tanda nya Kak Adit benar-benar sayang sama aku."


Aku mendadak salah tingkah saat Aisyah berbicara seperti itu, "Apa masih kurang bukti aku sayang kamu, sayang." ucap ku dan tidak berani menatap wajah cantik Aisyah.


Aisyah menggeleng lalu tersenyum.


Suasana mendadak hening baik aku dan Aisyah tidak ada yang berbicara, lalu aku memberanikan diri untuk bertanya, "Aisyah kamu sibuk nggak hari ini?." tanyaku lembut.


"Enggak sih, semua nya sudah di tangani oleh Assistent ku, aku hanya tinggal mantau saja."


"Kita jalan-jalan yuk!, Nanti malam sekalian mampir ke rumah, Mamah kangen soalnya sama kamu." ajakku.


"Masuk, Aisyah ini ada meeting sebentar. Habis meeting aku langsung jemput kamu. Ini kan hari sabtu jadi kantor cuma berangkat sampai jam 12.00 siang aja."


"Ya sudah sana, kamu berangkat saja dulu!."


"Aku pamit dulu yah, kalau ada apa-apa kabari aku!." pamitku pada Aisyah.


"Iyah Ka. Hati-hati." Jawab Aisyah tersenyum.


Di saat seperti ini pikiranku langsung membanyangkan ketika kami nanti sudah sah menjadi suami istri. Aisyah mengantar kan aku ke depan setiap hendak berangkat ke kantor. Ia mencium tanganku dan aku mencium kening nya.


Buah


"Aduh" jeritku lirih.


"Kenapa Ka?." tanya Aisyah yang melihat sejak tadi aku berdiri di depan gerbang rumahnya.


"Ngga papa Sya, kamu masuk lah ke dalam. Aku pamit yah!." ucapku lalu segera masuk ke dalam mobil.


Gara-gara asyik membanyangkan masa depan. Aku jadi tak fokus jalan dan akhirnya tersandung. Untung nggak sampai jatuh, kalau saja terjatuh bisa rusak 'image' Aditya Wijaya yang ganteng dan gagah ini.


***

__ADS_1


Siang hari nya sepulang dari kantor. Aku langsung menjemput Aisyah. Aku akan membawa Aisyah ke rumah terlebih dahulu, karena rencana nya aku akan mengajaknya ke pantai nanti sore. Aku ingin menikmati senja bersama orang yang ku cintai.


"Kita mau kemana Kak?." tanya Aisyah.


"Kita ke rumah dulu yah, habis itu jalan-jalan." Aku menjawab seraya menyalakan mesin mobil.


Di tengah perjalanan menuju rumah, kami terjebak macet. Aku menikmati kemacetan ini dengan terus memandang wajah cantik Aisyah. Namun Aisyah seperti nya sedang fokus menatap ke satu arah.


"Sayang kamu lihat apa sih?, Kamu mau kerupuk itu?." tunjukku pada seorang anak yang sedang menjual kerupuk di trotoar jalan.


"Tidak Kak, kamu lihat Ibu-ibu yang sedang duduk di bawah pohon sana?." tunjuk Aisyah pada arah yang sejak tadi ia lihat.


Aku memang melihat ada seorang Ibu duduk di bawah pohon di samping anak yang menjual kerupuk itu. Namun aku tak tahu Ibu-ibu itu. Penampilan nya sangat lusuh.


Aku menganggap nya mungkin dia pengemis terbukti ada sebuah cangkir di depannya.


"Memang kenapa dengan Ibu-ibu itu sayang?, Kamu pasti kasihan yah melihat nya? ya sudah biar aku turun dan memberinya uang dulu yah!." Aku berpikir mungkin Aisyah tak tega melihat wanita paruh baya duduk di bawah pohon dengan terik matahari yang menyengat.


"Jangan Kak!, aku mengenal Ibu-ibu itu, tapi sebaiknya tak usah temui dia." cegah Aisyah.


Aku menuruti saja ucapannya meskipun Aisyah tetap terus melihat ke arah Ibu itu berada. Sampai akhirnya mobil berjalan kembali dan Aisyah tetap saja menengok ke belakang sampai Ibu itu tak nampak lagi di pandangan nya.


Sebenarnya siapa sih wanita paruh baya itu?.


.


.


.


Sampai di rumah Mamah langsung menyambut kedatangan kami dengan penuh kehangatan.


"Apa kabar Tante?." tanya Aisyah ramah saat kamu sampai dekat Mamah.


"Alhamdulillah baik, sayang." Jawab Mamah tersenyum.


"Duduk dulu Aisyah!." titahku kemudian memanggil pelayan untuk membuatkan minuman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2