
"Ya udah Ayok" ucap Aditya lalu membalikkan badan nya sambil menggaruk belakang kepala nya yang tidak gatal, dia malu pada tingkah nya sendiri.
Lalu Aisyah dan Adel mengikuti Aditya di belakang, Aditya berjalan lebih dulu dan membayar makanan. Setelah selesai membayar Bill makanan, Aisyah dan Adel sudah menunggu Aditya di parkiran.
"Kak Adit, masing siang nih, gimana kalau kita refressing jalan-jalan dulu". seru Adel semangat.
"Emang kamu ga ada kerjaan Del?" tanya Aditya.
"Kebetulan aku free, kaka juga kan?"
"Kita langsung pulang aja Del, kasian Kak Adit cape, lagian mungkin Kak Adit sedang banyak kerjaan" ucap Aisyah yang tidak enak merepotkan Aditya.
"Enggak kok, Aku free" Jawab Aditya
"Eh...?" Aisyah bingung dan tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.
"Sudah lah kita jalan-jalan sebentar Aisyah, lupakan masalah kamu sejenak. Tenangkan pikiran kamu dulu. Mungkin kita mall, kita nonton ke bioskop atau belanja-belanja sambil cuci mata.!" Ajak Adel pada Aisyah.
Aisyah pun terdiam langsung mengangguk setuju. Dan mereka pun bersiap untuk berangkat.
"Yuk Kak berangkat, Lets go" seru Adel bersemangat.
Lalu Aditya melajukan kendaraan roda empatnya menuju kawasan mall di tengah kota. Siang itu jalanan tidak terlalu macet sehingga setengah jam kemudian mereka sudah sampai di mall.
Mereka langsung pergi berbelanja, menghilangkan rasa penat terutama di hati Aisyah yang sedang dalam proses perceraian bersama suaminya.
Aditya nampak mencuri pandang pada Aisyah, dan Aisyah pun menyadari akan hal itu. Tapi dia tak berani menatap kembali mata Aditya kembali, karena dia sadar status nya masih istri orang.
Kini Aisyah dan lainnya telah masuk ke dalam sebuah toko tas branded, karena Aisyah dan Adel akan membeli tas mahal.
Saat Aisyah sedang sibuk memilih-milih tas. Tak di sangka mantan mertua dan ipar nya lewat di depan toko tersebut.
Ruli dan Sindy begitu terkejut melihat Aisyah bersama lelaki lain. Mungkin mereka tidak melihat Adel yang berada di pojok estalase tas.
__ADS_1
"Hebat yah suami di penjara, ini udah mulai punya gandengan baru" ucap Ruli melirik sinis Aisyah dengan tangan bersedekap di dada, sedangkan Sindy juga melakukan hal yang sama seperti Ibunya.
"Maksud Ibu Ruli apa yah?" tanya Aisyah tak mengerti.
"Alah ga usah sok polos deh kamu Aisyah. Ngaku nya tahu agama tapi sendirinya jalan dengan yang bukan muhrim."
Aisyah melirik Aditya, dia mengerti dengan apa yang di maksud Ruli.
"Aku sedang tidak berduaan dengan Kak Adit" bantah Aisyah.
"Lah mana ada maling ngaku, Oh jadi namanya Adit, Nak Adit kamu jangan tertipu dengan wajah polos Aisyah. Lebih baik nak Adit memilih putri saya menjadi pendamping hidup, dia jauh lebih cantik dan pastinya tidak akan membuat suaminya di penjara. Tidak seperti noh!" Tunjuk Ruli pada Aisyah yang di balas dengan senyum mengejek karena mantan mertua nya justru malah mempromosikan putrinya sendiri.
Sindy sendiri tersenyum-senyum mendengar ucapan Ibunya. Dia terpesona dengan ketampanan pria di hadapannya ini, dari penampilan seperti dari keluarga konglomerat. Lalu Sindy berjalan melangkah menuju Aditya dan merangkul tangan Aditya mesra.
Aditya melepaskan rangkulan tangan Sindy dan berkata, "Maaf bu, saya tidak berminat dengan putri Ibu. Asal Ibu tahu saya mengenal seperti apa Aisyah, dan Aisyah tidak seperti yang Ibu tuduhkan. Lagian saya sendiri yang melaporkan putra Ibu ke Polisi karena putra Ibu sudah melakukan tindakan kdrt pada istrinya dan terakhir dia mengurung istri nya di kamar. Apa Ibu tidak ingat saya?" ucap Aditya yang membuat Ruli dan Sindy melongo, karena Ruli sama sekali tidak mengingat siapa Aditya.
"Untuk Ibu berhenti mengurusi apa yang aku lakukan. Lebih baik Ibu mempersiapkan diri Ibu, pikirkan bagaimana nasib mas Dimas di penjara. Aku pastikan Mas Dimas tidak akan bisa keluar dari penjara dan akan lebih lama di sana" tegas Aisyah.
"Br*ngs*k kamu Aisyah" teriak Ruli mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka.
"Tuh" Tunjuk Aisyah dengan dagunya.
"Oh ada nenek lampir" ejek Adel pongah.
"Apa kamu bilang?" ucap Ruli tidak terima dengan hinaan Adel.
"Yuk lebih baik kita pergi saja dari sini, Aku ngajak kamu kesini buat refreesing melupakan masalah kamu, eh tahu nya malah ketemu si nenek lampir." ucap Adel menggandeng tangan Aisyah lalu melangkah menjauh meninggalkan Ruli dan Sindy. Aditya mengikuti mereka dari belakang.
Wajah Ruli memerah menahan amarah, kedua tangannya terkepal tidak terima di permalukan untuk sekian kalinya oleh Aisyah.
Aisyah, Adel dan Aditya melupakan sejenak pertemuan mereka dengan Ruli dan Sindy, Sebenarnya mood Aisyah sudah benar-benar hancur saat bertemu dengan Ruli dan Sindy tapi dia tidak ingin mengecewakan Adel yang sudah mengajak Aisyah dan menghibur dirinya untuk melupakan sebentar semua masalahnya.
Mereka berbelanja, menonton bioskop dan terakhir sebelum pulang mereka makan terlebih dahulu.
__ADS_1
.
.
.
.
Mereka pun pulang, mobil melaju dengan amat pelan. Karena Aditya sedang mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama dengan Aisyah. Aisyah duduk di jok depan di samping Aditya, sedangkan Adel memilih duduk di belakang.
Aditya sudah begitu yakin kalau dirinya sudah mencintai Aisyah sejak pandangan pertama. Dirinya ingin lebih mengenal lebih jauh dengan wanita yang kini duduk di sampingnya.
Jalanan tiba-tiba macet dan Aisyah pun ketiduran, begitu juga dengan Adel. Aditya terus saja melirik ke arah Aisyah yang tanpa sadar terlelap begitu saja.
"Cantik sekali" puji Aditya dalam hatinya.
Aditya mengambil ponsel dan membidik dua jepretan ke arah Aisyah yang sedang tidur dan tersenyum puas. Di dalam perjalanan Aditya sibuk dengan pengadaiannya sendiri jika hidup bersama Aisyah suatu hari nanti.
Bersamaan dengan adzan isya mobil Aditya berhenti sempurna di halaman rumah Aisyah. Aisyah yang sedari tadi tertidur, kini mengerjap dan merasa terkejut saat mendapat dirinya sudah berada di halaman rumahnya sendiri. Sedangkan tadi seingatnya mereka masih ada di tengah kemacetan.
"Kita sudah sampai?" ucap Aisyah dan melirik Aditya dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
"Ya itu rumah kamu!" Sahut Aditya dengan tersenyum manis ke arah Aisyah yang baru saja bangun. Kata orang, kalau ingin melihat kecantikan seorang perempuan itu, pada saat mereka bangun tidur dan benar saja, wajah Aisyah berkali-kali lipat kecantikannya di mata Aditya.
"Kak Adit, kenapa tidak membangunkan saya?, Saya jadi malu ketiduran di mobil," ucap Aisyah dengan sedikit kesal saat mengetahui dirinya tertidur begitu lelap. Dan tahu-tahu sudah sampai di rumahnya.
"Kenapa saya harus membangunkan kamu? kamu kan tidak menyetir, lagian seharian ini kamu kan cape tuh Adel juga sama dia malahan belum bangun sampai sekarang" ucap Aditya lalu melirik Adel yang juga tertidur nyenyak. Aditya hanya tersenyum manis sedangkan Aisyah malah cemberut, dia kesal karena ketahuan tertidur. Kan bisa saja saat dirinya tertidur tadi dia ngorok, atau mulutnya menganga. Ah membanyangkannya saja sudah membuat dirinya malu.
"Sudahlah kamu terlihat cantik walau sedang tidur tadi. Tidak ada yang mengorok atau menganga" ucap Aditya sambil membuka seat belt nya. Membuat Aisyah melototkan matanya. Bisa-bisanya Aditya tahu isi kepalanya saat ini.
Aisyah hanya bisa pasrah atas kelalaian nya tertidur di mobil tadi. Dan itu jadi pengalaman yang sangat memalukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...