Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 85


__ADS_3

Gisel menatap Bastian dengan pandangan tajam.


'Berani nya dia menatapku tajam', batin Bastian menyembunyikan kekesalan dalam hatinya, namun berpura-pura lembut di depan Gisel.


"Sayang, kamu kan sudah bangun, Mas menginginkan mu. Tidak bisa kah malam ini, kamu melayani Mas" pintar nya penuh harap.


Melihat Gisel mengenakan daster tanpa lengan dan tanpa mengenakan baju dalam, membuat hasratnya bangkit.


Gisel mendengus kesal sebal, ia sudah lelah dan sedang tidak mood semenjak paket misterius itu datang, dia takut kebohongan nya dan pengkhianatan nya terbongkar di hadapan Bastian. Bastian bisa saja mencabut segala fasilitas yang ia dapatkan dan membuat ia menjadi miskin.


"Besok saja, kamu ngga denger aku tadi ngomong apa? Aku tuh capek, Mas!, CAPEK!." Usai berteriak, Gisel membanting tubuhnya ke ranjang dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


Sementara Bastian tangan nya terkepal kuat, hingga buku kuku nya memutih. Di hela nafas panjang, lalu Bastian meninggalkan Gisel di dalam kamar sendiri.


Gisel mendengar suara langkah kaki Bastian yang keluar dari kamar. Lalu ia bangkit dari tidurnya kemudian meminum air yang ada di atas nakas untuk meredakan dahaga nya.


Namun ada yang salah dengan tubuhnya, dia merasa lemas dan tidak bertenaga, mata nya pun terasa berat dan akhirnya ia merebahkan kembali tubuhnya di ranjang karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.


***


Keesokan harinya.


Gisel memijat pelan pelipis kepala nya yang terasa pusing. Gisel meraba samping kiri ranjang, tidak ada Bastian. Di tengok nya ke arah jendela ternyata sudah siang. Gisel melupakan pertemuan nya yang ingin bertemu dengan Dimas tadi malam.

__ADS_1


"Bagaimana ini? kenapa aku sampai ketiduran?." ucap Gisel bangkit dari ranjang kemudian berjalan ke arah pintu.


Gisel memegang handle pintu namun tidak bisa di buka.


Brak!,


Brak!.


Brak!.


"Bastian! bukan pintu nya!." ucap Gisel seraya menggedor pintu dari dalam.


"Duh, gimana ini? kenapa sih pintu nya di kunci daru luar?."


"Apakah Bastian sengaja mengurung nya di kamar?, tapi kenapa?, apa karena aku yang menolak melayani dia tadi malam?."


Gisel mencoba mengitari semua sudut kamar itu. Namun soalnya, tidak ada celah sediiutpun untuk ia bisa kabur.


"Aarrg! Bastian buka pintu nya!" teriak Gisel frustasi.


Brak!.


Tiba-tiba pintu di buka dengan kasar. Dua orang lelakibertubuh kekar masuk dan mendekati Gisel.

__ADS_1


"Siapa kalian?." tanya Gisel.


"Hahaaa, tidak usah banyak omong! cepat ikut kami!." ucap lelaki itu kemudian menyeret paksa Gisel.


"Lepas... tolong lepaskan aku!." seru Gisel berteriak.


"Lepas kalian ini siapa?." seru Gisel lagi.


Gisel terus memberontak dan meminta tolong. Sedangkan nampak seorang Assisten Bastian berdiri di pintu seraya tersenyum, dia adalah Bayu.


"Cepat bawa dia ke dalam mobil!." titah Bayu kepada dua lelaki bertubuh kekar tadi.


"Tolong...tolong...tolong siapapun tolong aku!." ujar Gisel.


Bayu berlari mendekati ke arah Gisel. Kemudian langsung menyuntikkan obat bius ke dalam tubuhnya.


"Ayo cepatnya dia kehidupan Bos Besad." ujar Bayu kemudian segera ikut masuk ke dalam mobil.


Mereka mengendarai mobil dengan sangat kencang. Hingga akhirnya tiba di sebuah rumah kosong yang ada di pelosok desa.


***


Gisel tersadar, matanya terbelalak kala ia melihat dirinya di ikat bersama dengan Dimas yang sedang tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2