Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
[60] Ajakan Maira


__ADS_3

Bastian bergegas ke Apartement Maira. Semenjak pulang dari Bangkok, Thailand. Mereka belum bertemu muka. Kesibukkan Bastian akhir-akhir ini begitu menyita waktunya. Pekerjaan yang di bebankan oleh orang tuanya membuat dirinya lupa waktu bahkan untuk sekedar menjawab telepon dari Maira.


Pekerjaan nya sebagai manajer hanya pekerjaan sampingan, sedangkan pekerjaan utamanya adalah sebagai manajer Perusahaan swasta milik keluarga angkatnya.


Bastian beruntung memiliki orang tau angkat yang menyanyanginya seperti anak kandungnya sendiri.


Maira akhir-akhir ini memang tidak ada kesibukkan. Belum ada tawaran syuting atau pemotretan akibat insiden yang menimpanya itu. Di tambah wajah nya yang berubah, sudah pasti tidak ada yang bisa mengenali nya.


Untuk mengurangi rasa bosan, Maira bermain handphone dan melihat social media instagram miliknya. Wanita itu naik pitam manakala ia melihat foto di instagram yang menandai akun Aisyah, mantan sahabatnya itu sedang bersama dengan seorang teman baik Maira dulu dan dua orang laki-laki yang tidak Maira kenali.


Kedua laki-laki itu begitu tampan, berkelas dan juga terlihat kaya raya, tapi setelah Maira memicingkan mata dan melihat foto itu lebih dekat. Maira merasa tidak asing dengan salah satu laki-laki itu.


Tanpa Maira ketahui bahwa Maira pernah bertemu dengan Aditya saat Dimas di tangkap Polisi, tapi mungkin Maira tidak menyadari itu karena situasi kondisi yang sedang kalut saat itu.


"Ini tidak bisa di biarkan!." gumam Maira yang melihat senyum Aisyah di foto itu. "Aisyah tidak boleh bahagia setelah apa yang ia lakukan padaku." lanjutnya.


Maira berjalan ke dapur meneguk segelas air perlahan, lalu duduk di atas kursi mencoba berpikir rencana apa yang akan di lakukannya untuk menghancurkan Aisyah. Karena tidak mendapatkan jawaban, Maira memilih melakukan hal lain saja.


Saat ini Maira juga sedang mencari peruntungan untuk bisa berjaya seperti dulu. Hidup terus berjalan, setelah dia menghabiskan hampir seluruh tabungan nya untuk operasi wajah. Kini dia harus berjuang kembali untuk bisa ke titik sebelum wajahnya rusak, yaitu menjadi Artis terkenal.


Mungkin di mulai dengan cara menerima endorse beberapa produk, baik produk kecantikan, fashion bahkan produk rumah tangga untuk bertahan hidup. Tentu nya bukan dengan identitas nya sebagai Maira.


Ketika Maira sedang membuat vidio, Bastian tiba-tiba datang. Sosoknya nampak di vidio segera Maira membalikkan badannya dan menghambur ke dalam pelukan Bastian.


Bastian hanya bisa tersenyum pahit saat Maira memeluknya. Mengingat bagaimana perlakuan wanita itu selama ini kepada dirinya.


"Ayo kita menikah, Tian!" ucap Maira masih dalam pelukan Bastian.

__ADS_1


Deg,... ucapan Maira membuat tubuh Bastian mematung. Bagaimana tidak, bertahun-tahun ia mendamba cinta dari sosok Maira, tapi tak kunjung Bastian dapat. Hanya pada saat Maira tidak memiliki sesuatu apapun dan hanya mengandalkan dirinya seperti sekarang ini, baru Maira menerima cinta dari Bastian.


Bastian melepaskan pelukan itu lalu di tatap wajah cantik wanita pujaannya itu. Mencari kejujuran di mata wanita itu. Namun Bastian masih belum yakin.


"Apa kamu serius?" tanya Bastian.


Maira menganguk dan tersenyum.


"Aku lelah dan cape karena sikap iri dengki membuatku sengsara. Aku ingin memulai kehidupan baru bersamamu."


***


Semburat jingga telah nampak begitu indah, sebentar lagi sunset pun akan terlihat jelas di depan mata. Hilir mudik wisatawan lokal dan Internasional begitu ramai.


Begitu juga Aisyah menikmati senja hari ini dengan berbagai macam pikiran muncul di benaknya. Aisyah bukan sedang memikirkan Dimas kali ini. Dia sudah tidak memikirkan lelaki itu lagi karena mereka pun sudah bercerai. Tapi Aisyah teringat perkataan Adel yang mengatakan apakah dirinya siap jika ada yang menawarkan menjadi penyembuh luka di hati?, Dirinya bukannya tidak tahu kalau Aditya sedang menaruh rasa kepada nya. Sesungguhnya Aisyah juga memiliki perasaan yang sama. Tapi dia tidak ingin terburu-buru.


Sepertinya Adel saat ini bersikap masa bodoh dan justru tidak mengambil pusing tentang semua perkataan Alex kepada dirinya. Terlihat dari senyuman nya yang sedang sibuk berfoto menikmati keindahan pantai Bali.


"Aisyah, ayo kita foto berdua!" ajakan Adel membuat Aisyah berdiri dan menghampirinya. Mereka berdua terlihat cantik dan sangat manis.


Tak jauh dari tempat Aisyah. Sepasang mata berwarna coklat begitu lekat memandang wanita berkaos putih itu. Pashmina berwarna bata begitu pas di kulit wajah Aisyah. Aura nya begitu berkelas dan Elegan.


"Kamu suka dia?" tanya Alex yang sejak tadi memperhatikan temannya itu.


"Hmz." Aditya berdehem karena dirinya pun tidak tahu apa yang di rasakannya. Cinta atau hanya suka, atau hanya kagum saja dengan wanita itu.


"Pepet aja terus, Bro. Jangan sampai lepas."

__ADS_1


"Iyah." Jawab Aditya dengan entengnya, tapi masih dengan memperhatikan Aisyah.


"Katanya Janda, mau sama janda?" Kini Alex langsung menghadap ke arah Aditya.


"Janda juga manusia, dia hanya kurang beruntung!." Sahut Aditya dingin tanpa ekspresi.


Alex mengiyakan karena dirinya pun sama menyukai wanita yang status nya Janda. Alex tak bersuara lagi saat Aditya menjawab dengan dingin. Lagian kalau di titik dari segi manapun, Aisyah dan Adel walaupun mereka Janda, mereka memang wanita idaman, cantik, ber-attitude, modis tapi sayang sama-sama keras kepala.


"Hayok samperin!" Ajak Alex dengan semangat. Aditya langsung menganguk dan mengekori Alex yang sudah melangkah duluan.


"Anteng sekali Kalian." Sapa Alex yang melihat Aisyah duduk di bangku dengan pandangan ke arah laut.


"Ngagetin aja!" seru Aisyah. Aisyah dan Adel hampir saja menjerit saking terkejutnya, membuat Alex membuat huruf o di mulutnya.


Alex dan Aditya duduk di bangku kosong di sana, tanpa Aisyah ketahui Aditya diam-diam mengambil foto Aisyah. Saat Aisyah berdiri di pinggir laut dengan background sunset yang hampir tenggelam sempurna.


Foto yang di ambil dari arah pinggir jadi tidak begitu jelas wajahnya, apalagi hari yang mulai gelap yang hanya memperlihatkan siliet. Dia tersenyum sambil menatap layar ponselnya, foto Aisyah begitu sempurna di matanya.


Hari semakin gelap, tapi suasana di sekitar pantai semakin ramai. Namun karena belum sholat Maghrib, Aisyah mengajak Adel pulang duluan. Sementara Alex dan Aditya masih di sana, ada rasa ingin ikut saat Aisyah pamit dan mulai menjauh, namun mengurungkan niatnya takut Aisyah jadi illfeel.


"Kamu mau ikut?, sono gih!" ucap Alex sambil menahan tawa nya. Aditya hanya mendelik pada temannya itu. Ia tahu sejak pertemuan ketiga mereka, Aditya sering mencuri pandang pada Aisyah.


Aditya kembali menunduk melihat layar ponselnya, "Apa yang aku rasakan ini?, setiap ada di dekat kamu hatiku berdebar, bahagia terkadang juga malu. apakah aku sedang jatuh cinta?, batin Aditya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2