Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 83


__ADS_3

"Bunda pergi keluar kota tadi pagi, mungkin menginap di sana." Jawab Aisyah.


"Syukurlah, tapi jika dia tahu beliau pasti syok dengan keadaan mu disini."


"Aku tidak apa-apa kak." ucap Aisyah tersenyum. "Terima kasih karena Kakak sudah mau datang menolongku."


"Sama-sama, walaupun kita belum menjadi suami istri aku akan tetap menjaga mu. Tapi bagaimana Dimas bisa masuk?."


"Entahlah Kak, saat aku mau tidur, dia tiba-tiba sudah ada di dalam kamar. Aku menelpon satpam tapi mereka tidak mengangkatnya."


"Mereka pingsan, kita harus membawa mereka ke rumah sakit juga."


"Iyah Kak. Terus bagaimana apa Mas Dimas di tangkap polisi?." tanya Aisyah.


"Belum. Tadi pas polisi datang dia kabur ke arah utara."


"Astaghfirulloh, terus gimana ini Kak? aku takut jika dia nanti ke sini. Ini sudah yang ke dua kali nya dia berhasil menerobos masuk ke rumah." ujar Aisyah cemas.


"Kamu tenang saja, tubuhnya terlalu lemah dia pasti tidak akan bisa kabur terlalu jauh." jelas Aditya membuat Aisyah sedikit tenang.


"Terima kasih sekali lagi yah kak, kakak datang tepat waktu sekali. Andaikan Kakak datang telat sedikit saja aku ngga tahu bagaimana nasib ku tadi."


"Iya sayang, ya udah kamu tenangin diri dulu. Kalau mau tidur, tidur aja. Biar aku jagain di luar." ucap Aditya setelah Aisyah selesai mengobatinya.


"Nanti dulu Kak. Aku tidak mengantuk." ujar Aisyah.


"Oh yah kamu ke sini naik apa?." imbuhnya.


"Astaghfirulloh aku sampai lupa. Mobil aku tadi tinggal di jalanan sebelum perempatan itu Sya." ujar Aditya yang teringat akan mobilnya.


"Terus dari perempatan ke sini kamu naik apa?." tanya Aisyah bingung.


"Lari." Jawab Aditya.


"Hahaaa...keren banget yah. Kayak di filem-filem gitu." ungkap Aisyah secara terkekeh.


"Keren apa yah, cape tahu Sya." protes Aditya.


Biarpun badan nya lelah, tapi dalam hati nya ia bahagia dan bersyukur. Ia bahkan akan menyalahkan dirinya sendiri jika dia telat.


Setelah menghubungi seseorang, mobil Aditya yang di tinggal di jalan tadi akhirnya di antar ke rumah Aisyah.


Ddrrrt.

__ADS_1


Ddrrtt,


Ponsel Aditya kembali bergetar, ternyata dari tadi ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Mamanya.


"Halo Ma."


"Halo Aditya gimana keadaan Aisyah?." tanya Malika kepada Anak lelaki nya melalui sambungan telepon.


"Alhamdulillah baik-baik saja Ma. Nanti sampai rumah Adit cerita." Jawab Aditya untuk membuat hati Malika tidak cemas.


"Syukur Alhamdulillah kalau begitu, Mamah jadi bisa tenang sekarang."


"Iyah Ma. Mama tidur duluan saja. Adit habis ini pulang." kata Aditya pada Mamanya.


"Iyah Nak. Kamu hati-hati."


Sambungan telepon pun terputus. Setelah itu Aisyah membuatkan minuman hangat untuk Aditya, mereka pun membahas rencana pernikahan yang satu bulan lagi akan di adakan.


***


Di tempat lain, Dimas tertatih di tengah kebun jati. Ia berhasil lolos dari kejaran petugas kepolisian. Ia kemudian bersembunyi di sebuah gubuk tua yang berada di tengah kebun jati.


"Sialan si Adit!, untung aku bisa lolos dari kejaran polisi." umpat Dimas seraya berbaring di gubuk tua itu.


"Awas aja kau Adit! akan ku buat kau menyesal karena telah berani ikut campur dalam urusan ku."kata Aditya dengan senyum licik.


***


Aditya mendapatkan kabar dari polisi yang melakukan pengejaran terhadap Dimas. Ia kembali emosi karena polisi gagal menangkapnya.


"Aarrghhh kenapa sampai bisa lolos sih!." geram Aditya pada ketiga polisi itu.


"Maaf Pak. Kami sudah sudah berusaha mengejar semaksimal mungkin. Namun pelaku berlari ke arah lapangan yang penuh dengan ribuan orang akhirnya kami kehilangan jejaknya.


"Bodoh!." umpat Aditya yabg tak bisa mengontrol emosinya.


"Astaghfirulloh. Istighfar Kak. Maaf yah Pak!." ujar Aisyah yang merasa tak enak hati kepada ketiga polisi itu.


"Tidak apa - apa Bu. Kami mengerti." ujar salah satu petugas polisi dari kepolisian itu.


Akhirnya mereka berunding untuk melakukan penangkapan terhadap Dimas Anggara. Mereka sepakat untuk melanjutkan pengejaran besok pagi.


Petugas polisi itu akhirnya pergi dari rumah Aisyah.

__ADS_1


"Kamu ikut aku pulang aja yah Sya!, Untuk sementara waktu kamu tinggal di rumah ku dulu sampai Dimas tertangkap. Kalau perlu nanti Bunda mu menyusul ke sana."


Aisyah pun setuju dengan keputusan Aditya. Aisyah berkemas membawa beberapa baju dan juga milik Bunda nya. Biar besok pagi Aisyah akan menelpon Sonya agar Bunda nya tidak khawatir karena mendapati rumah yang kosong.


***


Di Gubuk tua itu, Dimas merasa kelaparan. Ia sama sekali tak membawa uang sepersen pun. Bahkan ponselnya pun tertinggal di rumah, bagaimana dia bisa menelpon Maira untuk menolongnya?. Kesadarannya kini mulai pulih dari pengaruh obat-obatan yang di konsumsinya.


Ia teringat jika kemarin sore ia hendak melakukan transaksi jual beli sabu dengan orang Aceh. Namun transaksi itu gagal karena terendus oleh petugas polisi. Anak buah yang ia suruh untuk melakukan aksi itu rupanya di jebak oleh seorang oknum yang memang sudah lama mencium gelagat mereka.


Beruntung pada saat transaksi Dimas lebih memilih untuk memantau dari dalam mobil. Hingga dia akhirnya bisa kabur ketika polisi menangkap dua anak buahnya.


Dimas pulang ke rumah dengan pikiran kalut. Ia menceritakan kejadian tadi pada Maira, saat itu Maira ada di rumah. Bukannya mendapatkan ketenangan ia justru di caci habis-habisan oleh Maira.


"Dasat bodoh!, ngga ada otak kamu!. mana ada COD barang haram di depan mesjid!." hardik Maira kasar.


Maira kesal dan sekarang posisi nya juga terancam. Mungkin untuk beberapa hari ke depan dia tidak akan bertemu dengan Dimas dulu.


"Ya, aku cuman nurut aja sama konsumen nya." Jawab Dimas lesu.


"Iya namanya juga bodoh!, Aku tak mengira jika mantan Ceo perusahaan terkenal bisa di bodohi gitu aja. Apa kamu nggak curiga Mas? mereka membeli sabu dalam jumlah banyak namun hendak membayar secara Cash. Apalagi COD di depan mesjid yang jelas-jelas banyak orang dan ada cctv."


"Kok kamu jadi nyalain aku?." Dimas mulai tersulut emosi.


"Iyah emang kamu yang salah. Pokoknya aku ngga mau tahu. Kamu harus bisa beresin masalah ini secepatnya, aku nggak mau yah terbawa-bawa apalagi jika Bastian tahu soal ini."


"Yah nggak bisa begitu, Sayang. Kamu juga harus bantuin aku." protes Dimas namun Maira tidak menghiraukannya.


Dimas pun akhirnya pergi ke rumah Gito. Di sana Gito mengajak Aditya untuk datang ke konser dangdut yang di adakan di dekat lapangan perumahan Aisyah. Dimas awalnya menolak karena takut ketahuan polisi, namun akhirnya ia terburuk juga oleh rayuan Gito hingga akhirnya ikut ke sana.


Di pojok lapangan yang gelap mereka berpesta miras dan narkotika. Dimas mengkonsumsi dengan jumlah yang sangat banyak sehingga membuat dirinya oleng.


Ia tiba-tiba membanyangkan wajah Aisyah, ia kemudian keluar dari gerombolan dan berniat mendatangani Aisyah.


Nasib sial lagi-lagi menimpa Dimas, dia kini harus menjadi buronan 2 kasus sekaligus. Ia ingin keluar dari kebun jati itu namun ia takut polisi masih berkeliaran di sekitar sini.


"Aaarghhh satu masalah belum selesai kini malah nambah lagi!." Dimas meremas rambut nya dengan frustasi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2