
"Iyah sama-sama, terus kapan nih rencana nya mau bikin usaha?. Biar aku bantu gitu, barangkali ada yang bisa aku bantu."
"Hmmm terima kasih banyak Din. Mungkin aku akan bicarakan ini dulu sama Papahku. Kamu tahu sendiri kan uang itu punya Papahku, walaupun memang Papah sudah meng amanah- hi uang itu untuk aku gunakan. Tapi setidaknya aku minta ijin dulu kepada beliau." ucap Sindy.
"Itu bagus kamu meminta ijin dan meminta restu pada beliau supaya usaha kamu lancar dan berkah." ucap Dina tersenyum.
"Iyah Din."
Keesokan hari nya, bersyukur Papahnya menyetujui rencana Sindy, dia mendukung penuh usaha anaknya itu. Sindy mulai belanja keperluan usaha kecil-kecilan nya setelah itu dia sedikit mendesain rumah nya agar terdapat untuk tempat untuk menata barang - barang yang akan ia jual nantinya.
Dengan bantuan Dina dan juga beberapa pihak tetangga serta pihak lain yang di mintai Sindy untuk membuat tempatnya, semuanya berjalan dengan lancar hingga akhirnya warung kecil-kecilan milik Sindy jadi. Sindy mulai jualan hari itu juga. Dan tak menyangka ternyata banyak juga orang yang di sekitar yang belanja kepadanya. Selain letak rumah nya yang strategis karena terletak di tengah penduduk yang lumayan padat, di sekitar itu juga belum ada warung yang buka selain dirinya. Dia juga di ajari beberapa trik jualan oleh Dina yang ia ketahui tentang bagaimana berjualan yang baik dan benar.
Sindy sangat senang bisa menghasilkan uang walau tak seberapa. Yang penting dia bisa menyambung hidup untuk kehidupan dirinya dan juga Ayahnya ke depan.
Flashback Off
"Kamu tidak ke pasar, Nak." tanya Edmund yang melihat putrinya duduk di sofa sambil menonton televisi.
Sindy menengok Ayah nya yang duduk di kursi roda menatapnya, mungkin Edmund heran karena biasanya Sindy sudah pergi ke pasar sejak subuh untuk membeli keperluan jualan nya, tapi sudah sampai jam 6 pagi Sindy masih berada di rumah.
"Aku libur dulu, Pah."
"Emang ada apa?."
"Nanti siang, Sindy mau ikut kelas memasak bersama Dina lewat temannya. Sindy mau mengasah dan mengembangkan potensi Sindy biar bisa membuka warung makan di sini Pah." ucap Sindy pada Papahnya.
Edmund menatap haru perubahan putrinya, Sindy. Dia sekarang menjadi pribadi yang pekerja keras dan tidak manja seperti dulu.
"Apakah penghasilan dari warung tidak cukup, Nak untuk kebutuhan kita berdua." Tanya Edmund.
"Bukan seperti itu Pah, Sindy hanya berpikir ingin membuka warung makan, entah kenapa itu menjadi tantangan baru untuk Sindy sendiri. Keuangan kita emang sudah lebih baik sekarang, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Setidaknya Sindy pengen punya karyawan lah Pak." ujar Sindy yang pandangan masih lurus ke depan televisi.
"Papah mendukung apapun yang kamu lakukan asalkan itu positif. Papah bangga melihat kamu yang seperti ini, Papah jadi mengingat Aisyah dalam diri kamu."
Mendengar nama Aisyah di sebut, Sindy mengalihkan pandangannya ke arah Papahnya "Itu semua karena nasehat Papah untuk Sindy terutama doa Papah juga. Sindy akan jadikan Mbak Aisyah sebagai panutan Sindy untuk bisa merubah Sindy ke arah yang lebih baik lagi." ucap Sindy tersenyum.
"Tetaplah seperti ini, Nak. Jika kamu berhasil dan sukses kamu harus tetap rendah hati dan tidak sombong yah, Nak." ucap Edmund tersenyum.
__ADS_1
Sindy menganguk.
.
.
.
Siang hari nya, Sindy datang ke rumah Dina untuk pergi bersama ke rumah temannya. Rumah Dina juga sederhana, tidak mewah namun sangat nyaman. Dina seorang single parent yang memiliki anak satu bernama Resti, dia juga seorang pekerja keras.
Awalnya Dina bekerja sebagai karyawan swasta dan anaknya di tinggal bersama neneknya tapi karena Resti sekarang tidak ingin di tinggal bekerja. Jadi Dina memutuskan untuk belajar mengembangkan potensi nya supaya bisa membuat usaha yang bisa di kerjakan di rumah saja. Kebetulan Dina memiliki teman yang mau mengajari mereka untuk belajar memasak.
"Resti Ibu ada?." tanya Sindy kepada putri Dina yang sedang bermain di teras.
"Ada Tante. Di dalam." ucap Resti yang usia baru 5 tahun itu.
"Terima kasih Cantik, Tante ke dalam dulu yah mau menemui Ibu." ucap Sindy yang di balas anggukan oleh gadis kecil itu.
Sindy melangkah masuk ke dalam rumah Dina.
"Waalaiakumsalam." Jawab Dina yang datang dari arah kamar.
"Udah siap Jeng?." tanya Dina.
"Siap dong. Ayo kita berangkat sekarang."
"Ayo." Sindy dan Dina berjalan melangkah bersama bergandengan ke arah luar namun tiba-tiba Sindy menghentikan langkahnya. "Terus Resti gimana?." tanya Sindy.
"Ada nenek nya, tuh lagi di belakang." ucap Dina.
"Oh ya udah Ayo!."
Mereka berjalan beriringan sudah ada mobil yang menunggu mereka, Dina ternyata sudah memesan Gr*bcar lalu Dina pamit kepada anaknya Resti.
.
.
__ADS_1
.
Perjalanan mereka menempuh selama setengah jam. Sesampainya di tempat tujuan, Sindy dan Dina turun dari mobil lalu berjalan menuju bangunan yang paling mewah.
Saat sudah mendekati pos Satpam, "Pak, kami mau bertemu dengan Adel!. Kami sudah membuat janji!." ucap Dina pada Satpam di sana.
"Oh baik Nona. Silahkan masuk, sudah di tunggu Non Adel di dalam!." ucap Satpam tersebut.
"Ayo Sin!." Ajak Dina pada Sindy namun di tarik dan di hentikan oleh Sindy. "Din, ini beneran rumah temen kamu?, apakah dia yang akan mengajarkan kita memasak."
"Iya Sindy, Adel itu temen aku. Dia memang jadi anak orang kaya sekarang karena Ibu nya menikah dengan seorang pengusaha. Tapi dia orang nya baik dan gak sombong walaupun sekarang dia sudah kaya. Ayo!." seru Dina menggandeng tangan Sindy.
Sindy dan Dina sudah masuk ke dalam rumah Adel.
"Hai Adel!." panggil Dina melihat teman karib nya sedang duduk di sofa.
Wanita yang bernama Adel itu pun tersenyum melihat kedatangan tamu nya lalu menghampiri keduanya.
Sejak saat itu Sindy berteman dengan Adel. Adel mengajari keduanya memasak berbagai macam kue maupun berbagai macam jenis masakan lainnya. Keduanya senang karena Adel tidak pelit ilmu.
Semua yang di ajarkan Adel terus di kembangkan oleh keduanya hingga tak terasa mereka sudah lumayan mahir memasak kue maupun beberapa jenis masakan lainnya. Mereka juga sekarang sudah bisa membuka usaha toko kue bersama di daerah tempat tinggal mereka.
***
Di lain tempat, Dimas sedang menunggu Maira di Cafe. Kemarin saat ia tahu bahwa keluarga nya telah menjual rumah mereka, Dimas tidak tahu harus mencari keluarganya kemana. Jadi dia menghubungi Maira alias Gisel untuk meminta bantuan.
Dimas melambaikan tangannya saat seorang wanita cantik sudah tiba di depan pintu masuk Cafe. Wanita cantik itu berjalan mendekat ke arah Dimas.
"Hai!." ucap Wanita cantik itu tersenyum saat sudah sampai di meja Dimas.
Dimas tersenyum melihat wanita pujaan hati nya sudah datang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1