Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 88


__ADS_3

Setelah saling memaafkan di atas pelaminan, Sindy dan Edmund turun dari pelaminan. Kemudian mereka menikmati hidangan yang tersedia di sana.


Semua alunan musik dihentikan karena memasuki waktu sholat dzuhur tentu sebentar lagi akan Adzan. Aisyah masuk untuk berganti baju.


Di dalam kamar ganti, Aditya kini sedang berganti baju. Sedangkan Aisyah sedang di touch up make up nya.


"Kamu bahagia Yank?." tanya Aditya berdiri di samping istrinya.


"Tentu saja, kamu?." Aisyah malah bertanya balik tanpa malu. Aditya terkekeh mendengar pertanyaan istrinya.


"Tamu sampai selesai nya?." alih-alih menjawab Aditya malah mengalihkan pertanyaan lain.


Kamu kok ngga jawab pertanyaan?." Jawab Aisyah cemberut.


"Bahagia, bahagia banget. Makannya aku nanya itu tamu nya kapan selesainya?." ucap Aditya dengan pelan sambil mencodongkan tubuhnya. Membuat Aisyah mendorong dada suaminya yang tengah mendekat.


"Ehem." deheman perias menyadarkan merek berdua.


Setelah selesai, kedua nya langsung kembali ke pelaminan setelah siap. Begitu pun orang tua mereka. Tamu yang hadir masih banyak sekali yang ingin mengucapkan selamat kepada kedua pengantin.


***


Hari semakin sore, para tamu mulai berkurang, Aisyah sejak tadi memijat betisnya yang terasa ngilu, mungkin karena terlalu lama berdiri dan baru saja duduk. Aditya memandang sang istri dengan rasa kasihan.


"Betisnya sakit?." tanya Aditya dengan sorot mata khawatir. Aisyah menganguk tanpa menjawab. Wajah lelah nya terlihat begitu jelas. Itu karena sejak beberapa hari yang lalu Aisyah sibuk ke sana ke mari. Belum lagi waktu prewedding yang sangat menguras tenaga. Wajar kalau Aisyah merasa kecapean di hari ini.


"Ya udah kita masuk, Yuk!." Ajak Aditya.


"Tapi tamu nya masih ada, Mas. Gimana kita mau masuk?." sahutnya lemas.


"Dari pada nanti kamu sakit, iya kan?." ucap Aditya.


Malika yang sejak tadi memperhatikan kedua pengantin mendekat dan menanyakan ada apa."


"Ini Mah, Aisyah seperti nya kelelahan, betis nya katanya sakit banget." terang Aditya sambil hendak menggapai kaki sang istri.


"Ya sudah masuk aja gih! Ga papa kok!. Tamu nya juga sudah sedikit berkurang. Nanti kalian langsung ke hotel aja yah!." ucap Malika sembari mengedipkan sebelah matanya.


Pipi Aisyah bersemu merah mendengar itu sementara Aditya hanya tersenyum.


***


Sementara di gedung kosong masih berlanjut siksaan untuk Maira dan Dimas.


"Bagaimana kamu ingatkan?." tanya Bayu sembari memegang dagu Maira dan menyentaknya dengan kasar.


"Gimana ini Bos? laki-laki ini belum juga sadar?" ucap salah satu anak buah Bayu lalu mengalihkan pandangan ke arah Dimas yang tampak lemas dan masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Ambil air! siram pakai air! bila perlu pakai air got." kelakar Bayu sembari di susul gelak tawa dari dua orang itu.


Byuurr!!


Dua orang tadi menyiram Dimas dengan air bekas cucian. Dimas langsung membuka matanya dan gelagapan.


"Banjir, banjir." seru Dimas.


Tiga lelaki itu terbahak melihat ekspresi Dimas yang panik.


"Banjir air mata." ujar salah satu nya dengan sinis.


Maira terdiam namun dengan tatapan nyalang.


"Maira?." lirih Dimas yang melihat Maira tidak jauh keadaan nya seperti dirinya.


"Siapa kalian? kenapa kalian melakukan ini kepada kami? apa salah kami?." Seru Dimas dengan lantang.


"Penderitaan kalian baru saja di mulai hahahaa." ujar Bayu pelan namun dengan tatapan tajam.


"Bos, Bos Bastian datang!." ujar salah seorang anak buah berbadan kekar tadi.


"Baik suruh masuk sekarang juga." titah Bayu.


Maira dan Dimas saling berpandangan.


Kriett...


Pintu gerbang di buka oleh seorang lelaki bertubuh kekar tadi.


"Bastian?." lirih Maira.


"Benar Maira aku Bastian yang mencintai mu namun berulang kali kau mengkhianati aku dengan lelaki yang sama. Dan sekarang aku akan membuatmu tersiksa karena sudah berani mempermainkan perasaan ku." ucap Bastian seraya berjalan mendekat ke arah Maira.


"Sayang ini tidak seperti yang kamu kira. Aku sangat mencintaimu, Aku tidak selingkuh dengannya." rayu Maira kepada Bastian berharap Bastian luluh.


"Cuih jangan kau umbar kata cinta mu itu. Aku jijik mendengar nya. Kamu itu wanita yang tidak tahu malu, sudah aku angkat derajat nya saat semua orang mencemoh dirimu tapi apa balasannya?. Sudah lah aku tidak ingin menceritakan bagaimana bodohnya aku dulu." ucap Bastian lalu membuka tali ikatan Maira lalu beberapa orang datang menghampiri Maira terlihat sangat ketakutan.


Dimas yang melihat itu geram, matanya melotot saat tiba-tiba orang-orang itu menyeret Maira ke tengah gudang dan tepat berada di hadapan Dimas.


"Hei apa yang kalian lakukan?." teriak Dimas yang merasa khawatir dengan keadaan Maira yang di seret dan di lecehkan beramai-ramai.


"Tolong.... tolong aku Mas Dimas!." jerit Maira kala pakaian nya di lepas paksa oleh beberapa orang tadi.


Beberapa gelak tawa menggema di dalam gedung ini. Tanpa kecuali Bastian dan juga Bayu, mereka memandang sinis dan tanpa ada rasa kasihan kepada kedua musuh nya itu.


"Selamat menyaksikan kehancuran kekasih mu Dimas!." kelakar Bastian ketika ke empat orang tadi menggagahi Maira dengan sangat brutal. Mereka bergilir menggauli Maira.

__ADS_1


Tak hanya itu mereka juga melakukannya dengan berbagai kekerasan terhadap Maira. Mereka berempat adalah rombongan lelaki yang memiliki fettish.


"Aaarggght tolong aku, Mas!." racau Maira.


"Br*ngs*k kau Tian." Umpat Dimas menatap tajam Bastian.


Bastian tidak terima lalu mendekat ke arah Dimas dan memberikan pukulan di wajah Dimas hingga ia tersungkur ke belakang yang membuat bibir Dimas berdarah.


Bayu merasa puas karena dendam nya kini sudah terbalaskan. Saat tahu sepupu nya Aisyah di sakiti oleh Maira yang notabe adalah sahabatnya, Bayu tidak tinggal diam dia mencari keberadaan Maira selama ini semenjak ia hilang di hutan, dan tidak menemukan keberadaan Maira.


Baru beberapa bulan kemudian dia tahu jika Maira mengoperasi wajah dan mengganti namanya lalu di bawa oleh mantan manager nya Bastian dan menjadikan Maira sebagai Istri.


Bayu berusaha membongkar kelakuan busuk Maira bersama Dimas di belakang Bastian yang memanfaatkan harta kekayaan Bastian.


Butuh waktu sedikit lama akhirnya Bastian percaya dan merencanakan siksaan ini.


Maira terkulai lemas, empat orang tadi menghentikan aksinya saat melihat Maira sudah tak berdaya.


"Kau, kau dan kau awasi mereka jangan sampai mereka kabur!." titah Bastian dengan menunjuk anak buahnya.


"Siap Bos!." Jawab mereka serempak.


Bastian, Bayu dan ke empat orang tadi pergi meninggalkan gudang dengan tawa yang begitu riang.


***


Aisyah sudah berganti baju dengan menggunakan dress midi berbahan rayon dan menyelonjorkan kaki nya. Aditya baru saja keluar dari kamar mandi karena akan bersiap untuk sholat maghrib. Begitu takjub dengan penampilan Aisyah yang tanpa hijab pashmina nya. Rambut di bawah bahu yang di warna asyik gray. Sungguh jauh dari sangkaan Aditya selama ini. Aditya menyangka penampilan pada umumnya rambut hitam biasa saja.


"Kenapa?." tanya Aisyah yang melihat Aditya mematung di hadapannya.


"Euuu...nggak." Aditya tergagap dan tersenyum.


Dia begitu mengagumi Istrinya yang begitu cantik, meski tanpa hijab. Kulit yang putih bersih membuat Aditya menggeleng kepalanya.


Pria itu langsung menarik koper yang di bawanya tadi pagi, mencari sarung dan kopeah untuk ke mesjid meninggalkan Aisyah katanya tidak ikut sholat karena tamu bulanan nya baru saja datang.


Seperti nya tidak akan ada malam pertama malam ini.


"Huh." Aditya menghela nafas lalu keluar dari kamar setelah berpamitan kepada Aisyah. Aditya berencana untuk sholat berjamaah di mesjid hotel saja.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2