Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 80


__ADS_3

"Terima kasih ya Kak, kakak sudah mengembalikan semua kebahagiaan yang pernah hilang." ujarnya seraya melepaskan pelukannya.


"Maaf kelepasan." Aisyah terlihat salah tingkah.


"Ngga papa yang penting ngga kebablasan aja." sahutku terkekeh.


"Indah banget yah kak pemandangan di sini." tukas Aisyah dengan senyum yang mengembang.


"Iyah seindah wajah cantikmu." sahutku.


"Mulai deh gombal." ucapnya seraya mencubitku. Kemudian ia sembunyi di balik tirai.


Aksi kejar-kejaran pun kembali terjadi.


"Kena kamu." seraya mendekap tubuh Aisyah.


Kami tertawa terbahak-bahak.


"Lepasin Kak, ingat kita belum halal." Refleks aku langsung melepaskan tubuhnya.


Kulihat ke arah langit dan ternyata matahari hampir tenggelam.


"Sya, lihat matahari nya mulai tenggelam."


"Wah, pesona sukses dari pantai ini benar-benar bagus bagus." ujarnya benar-benar terpukau dengan pemandangan di sini.


Aku berjongkok kemudian mengeluarkan kotak dari saku celana.


Seorang pemain biola datang memainkan alunan musik, menambah kesan romantis. Kuraih tangan Aisyah dan kemudian menggenggam nya. Aisyah menengok dan terkejut karena melihatku sedang berjongkok.


"Aisyah, aku yakin kamu memiliki perasaan yang sama untukku, tapi aku ingin mendengar secara langsung. Maukah kamu menerima cintaku?."


"Kak." Aisyah menyentuh pundakku.


"Mau kah kamu menjadi pendamping hidupku? Siapakah kamu menjadi permaisuri seumur hidup?."


"Em..." Aisyah bergeming.


"Kalau aku nggak siap gimana?." ucapnya mengalihkan pandangan.


Deg.


'Apa aku di tolak?,' batinku gelisah.


Jantungku rasanya berhenti berdetak saat ini juga.


"Nggak siap nolak maksudnya." ujarnya membuat jantungku berdetak kencang.


"Ngga siap nolak? berarti mau dong?." tanyaku memastikan.


"Iyah." jawabnya tersenyum.


"Yes kita nikaaaaah." seruku girang.


Kusematkan cincin berlian yang khusus kupesankan untuknya. Cincin itu diukir dengan inisial nama kita berdua. Jari lentiknya kini lebih terlihat cantik sekali.


Aisyah tersenyum penuh bahagia. Ia memandang mata ku dengan penuh cinta. Rasanya tak sabar untuk memiliki wanita idaman


ku itu seutuhnya.

__ADS_1


Ku bopong tubuh Aisyah menuju tengah Dermaga. Aisyah menjerit minta di turunkan tapi aku tidak menggubris.


"Turunin Kak, nanti jatuh."


"Udah sampai." ucapku sembari menurunkan Aisyah dari gendonganku.


"Kakak jahil banget sih!." gerutu Aisyah.


"Tapi kamu seneng kan?."


Seru Ombak saling bersahutan, alunan musik dari biola mengalun dengan syahdu. Puluhan lilin menyala membentuk Love. Kini aku dan Aisyah duduk bersama menikmati makanan sembari menikmati pemandangan langit malam yang bertabur bintang dan di sinar sinar bulan yang terang.


"Kamu sama Mamah tadi ngobrol apa, Syah?." tanyaku ketika kami menikmati makanan.


"Mamah tadi sudah melamarku duluan untuk mu, Ka. Beliau sudah memintaku untuk menjadi menantu nya secara langsung. Katanya kalau aku masih ragu aku bisa sholat istikhoroh dulu biar benar-benar yakin dengan keputusanku."


"Mamah itu sudah sangat ingin memiliki cukup dan menantu, Sya. Makanya dia mendesakku untuk segera menikahimu." Aisyah tersipu malu mendengar ucapanku.


"Kenapa senyum-senyum gitu?." tanyaku seraya menakutkan alis.


"Lucu aja kalau banyangin kita udah nikah, pasti kakak nakal bucin banget sama aku." ucapnya percaya diri.


"Dih siapa juga yang bucin, biasa aja kok."


"Udahlah Kakak ngga usah sok jaim gitu, kalau ngga bucin kakak ngga bakalan niat banget desain dermaga ini sedemikian rupa." Aisyah tertawa renyah, serenyah ranginang di hari lebaran. Wkwkwkwkkk.


"Iyah yah deh aku ngaku." ujarku mengalah.


Alhamdulillah hari ini aku sangat bahagia sekali. Akhirnya penantian ku selama ini tidak sia - sia. Karena aku tahu bagaimana sulit nya untuk Aisyah membuka diri untuk menjalin hubungan lagi. Ternyata perjuanganku membuahkan hasil.


Satu langkah menuju pelaminan, semoga saja selalu di berikan kelancaran sampai hari pernikahan tiba.


****


"Adit, gimana Aisyah kemarin? Mamah tahu kok kalau Aisyah tidak akan menolak karena beberapa hari kemarin dia setuju hanya saja Mamah takut dia berubah pikiran. Dan Mamah ingin tahu bagaimana ekspresinya?."


"Satu-satu Mah!."


"Alhamdulillah Mah, Aisyah memang tidak menolak Adit. Dan Mamah tahu ekspresi Aisyah itu terlihat sangat bahagia sekali melihat kejutan makan malam romantis di serta lamaran, Mamah tahu kan bagaimana pengalaman Aisyah pertama menikah hanya di rumah sakit bahkan usianya masih muda dulu." ujarku.


"Iyah Mamah tahu, bukan Mamah bahagia dengan kegagalan Aisyah di pernikahan pertamanya. Tapi berkat itu anak Mamah ini tidak kelamaan jomblo." ucap Mamah lalu mencoel daguku. "Kamu bahagia juga kan Nak?." tambah Mamah.


Aku menganguk dan tersenyum.


"Jadi kapan kamu akan menikah?." tanya Mamah.


"Baiknya kapan?." Aku minta pendapat Mamah.


"Lebih cepat lebih baik sih." Jawab Mamah. Aku pun menganguk membenarkan jawaban Mamah.


Tiga bulan lagi gimana Mah?." ujar ku. Mamah mendelik tajam ke arahku.


"Lama banget!, bulan depan aja!." ujar Mamah membuatku memutar bola mata.


"Emang cukup waktunya Mah. Buat nyiapin semuanya." tanyaku.


"Cukup. Nanti Mamah yang atur semuanya. Kalian hanya tinggal feeting baju pengantin saja." ujar Mamah sangat antusias sekali.


"Mamah semangat banget." pujiku membuat Mamah tersenyum.

__ADS_1


"Mamah bahagia banget, ini akan menjadi pesta pernikahan di rumah kita. Saat Adel menikah dulu, Mamah menyiapkan pernikahan hanya seadanya saja. Jadi Mamah ingin memberikan yang terbaik untuk pernikahan kamu nanti dan mudah-mudahan Adel juga bisa menikah lagi nanti, supaya Mamah bisa menyiapkan untuknya." ujar Mamah tersenyum.


Aku tersenyum, "Mudah-mudahan Mamah di beri umur panjang untuk bisa menyaksikan pernikahan ku dan Adel nanti."


"Aamiin."


"Ya sudah kamu hubungi Adel, Mamah heran kenapa dia tidak pulang. Apa saking sibuk nya?. Suruh dia pulang seminggu sebelum kamu menikah." titah Mamah dan aku menginyakan.


Mang Mamat satpam di rumah ini berjalan tergopoh-gopoh mengahampiriku yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Ada apa Mang?." tanyaku.


"Di depan ada tamu yang mencari tuan." jawabnya.


"Siapa?."


"Perempuan Mas, ngga nyebutin namanya." Jawab Mang Mamat membuatku penasaran.


Aku menyibakkan tirai untuk melihat siapa yang datang.


"Sherin?, ngapain dia ke sini?." gumamku ketika melihat Sherin sedang berdiri di depan pos Satpam seraya memandangi rumah ini.


"Gimana Mang?." tanya Mang Mamat padaku.


"Mamang bilang saja kalau aku lagi sibuk dan nggak bisa di temui." Aku sengaja menghindari wanita licik itu. Aku yakin dia ke sini hanya untuk mencari gara-gara.


"Baik Tuan." ucap Mang Mamat berjalan kembali ke depan.


"Aku terus mengintip dari jendela.


"Maaf Neng, Tuan Adit sedang sibuk dan gak bisa di ganggu oleh siapapun." Mang Mamat berkata dengan ramah pada Sherin.


"Bilang yang datang Sherin, calon pacar nya." ucap Sherin dengan percaya diri. Emang dasar tak tahu malu, dia yang dulu meninggalkanku sekarang datang mengaku calon pacar. Siapapun tidak ingin masuk ke lubang yang sama. Bagiku Sherin hanya masa lalu dan sekarang ada Aisyah yang menjadi masa depanku.


Mang Mamat terlihat memandangi dari atas sampai bawah. Dia pasti tidak percaya dengan ucapan Sherin. Hanya kebodohan ku dulu bisa memiliki pacar seperti nya yang tukang selingkuh.


"Maaf Neng. Saya hanya menjalankan perintah. Neng bisa datang lain waktu." ucap Mang Mamat kekeh tidak mengizinkan Sherin masuk.


"Hih.. Ya udah itu makanannya tolong kasihkan untuk Aditya ya. Suruh habisin makanannya." Setelah memberikan sebuah paperbag berisi makanan, Sherin pergi dengan menghentakkan kakinya.


"Mang itu makanannya buat Mang Mamat aja." ujarku pada pria ini yang sudah 5 tahun menjadi satpam.


"Wah terima kasih banyak Tuan, tapi saya sudah makan tadi." Jawab Mang Mamat.


"Ya sudah Mang Mamat kasih aja ke tukang ojek depan sana. Tapi di pindah kan dulu ke dalam kotak yah." titahku.


"Baik Tuan." Jawab Mang Mamat lalu mengerjakan sesuai dengan perintahku.


Ting!.


Ting!.


Ponsel yang dalam genggaman ku berbunyi. Setelah melihat ternyata ada pesan dari nomer tak di kenal.


[Makanan nya di habiskan yah Adit, itu spesial aku masak dengan bumbu spesial untuk kamu, Sherin.]


"Tumben si ulat bulu baik, sampai kirim makanan segala."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2