Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 81


__ADS_3

"Ini Tuan rekaman cctv yang anda minta." ucap salah seorang anak buah lalu menyerahkan usb pada atasannya itu.


"Bagus." Jawab atasan nya yang tak lain adalah Bastian kemudian ia tersenyum penuh misteri.


...----------------...


POV Aditya.


Hari telah berganti, pagi ini aku telah siap untuk berangkat ke kantor. Mobil sudah kunyalakan, saat baru saja keluar dari pintu gerbang lalu di stop oleh seorang wanita.


"Adit...Tunggu!." seru Sherin memanggilku.


Ulat bulu itu lagi, ngapain sih dia kesini terus?.


"Minggir!. Atau kau kutabrak." bentakku padanya dari dalam mobil.


"Loh kok ngga ada reaksinya sih?." gumamnya lirih tapi masih bisa ku dengar.


"Makanannya enak nggak kemarin Adit?." tanya Sherin tersenyum.


"Ngga tahu. Aku ngga makan. Tanyain aja tukang ojek itu." tunjukku pada tukang ojek yang hendak ke sini.


"Hai manis... hai cantik. Yuk jalan-jalan sama abang." ucap abang tukang ojek itu setelah berhenti tepat di samping Sherin.


"Ih apaan sih kamu." seru Sherin mengibaskan tangan yang di sentuh pria itu.


"Adit, makanan nya kamu kasih ke dia?." tanya Sherin lagi.


"Iya, kenapa?."


"Kok gitu sih, aku masak spesial buat kamu loh." grutunya.


Aku turun dari mobil kemudian mendekati Sherin. Ia tersenyum girang melihatku turun menghampirinya.


"Dengar aku baik-baik! Aku ingatkan sekali lagi. Kalau kamu berani mengusik kehidupanku dengan Aisyah kepastikan rahasia mu akan terbongkar! Paham kamu!." ucapku penuh penekanan tepat di hadapannya.


"Rahasia apa sih?." ujarnya polos.


"Oh... ya kamu lupa atau pura-pura lupa yah?," tanyaku sambil melotot tajam ke matanya.


"Adit, aku itu cinta kamu. Kamu tahu kan bagaimana kita saling mencintai dulu. Kamu pasti masih ada rasa sama aku yah kan?." ucap nya dengan percaya diri.


"Kebodohan terbesar ku adalah pernah mencintai mu dulu, rasa cinta dulu hilang bersama saat kamu meninggalkanku selingkuh dan lebih memilih dia. Tapi aku bersyukur dan menyadari bagaimana murahan nya dirimu itu. Cih!." ucapku seraya meludah dan memandang jijik wanita yang pernah menjadi kekasih ku dulu.


"Neng Sherin sama abang aja!, Abang cinta sama Neng Sherin." Pria tukang ojek itu menyeret dan langsung mendekapnya.


"Lepas...lepasin!." teriak Sherin seraya memukul pria yang memeluknya dari belakang.


"Adit... tolongin aku dong!." rengeknya padaku.


"Hahaa makan tuh cinta!, dasar Sinting kamu. Untung bukan aku yang makan kemarin." ujarku kemudian masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Sherin masih berada di pelukan pria itu sembari terus berteriak. Kubunyikan klakson panjang agar mereka minggir. Kemudian kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kantor. Gara-gara ulat bulu itu aku terlambat 5 menit.


***


"Adit ... Mama sudah siapin MUA dan wedding organizer yang bagus untuk pernikahan kalian." Mama menghampirikyyang baru saja pulang dari kantor.


Aku menyalami mama terlebih dahulu kemudian duduk di ruang tamu.


"Alhamdulillah..." ujarku menimpali ucapan Mama.


"Kamu mau konsep yang gimana, Nak?." tanya Mama.


"Adit sih udah ada ide Ma, tapi nanti coba tak diskusikan dulu sama Aisyah ya." ujarku.


"Iya bagus itu. Nanti, kalau kalian sudah berumah tangga sekecil apapun urusannya selalu diskusikan bareng-bareng ya."


"Meskipun kamu sebagai kepala rumah tangga, tetapi kami harus selalu minta pendapat istrimu ketika ingin memutuskan sesuatu hal."


"Begitupun sebaliknya, jika istri sedang mengalami masalah kamu harus selalu membantu memecahkan masalah tersebut bersama."


"Mama percaya sama kamu, Adit. Mama yakin kamu mampu menjadi suami yang baik. Dan kelak menjadi seorang Ayah yang tanggung jawab untuk keluarganya."


Mama begitu banyak memberikan nasihat-nasihat tentang bagaimana menjalani biduk rumah tangga. Beliau selalu berpesan jika aku harus memuliakan seorang istri.


"Kamu pahamkan sama apa yang Mama jabarkan barusan?."


"Iya paham kok Ma. Pokonya Adit akan selalu ingat pesan Mama."


Setelah mandi kemudian aku makan malam hanya berdua bersama Mama, karena Papa saat ini sedang berada di luar kota, sedangkan Adel ia sibuk dengan bisnis di toko nya dan memutuskan untuk menginap di toko nya, kebetulan di toko nya ada satu ruangan khusus untuk Adel bisa tidur di sana.


Usai makan malam, aku masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang.


Ddrtt,


Dddrtt,


Ponselku bergetar. Gegas Aku langsung mengambilnya dari atas nakas. Sebuah panggilan masuk dari Aisyah.


"Halo Sya?." ucapku setelah menerima panggilan teleponnya.


"Ha-halo Kak. Kak tolong kak, kakak kesini sekarang juga." nada suara Aisyah terdengar sangat bergetar. Ia seperti sedang dalam ketakutan.


"Ada apa Sya? kenapa kamu ketakutan?." tanyaku cemas


"Di sini ada..." Suara tiba-tiba tercekat.


"Halo, kamu kenapa Aisyah?." tanyaku semakin khawatir.


Tut....


Panggilan tiba-tiba terputus. Tanpa berganti baju aku bergegas langsung keluar dari kamar dan berlari ke luar kamar.

__ADS_1


"Adit... Ada apa Nak, kamu mau kemana?." tanya Mama saat aku hendak masuk ke dalam mobil.


"Mau ke rumah Aisyah Ma. Tadi Aisyah telepon minta tolong aku ke sana, pas aku tanya ada apa panggilan terputus gitu aja. Aku takut ada bahaya Ma."


"Astaghfirulloh... semoga tidak terjadi apa-apa. Kamu hati-hati di jalan ya Adit," ucap Mama kemudian aku langsung melajukan kendaraan dengan sangat kencang.


Sampai di perempatan jalan menuju perumahan tempat tinggal Aisyah jalanan macet penuh kendaraan motor.


Didd ...


Didd...


Aku membunyikan klakson dengan keras. Namun mereka semua tidak ada yang minggir.


"Ya ampun ada apa sih?. kenapa jalanan di sini macet. Benar-benar kota Jakarta tidak ada hari tanpa macet." gerutuku kesal kemudian turun dari mobil untuk melihat keadaan di depan sana.


"Ada apa ini pak? kenapa jalanan macet sekali?." tanyaku pada Bapak-bapak yang juga terkena macet.


"Di lapangan ada hiburan dangdut, Mas. Makannya arah ke sana macet semua." terang Bapak itu.


"Ya ampun,,...padahal jarak perumahan Aisyah dengan lapangan itu hanya kisaran seratus meter."


Aku pun berinisiatif untuk meninggalkan mobil di sini. Waktunya tak banyak aku harus segera sampai di rumah Aisyah.


Aku berlari menembus kemacetan dengan di penuhi rasa khawatir. Jantungku berpacu dengan sangat kencang seperti hendak meledak. Keringat deras mengukur di tubuhku. Aku terus berlari hingga menembus kemacetan itu.


Hah!


hah!


hah!


Nafasku tersenggal dan bersembunyi tak beraturan, namun kaki ku terus berlari hingga sampai depan gerbang rumah Aisyah. Tampak satpam seperti sedang tertidur.


"Pak pak bangung pak!." teriakku berusaha membangunkan kedua satpam ini, namun bukannya bangun mereka justru bertambah pulas. Karena aku mengkhawatirkan keadaan Aisyah aku tinggalkan mereka berdua lalu berlari dan masuk ke dalam rumah Aisyah.


"Aisyah...tunggu aku yah! semoga kamu baik-baik saja."


Sampai di depan rumah Aisyah, seorang lelaki sedang menyeret tangan Aisyah.


"Kak Adit tolong!." teriak Aisyah melihat ku baru saja berhenti.


Wajah Aisyah begitu ketakutan dan panik.


"Lepas!" seruku seraya mendekat ke arah mereka. Wajahku memerah dengan memancarkan amarah yang luar biasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2