
Tiba tiba ponsel seseorang berdering, dan itu adalah ponsel dari Greisy.
"Sebentar ya, aku mau mengangkat telepon dulu." Langsung berdiri dan mengangkat teleponnya.
"Bagaimana keadaan nenek. Apa nenek baik baik saja?." Tanya Callista mengelus tangan neneknya.
"Nenek baik baik saja kok sayang. Jangan terlalu mengkhawatirkan nenek. Nenek kan kuat." Jawabnya tersenyum.
"Kalau nenek ada apa apa, jangan diam saja. Mending langsung katakan saja pada Callista. Nenek mengerti kan nek." Ucapnya ikut tersenyum.
"Iya sayang. Nenek mengerti banget." Jawabnya.
Greisy pun selesai menelepon, dan ia langsung duduk di kursinya." Telepon dari mana?." Tanya Callista.
"Telepon dari temanku. Katanya, pekerjaanku dipercepat. Jadi 2 hari lagi harus langsung berangkat ke sana." Jawab Greisy.
"Kenapa cepat banget sih. Padahal aku mau lama lama menikmati suasana bareng diri mu dan nenek." Langsung murung.
"Mau bagaimana lagi. Ini juga untuk pekerjaanku sayang. Nanti juga aku bakalan pulang, kalau ada waktu." Ucap Greisy tersenyum kepada mereka berdua.
"Yasudah deh, kalau memang urusan penting. Kalau begitu, nanti malam, kita harus makan bersama nenek. Untuk merayakan kepergian mu. Jangan ada kata tolak. Okey." Ucap Callista memaksanya.
"Okey, siapa yang mau menolak sih. Lagian ini kan gratis. Hahahah." Jawabnya tertawa dan nenek Brianna ikut tertawa.
"Okey deh. Kalau begitu, kalian makan dulu." Ucap neneknya, dan mereka langsung makan bareng.
Selesai makan. Callista langsung mencium pipi neneknya dan melambaikan tangannya, untuk berangkat ke kelas.
"Kirimkan salamku kepada bu Keyna." Teriak Greisy dari kejauhan.
"Aman sayang." Jawabnya sambil memberikan jempol.
Greisy pun langsung keluar rumahnya, dan saat keluar. Di luar sudah ada Marvin yang menunggunya sambil tersenyum.
"Eh, Marvin. Kenapa sudah ada disini, kan aku tidak menyuruh mu, untuk menjemputku. Kenapa datang ke sini?." Tanya Callista.
"Gapapa, aku cuma mau mengantar mu saja. Apa tidak mau?." Jawabnya sekaligus bertanya dan menaikkan alisnya.
"Hahahah, iya, iya. Aku mau deh." Langsung naik ke motor Marvin dan mereka langsung berangkat ke kelas Callista.
Di perjalanan." Bagaimana dengan teman mu?." Tanya Callista.
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu saja menanyakan teman ku. Apa kamu menyukai temanku?." Tanyanya sedikit kesal.
"Kenapa kesal begitu. Kan aku hanya menanyakan bagaimana dengan teman mu, karena kau selalu meninggalkannya?." Tanya kembali Callista.
"Mereka sedang kerja kok. Jadi tidak usah di pikirkan. Aman itu." Jawabnya kembali tersenyum.
"Iya deh, si paling kerja." Ikut tersenyum.
Sesampai kelasnya. Callista dan Marvin langsung turun dari motor." Mau masuk kedalam, dan belajar lagi?." Tanya Callista.
"Boleh deh, aku lagi kepengen main musik juga. Mana tau kedepannya, jadi musisi. Hahahahah." Jawabnya tertawa.
"Semoga saja deh." Ucapnya membalikkan bola matanya dan mereka langsung masuk kedalam kelas.
Didalam kelas." Pagi bu Keyna." Sapa Callista.
"Pagi bu Keyna." Sapa Marvin sambil tersenyum.
"Eh, nak Marvin. Mau belajar lagi?." Tanya bu Keyna.
"Iya bu, gapapa kan." Jawabnya sambil mengelus lehernya.
"Boleh saja kok. Silahkan." Jawabnya langsung duduk di mejanya.
"Sini Marvin. Kamu duduk di tempat kemarin saja. Aku mau main piano dulu. Kalau mau main piano nya, main aja. Kan belajar bareng." Ucap Callista sambil menaikkan alisnya.
"Aman ratu piano. Saya juga sudah tahu, jadi tidak usah diberitahukan lagi." Jawabnya langsung duduk ditempat kemarin.
"Baiklah kalau sudah tahu." Ucapnya langsung duduk ditempat biasanya bermain piano.
Siapa sangka, Marvin langsung memainkan pianonya, dengan lagu Janam Janam, dengan sangat lembut dan nada yang indah.
Sontak Callista kaget dan langsung melihat kearah Marvin yang sedang memainkan pianonya dengan serius.
"Astaga, kenapa dia bisa memainkan piano, dengan lagu yang begitu susah itu. Bahkan aku, masih belum pandai, untuk membawakan lagu itu. Kenapa dia bisa membawanya, dengan santai.
"Sungguh pria yang idaman." Ucap batinnya senyum senyum sendiri.
Setelah beberapa menit. Marvin pun selesai memainkan pianonya. Callista dan bu Keyna langsung berdiri dan bertepuk tangan." Wah, bagus banget musik kamu Marvin. Aku sampai terpukau mendengarnya." Ucap Callista kagum.
"Benar, saya sampai kagum melihatnya. Kenapa tidak ikut kontes piano saja?." Tanya bu Keyna.
__ADS_1
"Saya masih fokus untuk bekerja dulu bu Keyna. Ini semua, juga berkat kalian, yang mau menerima saya, dan jadinya pandai juga. Walaupun ada sedikit kesalahan. Heheheh." Jawab Marvin ikutan berdiri.
"Hahaha, itu sangat bagus tahu Marvin. Kenapa malah bilang, ada kesalahan. Jelas jelas, tidak ada kesalahan, dan sangat bagus. Maco." Ucapnya sambil memberikan jempol.
"Terima kasih banyak ratu piano. Ini juga berkat diri mu ratu piano." Jawabnya ikut tersenyum.
"Bagaimana kalau kalian menjadi satu tim. Dan akan saya promosikan kalian berdua, untuk mengisi acara besar." Tanya bu Keyna kepada mereka berdua.
"Wah, itu bagus banget bu Keyna. Aku mau saja, kalau kau Marvin. Bagaimana?." Jawabnya dan bertanya kepada Marvin.
"Boleh saja sih. Tapi lagi sibuk, untuk mengurusi teman teman dan markas. Tapi kalau, 1,2 pekerjaan. Bisalah." Jawabnya.
"Baiklah. Nanti saya akan promosikan kalian berdua, untuk mengisi acara besar. Ini akan menjadi proyek besar untuk kalian berdua." Ucap bu Keyna bahagia.
"Aman bu Keyna. Kalau begitu, aku mau belajar dulu." Ucapnya kembali duduk dan Marvin pun ikutan duduk.
"Aku penasaran. Pekerjaan apa yang di lakukan oleh Marvin dan teman temannya, sampai tidak bisa kemana mana dan mengikuti acara apapun." Ucap batin Callista sedikit bingung dengan sikap Marvin.
"Ratu piano. Ratu piano." Panggil Marvin di sampingnya.
"Eh, iya. Ada apa memanggilku?." Tanyanya langsung menatap wajah Marvin.
"Kenapa kamu melamun. Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?." Tanya balik Marvin.
"Siapa yang menyembunyikan sesuatu. Aku hanya pusing, ketika kita bersama sama memainkan musik. Bisa bisa nanti orang mengira kita ini berkencan lagi." Jawabnya sambil membalikkan bola matanya.
"Kenapa emangnya kalau mereka mengatakan bahwa kita ini berkencan. Kau juga akan menjadi milikku kok." Ucapnya tersenyum.
"Sudah, sudah. Jangan banyak bermimpi, dan siapkan pelajaran musik mu itu. Atau kau tidak akan bisa mengimbangi musikku ini." Sombongnya.
"Siapa juga yang akan mengimbangi sang ratu piano. Tentu aku akan lah." Mengejek dan kembali memainkan pianonya.
"Dasar pria. Selalu saja menggoda wanita, dan tidak tempat. Dasar." Sedikit kesal dan kembali mempelajari musiknya juga.
Sore pun tiba. Dimana Marvin dan Callista sudah selesai dan mau pulang." Mau aku antar ratu piano?." Tanyanya.
"Kalau kau memaksa, aku akan ikut." Jawabnya mengikuti kata kata Marvin.
"Kenapa kau memakai bahasa ku. Itu kan bahasa ku?." Tanyanya langsung menaiki motor dan disusul Callista yang langsung mengenakan helm Marvin.
"Kenapa emangnya. Lagian, itu kan juga kata kata bahasa Indonesia. Tentu semua orang boleh dong." Jawabnya.
__ADS_1
"Iya, iya." Pasrah.
Saat mau berangkat, tiba tiba ada ponsel yang berdering, dan itu adalah ponsel dari,