
Keesokan paginya. Dimana Marvin tidak bisa tidur, akibat mimpi tersebut. "Kau kenapa Vin. Matamu sudah seperti panda?." Tanya Frank yang bingung.
"Aku bermimpi tentang Callista. Sebab itu aku tidak bisa tidur." Jawabnya langsung duduk di sofa, sambil menutup kembali kedua matanya.
"Hadeh, Callista lagi. Selalu saja Callista, apa tidak bisa Luna gitu?." Tanya Frank.
"Mau bagaimana lagi. Kita tidak boleh seperti itu, dia kan sahabat kita. Dan kita harus membantunya, untuk menyatukan cintanya kembali." Ucap Jack menaikkan alisnya.
"Benar juga yang kau katakan itu Jack. Yaudah deh, aku dukung kau saja Vin. Yang penting, itu tidak menganggu pekerjaan kita." Ucap Frank kembali tersenyum.
Melihat jam. "Ini sudah waktunya kita berlatih, untuk konser nanti malam. Mari." Ajak Frank, langsung ke ruang musik.
"Yuk Vin. Kalau kau masih kelelahan, kau bisa istirahat sebentar. Nanti kau susul kami." Ucap Jack menepuk punggung Marvin, dan langsung meninggalkannya di ruang tamu.
Marvin langsung membuka matanya kembali." Argh, kenapa aku harus memimpikan Callista yatuhan. Aku benar benar sudah gila karenanya." Ucap batinnya, langsung mengambil ponselnya, dan melihat instagram.
Muncul postingan sebuah Instagram seorang pria, yang didalam foto tersebut, ada Callista. "Eh, bukannya ini Callista. Dia berfoto dengan seorang pria. Apa ini pacarnya." Melihat dengan detail, sampai mengezoom nya.
__ADS_1
"Benar, di hastag nya sudah ada tulisan sayang, dengan stiker love. Mereka pasti sangat bahagia."
"Aku harus melupakan Callista. Dia sudah bahagia dengan pria yang menyayanginya dengan setulus hati, dan pria ini terlihat seperti orang yang terpandang. Sangat cocok dengan Callista." Tersenyum Marvin, langsung mematikan ponselnya kembali.
"Lebih baik aku bermain musik saja lah. Daripada memikirkan percintaan." Ucapnya langsung menyusul teman temannya, yang ada di kelas musik.
Sesampai ruang musik. Tanpa basa basi, Marvin langsung duduk di tempat musiknya, seperti biasanya.
Frank dan Jack, yang sedang mengatur alat musik mereka masing masing, sontak langsung menatap wajah Marvin, dengan ekspresi kebingungan, dan kembali ke pekerjaan mereka.
Marvin memainkan musik Kal Ho Na Ho, dengan penuh penghayatan. Sampai di nada yang paling tinggi, Marvin langsung menguatkan nada tersebut.
"Wow, bagus banget Vin. Kau sangat menghayati musik itu, sungguh fantastis." Ucap Frank, langsung bertepuk tangan bersama Jack.
"Terima kasih banyak. Aku hanya melampiaskan amarahku saja, ke musik ini." Jawab Marvin langsung merapikan piano tersebut.
Tiba tiba ponsel Frank berdering. "Sebentar, ada yang menghubungiku?." Langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Halo." Panggilnya.
"Halo Frank. Kalian sedang apa, dan dimana Marvin?." Tanya yang tidak lain lagi ialah Dixon.
"Kami sedang berlatih Dixon. Marvin baru sama memainkan pianonya. Kenapa emangnya?." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Tadi aku hubungi si Marvin tidak bisa dihubungi. Aku kirain kenapa kalian." Jawab Dixon.
"Ini Marvin." Langsung memberikan ponselnya kepada Marvin.
"Siapa ini?." Tanya Marvin.
"Dixon. Katanya dia mau berbicara denganmu, tadi dia mau menghubungimu, tapi kau sulit dihubungi." Jawab Frank.
Marvin langsung mengambil ponsel Frank. "Ada apa Dixon. Kenapa menghubungiku." Tanya Marvin langsung.
"Aku hanya mau mengabarimu saja, jangan membuat masalah di konser terbesar kalian nanti malam. Karena katanya, ada salah satu orang yang ternama, yang akan hadir di konser kalian nanti. Maka sebab itu, jangan sampai kalian membuat masalah." Jawab Dixon menjelaskannya.
__ADS_1
"Siapa orang penting itu?." Tanya Marvin penasaran.
"Soal itu