
"Pembunuh bagaimana?." Bingung neneknya.
"Sebenarnya, sudahlah nek. Pokoknya kita harus pergi, karena disini tidak aman nek. Mari nek." Ucap Callista sudah membereskan pakaiannya di koper, bersama koper neneknya.
Neneknya hanya bisa ikut dengan Callista dan mereka langsung keluar dari rumah, dan Callista mengunci rumahnya dengan gembok. Callista dan neneknya langsung naik ke taxi, dan pergi ke bandara.
Di perjalanan." Untung saja aku sudah memesan taxi, saat lari ke rumah. Fyuh, aku tidak akan pernah bertemu dengan Marvin lagi. Selamat tinggal Marvin." Ucap batin Callista menghela nafas panjang, dan hanya bisa meratapi nasibnya.
Saat itu juga, Taxi mereka berpapasan dengan Marvin, dan Marvin melewatinya saja, dan tidak tahu kalau di dalam mobil tersebut ada Callista dan neneknya yang meninggalkannya.
Sesampai bandara. Callista dan neneknya langsung memesan tiket pesawat, dan langsung masuk ke pesawat." Terima kasih banyak mbak, saya sangat berterima kasih pada anda, karena tiket ke London sudah ada." Ucap Callista langsung mengambil tiket dari staf bandara tersebut.
"Sama sama kak, semoga sampai ke tujuan anda." Tersenyum pegawai bandara tersebut dengan menundukkan kepalanya.
"Mari nek, kita harus cepat pergi, sebelum ketinggalan pesawat." Ucap Callista sambil membawa kopernya, sambil menggandeng tangan neneknya.
Merekapun langsung masuk ke pesawat, dan duduk ditempat yang sudah tertera di tiket tersebut.
__ADS_1
Disisi lain. Marvin pun sampai di rumah Callista, dan ia pun langsung turun dari motornya.
"Eh, kenapa rumah Callista digembok. Dia kemana ya?." Tanyanya.
Marvin langsung memencet bel rumah tersebut." Callista, nenek Brianna. Apa kalian didalam?." Tanyanya dari luar.
Tidak ada jawaban." Kemana ya mereka. Apa mereka sedang pergi." Mengambil ponselnya, dan menghubungi Callista.
Di pesawat. Callista sudah menyalakan mode pesawat dan mematikan daya ponselnya." Kenapa dia tidak mengangkatnya. Dia dimana ya." Tanyanya kembali, langsung duduk di depan rumah Callista.
"Mending aku tunggu sebentar deh. Pasti mereka akan pulang sebentar lagi." Ucapnya sambil memainkan batang kayu yang ada didekatnya.
"Nomor yang anda tuju, tidak dapat menjawab panggilan anda".
"Kenapa susah banget sih dia dihubungi. Tidak biasanya dia seperti ini, aku harus mencarinya." Ucap Marvin cemas, dan langsung mengendarai motornya, untuk mencari Callista.
Di perjalanan. Marvin mencari cari keberadaan Callista di sekitar jalan, dan di pasar." Kenapa dia tidak ada, dimana sih dia." Cemas Marvin dan fokus mencari keberadaan Callista.
__ADS_1
Marvin berhenti di pinggir jalan, dan menghubungi Frank." Halo Marvin, ada apa?." Tanya Frank langsung.
"Kalian bantulah aku untuk mencari Callista. Dia menghilang, dan tidak ada di rumahnya." Jawab Marvin dengan serius.
"Dia kemana emangnya. Apa rumahnya digembok?." Tanya Frank kembali.
"Benar itu. Bantu aku mencarinya, aku takut dia diculik atau disakiti orang orang. Kau bantulah aku." Jawab Marvin dengan nada cemas.
"Baiklah, kami semua akan mencari keberadaan Callista. Mana tahu ketemu." Ucapnya langsung mematikan ponselnya.
"Kamu dimana sih Callista. Kamu belum sempat menjawab pernyataan cintaku. Kamu dimana sayang." Kembali mencari keberadaan Callista dengan motornya.
Disisi lain. Pesawat untuk penerbangan ke London sudah terbang. Callista melihat jendela mini dari pesawat tersebut, yang ada disampingnya." Apa sekarang Marvin sedang mencariku. Sudahlah Callista, dia itu seorang pembunuh. Kamu tidak boleh memikirkannya." Ucap batin Callista menggelengkan kepalanya, dan langsung menutup kedua matanya.
Disisi lain lagi. Marvin terus mencari Callista dan belum menemukan keberadaan Callista. Marvin kembali berhenti di pinggir jalan dan langsung menghubungi Frank.
Tersambung." Halo Frank, bagaimana?." Tanyanya langsung.
__ADS_1
"Aku dan teman teman,