
Setelah mereka berbincang bincang dengan tamu. Akhirnya mereka selesai juga." Terima kasih banyak tuan Marvin. Karena anda mau hadir di konser terbesar ini. Sungguh suatu keajaiban anda bisa hadir disini. Saya sangat berterima kasih sekali kepada anda." Ucap panitia yang ada.
"Sama sama pak. Sebenarnya saya sangat bahagia berada disini. Sekali lagi terima kasih balik pak. Kalau begitu, kami permisi duluan." Menundukkan badannya, bersama sahabatnya.
"Sama sama tuan Marvin dan yang lainnya. Semoga selamat sampai tujuan." Melambaikan tangannya.
Merekapun langsung kembali ke aula penginapan mereka, dengan mobil mereka. Semua fotografer berada di luar mobil, dan terus mengambil foto mereka, sebelum naik ke mobil.
Di perjalanan menuju penginapan." Fyuh, siap juga akhirnya. Aku lelah banget." Ucap Frank langsung tekapar di kursi mobil.
"Namanya juga sudah pekerjaan kita. Mau bagaimana ini, dan kita sudah sampai dititik sukses ini. Tentu kita harus mempertahankannya." Ucap Jack, meminum air putih yang sudah ia sediakan.
Marvin hanya diam dan menatap kaca mobil yang ada disampingnya." Kenapa kau Marvin. Kenapa kau diam saja?." Tanya Frank heran dengannya.
__ADS_1
"Tadi, dia bertemu dengan Callista." Jawab Jack dengan jujur, sambil membalikkan bola matanya.
"What, Callista. Apa dia tidak sedang halu lagi. Apa itu benar Marvin?." Tanyanya kepada Marvin untuk memastikannya.
"Ya." Jawabnya dengan singkat.
"Bagaimana bisa bertemu. Dan bagaimana kabarnya sekarang, apa kalian akan bertemu kembali?." Tanya Frank kembali.
"Katanya dia bertemu dengan Callista dibelakang hotel. Dan mereka seperti orang yang baru berkenalan, hanya hai, bagaimana kabar. Begitu saja lah. Namanya mereka baru bertemu, setelah 10 tahun berpisah." Jawab Jack sambil melipat kedua tangannya.
"Sudahlah, aku lagi tidak mau berbicara. Jangan membahasnya dulu, aku lelah." Ucap Marvin dengan datarnya.
"Kenapa kamu seperti itu sih Callista. Kesalahan apa yang telah aku lakukan kepadamu, sampai kamu bertingkah, seolah olah kita baru bertemu." Ucap batin Marvin sedih.
__ADS_1
"Aku jadi bingung, kenapa dia sangat berubah. Tidak seperti Callista yang dulu, dia benar benar berubah. Dan dia jadi lebih suka merokok, padahal dulu dia tidak suka merokok, bahkan mencium aromanya saja, dia tidak suka." Ucapnya kembali, terus bertanya tanya, kepada dirinya sendiri.
Sesampai penginapan. Marvin langsung masuk ke kamarnya, dan menutup pintu kamarnya. Frank dan Jack, hanya bisa bertatapan, dan menghela nafas mereka bersamaan.
Di kamar Marvin. Marvin pun langsung berbaring di kasurnya." Argh, lelahnya. Aku sudah pusing, dan ditambah lagi, aku bertemu dengan Callista, secara tiba tiba." Ucap batinnya, sambil mengerutkan keningnya.
"Semoga saja aku bertemu dengannya lagi. Aku ingin memeluknya dengan erat. Dan bersandar dibahunya." Ucap Marvin meneteskan air matanya, secara tiba tiba.
"Aku mohon Callista, dengarkan semua penjelasanku. Dimana kamu sekarang tinggal. Aku butuh semua penjelasan kamu." Ucapnya mengusap air matanya.
Keesokan paginya. Dimana Marvin belum bangun, dan Frank, Jack, sudah berada di ruang tamu bersamaan.
"Dimana Marvin?." Tanya Frank yang duduk disofa.
__ADS_1
"Mungkin saja dia masih tidur di kamarnya. Karena masih tidak percaya, kalau dia bertemu dengan Callista. Biarkan saja dulu, biarkan dia menenangkan dirinya." Jawab Jack yang sudah tahu, karena Marvin sendiri, yang bercerita dengannya.
Tiba tiba ponsel Frank berdering, dan itu adalah panggilan dari