Dia Datang Dan Merubah Hidupku

Dia Datang Dan Merubah Hidupku
Episode 18: Di Lamar


__ADS_3

Dikelas musik." Wah, suara mu memang sangat bagus ya Marvin. Aku sampai kagum mendengarnya. Kenapa tidak dari dulu saja, kau belajar di sini. Kan kita bisa kenal." Ucap Callista sedikit heran.


"Karena aku sangat sibuk dengan pekerjaan ku sekarang. Jadi aku tidak ingat ingat, kalau aku mempunyai suara sebagus ini." Jawabnya kembali berbohong kepada Callista.


"Sepertinya ada yang di sembunyikan Marvin dariku. Tapi apa ya." Ucap batin Callista sambil memegang dagunya.


"Kau kenapa, kenapa menatapku seperti itu?." Tanya Marvin kepadanya.


"Eh, gapapa kok. Aku hanya kagum dengan suara mu saja. Sungguh mengesankan." Jawab Callista langsung memberikan jempol kepadanya.


"Oh ya ratu piano. Apa kau punya waktu nanti malam. Aku mau mengajak mu makan malam bersama. Apa boleh?." Tanyanya kepada Callista.


"Kebetulan banget, aku lagi ada waktu untuk nanti malam. Aku bisa kok." Jawabnya langsung tersenyum.


"Kalau begitu, aku akan menjemput mu ke rumah nanti malam."


"Tidak usah. Kirimkan saja alamat lokasinya, dan aku akan langsung kesana." Ucapnya.


"Tidak, tidak. Biar aku saja yang menjemput mu. Karena ada sesuatu yang akan aku tunjukkan kepada mu." Ucap Marvin.


"Baiklah, aku akan menurut dengan mu saja. Asal yang tidak aneh aneh saja." Jawab Callista pasrah dengan perkataan Marvin.


"Kalau begitu, mari kita lanjutkan kembali musik dan nyanyian kita ini." Merekapun kembali belajar bersama dan menghafal not not yang akan mereka mainkan esok hari.


Malam pun tiba. Dimana Callista sudah bersiap siap di kamarnya." Apa ini cocok denganku ya. Sudahlah, ini juga akan terlihat cantik kalau aku yang mengenakannya. Hahahah." Ucapnya langsung keluar dari kamar dan sudah merias dirinya, juga berpakaian sangat indah.


Di ruang tamu." Kamu mau kemana sayang?." Tanya neneknya.


"Aku mau makan malam dengan Marvin nek. Nenek aku tinggal sendiri dulu, gapapa kan nek?." Jawabnya sekaligus meminta izin.


"Gapapa, nenek bisa sendiri kok. Dan jaga diri mu baik baik di luaran sana. Kalau ada apa apa, langsung hubungi telepon rumah." Jawab neneknya langsung mengelus pipi Callista.


"Aman nek. Aku sayang nenek. Dah nak, aku pergi dulu." Melambaikan tangannya, dan keluar dari rumah tersebut, juga tidak lupa untuk menguncinya pintu rumahnya.

__ADS_1


Saat diluar. Callista pun langsung menunggu Marvin menjemputnya." Dimana dia ya. Kenapa lama banget?." Tanyanya kepada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian. Akhirnya Marvin pun datang." Halo ratu piano. Maaf membuat kamu menunggu lama." Langsung membuka helmnya dan melihat Callista dari bawah sampai ke atas.


Marvin pun bersiul." Cantik." Memuji Callista.


"Sudahlah, jangan banyak omong. Mending kita langsung ke lokasi saja, dan jangan memanggilku dengan sebutan ratu piano saat di lokasi itu. Kau mengerti kan." Ucapnya Langung duduk menyamping, karena ia mengenakan pakaian dress.


"Aman ratu piano."


"Pegang pinggang ku. Atau kau akan terjatuh." Ucapnya kembali mengenakan helmnya, dan Callista langsung memegang pinggang Marvin.


"Dia begitu perhatian kepadaku. Sungguh pria idaman." Ucap batin Callista senyum senyum sendiri.


"Apa sudah siap?." Tanyanya.


"Sudah, dan cepat jalan." Jawabnya dengan nada kuat.


"Baiklah. jangan marah marah, nanti bedak kamu luntur lagi." Langsung menggas motornya menuju lokasi yang sudah Marvin siapkan untuknya.


"Sebelum itu, aku akan menutup mata mu, dengan kain ini. Biar kamu mengetahui kejutan yang sudah aku siapkan." Jawab Marvin langsung mengeluarkan kain tersebut.


"Baiklah." Jawabnya kembali pasrah, dan Marvin langsung menutup kedua matanya, dengan kain yang sudah ia siapkan sebelumnya.


Setelah mata Callista benar benar tertutup dengan kain tersebut. Marvin pun langsung menuntunnya." Kau mau membawaku kemana?." Tanya Callista sambil menggenggam tangan Marvin.


"Tenanglah, aku tidak akan melakukan hal apapun kepada mu. Kau hanya perlu diam, dan akan aku tunjukkan hadiah yang mengejutkan untuk mu." Jawab Marvin menatapnya dengan senyumannya.


"Aneh banget sih. Tadi manggil nya kamu, ini kau. Sungguh menganehkan." Ucap Callista kepadanya.


"Sudahlah, itu tidak penting. Yang terpenting aku tidak menjelekkan diri mu." Jawabnya sambil menuntun Callista menuju tempat yang sudah ia siapkan di alam terbuka dan di penuhi dengan bintang bintang di atas mereka.


Akhirnya Marvin pun sampai di tempat yang sudah ia siapkan.

__ADS_1


Dan ternyata sudah ada geng motor Marvin yang sedang duduk di atas motor mereka masing masing, sambil menyalakan lampu motor mereka di kegelapan tersebut dan mengarahkan lampu tersebut ke sebuah papan yang ada di belakang mereka berdua.


Marvin pun langsung membuka kain penutup mata Callista dan langsung mengarahkannya ke arah papan yang sudah di tunjukkan oleh cahaya motor." Surprise." Ucapnya langsung menunjukkannya.


Callista pun langsung membuka matanya dan melihat ke arah papan tersebut." Selamat hari persahabatan." Tulisan di papan tersebut, dengan rangkaian lampu yang sangat indah.


"Hari persahabatan. Ini hari persahabatan ya?." Tanyanya langsung menatap ke arah Marvin.


"Yaps. Aku sangat mengingatnya, walau kita belum resmi menjadi sahabat. Tapi aku sudah menganggap mu lebih dari teman." Jawab Marvin tersenyum kepadanya.


"Maksud mu?." Tanyanya sedikit kebingungan.


"Ehm, aku sudah menyukai mu dari awal kita bertemu. Dan aku benar benar mencintai mu." Jawab Marvin langsung bertekuk lutut di hadapannya.


"Soswet." Ucap teman teman Marvin sambil tersenyum melihatnya.


"Apa yang kau katakan ini sih. Aku sangat bingung." Ucap Callista kepadanya.


"Aku mencintai mu Callista, dari semua sudut bicara dan penampilan mu. Dan aku sangat suka dengan musik mu yang indah itu. Itu sebabnya aku sangat menyukai mu, dan apakah kau bersedia menjadi pacarku?." Tanyanya dengan tatapan yang sangat dalam.


"Terima, terima, terima." Ucap teman teman Marvin.


"Bagaimana ya Marvin. Aku bukan menolaknya, tapi aku belum siap dengan semua ini. Akan aku pikirkan beberapa hari lagi. Beri aku waktu, untuk memikirkannya. Apa boleh." Ucapnya langsung mendirikan Marvin.


"Baiklah, aku akan menunggu waktu itu. Dan aku juga tidak akan memaksakan diri mu. Aku akan menunggunya." Jawab Marvin dengan senyumannya.


"Terima kasih banyak karena sudah mengerti kondisiku sekarang. Dan besok kita sudah harus tampil di acara besar."


"Jadi, aku tidak mau memikirkan soal ini dulu, karena aku mau fokus untuk bekerja untuk diriku sendiri, dan nenekku. Kau mengerti maksudku kan." Ucapnya sambil menaikkan alisnya sebelah.


"Baiklah, aku sangat mengerti. Aku juga akan membanggakan diriku sendiri, dan membanggakan kedua orangtuaku yang sudah di alam sana."


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan makan saja." Ucap Marvin.

__ADS_1


"Aku,


__ADS_2