Dia Datang Dan Merubah Hidupku

Dia Datang Dan Merubah Hidupku
Episode 66: Kesalah Pahaman


__ADS_3

"Sebenarnya, kami disini memang mau mengungkapkan kebusukan pacarmu, dan ada satu hal lagi yang mau kami tanyakan kepadamu Callista." Jawab Luna serius.


"Katakan saja hal apa yang mau kalian tanyakan." Ucap Callista kembali tersenyum.


"Kenapa," tiba tiba terhenti, karena ponsel Callista berdering.


"Eh, sebentar ya, ada telepon." Ucap Callista berdiri langsung mengangkat teleponnya.


"Iya Greisy, ada apa?." Tanya Callista.


"Ini Callista, rumah kita habis kemalingan. Kamu cepatlah pulang," jawab Greisy panik.


"Apa, rumah kita kemalingan. Astaga, baiklah aku akan pulang langsung." Ucap Callista langsung mematikan ponselnya.


"Ada apa Callista?." Tanya Luna.


"Maaf banget ya semuanya, lain waktu kita akan bahas soal ini. Soalnya ada masalah di rumahku, sampai jumpa lain waktu." Jawab Callista langsung pulang ke rumah, dengan menaiki mobilnya sendiri.


"Yah, mau saja kita bertanya kepada dia meninggalkan Marvin. Tapi gagal, bagaimana ini?." Tanya Luna.


"Mau bagaimana lagi, semua sudah takdir. lebih baik kita jalan jalan dan makan di restoran yang enak. Karena dari tadi pagi kita sibuk mencari pacar Callista. Bagaimana." Ucap Frank sambil menaikkan alisnya.


"Benar yang kau katakan itu Frank, yuk kita makan." Ucap Jack langsung bahagia.


"Yaudah deh yuk." Ikut saja Luna, dan mereka langsung pergi dari tempat tersebut.


Disisi lain, Callista pun sampai di rumahnya, dan ia langsung masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam, di dalam sangat sepi. "Greisy, dimana kamu. kenapa lampu gelap semuanya." Ucap Callista mencari keberadaan tombol lampu.


Dan saat Callista menyalakannya. "Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you. Selamat ulang tahun sayang." Ucap Greisy dan teman teman satu kelas tarinya.


Sontak Callista kaget." Dimana pencurinya," tanya Callista.


"Sebenarnya pencurinya tidak ada, kami hanya mengeprank dirimu saja, agar bisa pulang, dan kami bisa memberikan kejutan untukmu." Jawab Greisy dengan bahagia.


"Ih, kamu nyebelin deh Greisy. Aku kira beneran tahu, ngeselin." Ucap Callista mencubit pipi Greisy.


"Maaf deh, kalau begitu tiup lilinnya sekarang, dan buat permohonanmu." Ujar Greisy menunjukkan kue tersebut kepada Callista.


Dan Callista menutup kedua matanya, sambil berdoa. "Semoga hari besok akan lebih baik dari hari ini, dan semoga aku diberikan kehidupan yang bahagia, dengan pria yang tepat dalam hidupku." Ucap batin Callista sudah berdoa, dan kembali membuka matanya.


Callista pun langsung meniup lilin tersebut, dan semuanya bertepuk tangan. "Selamat ulang tahun Callista." Ucap bu Sofia.


"Terima kasih banyak bu Sofia," bahagia Callista, dan memeluk bu Sofia.


"Sama sama sayang, semoga kamu panjang umur, sehat selalu, dan sukses terus." Ucap bu Sofia sangat bahagia.


"Kalau begitu, sekarang acara pemotongan kue. Lalu suap suapan, ayo Callista." Ucap Greisy.

__ADS_1


Disisi lain, di penginapan. "Ini adalah hari ulang tahun Callista, apa dia sedang merayakan hari ulang tahunnya ya." Ucap batin Marvin sambil menatap jendela yang ada di kamarnya.


"Selamat ulang tahun Callista, semoga kamu bahagia dengan pria yang kamu cintai, dan kamu memiliki anak yang cantik dan tampan seperti mu." Ucap Marvin mendoakan Callista.


"Pasti sekarang Callista sedang merayakan ulang tahun, dengan pacarnya dan sahabatnya. Dia pasti sangat bahagia, tanpa diriku. Syukurlah kalau begitu." Ucap Marvin tersenyum tipis.


Disisi lain. "Bagaimana dengan pertemuan mu bersama James?." Tanya Greisy.


"Aku sudah memutuskannya." Jawab Callista tersenyum lega.


"Apa, putus. Kenapa kalian bisa putus?." Tanya Greisy bingung.


"Dia menyelingkuhiku, dan yang membongkar kebusukannya adalah Frank dan Jack, bersama pacar Marvin." Jawab Callista dengan jelas.


"Sudah aku katakan kan, kalau James itu tidak baik untukmu. Untung saja kau sudah putus darinya. Kalau aku tadi bersamamu, sudah aku bunuh dia itu. Dasar berengsek." Ucap Greisy marah.


"Sudahlah, lagian itu semua sudah berlalu. Jadi lupakan itu semua, dan buat yang baru lagi." Ujar Callista kembali tersenyum.


Keesokan harinya pun tiba, dimana band marcall akan pulang dari kota London.


"Kalian sudah membereskan koper kalian kan. Kita harus cepat, sebelum ketinggalan pesawat nanti." Ucap Dixon sambil memegang kopernya.


"Oh ya Marvin, kemarin kan kau tidak jalan jalan. Bagaimana kalau kita minum membeli kopi dulu, sekalian membeli oleh oleh. Yuk Vin." Ucap Frank langsung merangkul bahunya.


"Benar yang dikatakan Frank itu, yuk Vin." Ajak Jack juga.


"Apa kamu mau ikut Luna?." Tanya Frank padanya.


"Kalian saja deh, aku lagi mau membereskan koperku dulu. Kalian pergilah." Jawab Luna.


"Baiklah, kami pergi dulu ya." Ucap Frank melambaikan tangannya.


"Hei, kalian mau kemana. Penerbangan sebentar lagi." Tanya Dixon teriak.


"Kalian duluan saja, kami akan menyusul di bandara." Teriak Frank.


Mereka bertiga pun langsung menuju cafe, menggunakan taxi.


Sesampai cafe, Marvin pun langsung turun, dan Frank, Jack ada didalam mobil. "Kenapa kalian tidak ikutan turun?." Tanya Marvin.


"Kami mau membeli oleh oleh dulu ya Vin. Belikan kopi untuk kami juga ya, dan kau langsung susul saja kami nanti bandar. Kita bertemu di bandara saja nanti, dah." Jawab Frank langsung menggas mobilnya, dan meninggalkan Marvin.


"Sudahlah, aku juga bisa sendiri." Ujar Marvin langsung masuk ke dalam cafe.


"Kak, saya pesan kopi cappucino nya 3, 2 dibungkus, 1 diminum disini, yang hangat, jangan lupa." Pesan Marvin kepada kasir tersebut.


"Saya pesan kopi americano nya 1." Pesan seorang wanita, dan Marvin sepertinya tidak asing dengan suara tersebut, dan Marvin langsung melihatnya.

__ADS_1


"Eh, Greisy." Ucap Marvin kepada Greisy, yang ternyata memesan kopi americano.


Sontak Greisy langsung menatapnya. "Eh, Marvin. Kamu ada disini juga ternyata. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu." Tersenyum Greisy, dan Marvin ikut tersenyum.


"Bagaimana kalau kita mengobrolnya di sana saja, biar lebih enak juga. Oh ya kak, kopinya antar ke meja nanti ya kak." Ucap Marvin langsung duduk bersama Greisy.


"Bagaimana kabarmu sekarang Greisy?." Tanya Marvin, langsung menyilangkan kakinya.


"Ya begitulah lah, aku sangat baik disini. Omong omong, kamu sudah sukses nya sekarang, sudah beda dari dulu. Aku sampai ngefans kepadamu juga. Hahahah." Jawab Greisy tertawa tipis.


"Hahah, bisa saja kau ini. Ini semua juga berkat kerja kerasku, dan berkat Callista yang hadir di hidupku. Karena dia aku bisa berubah." Ujar Marvin.


"Oh ya Greisy, karena kebetulan kita ada disini. Ada yang mau aku tanyakan kepadamu, karena kau adalah sahabat dekat Callista." Ucap Marvin.


"Katakanlah yang mau kau tanyakan, aku akan menjawabnya." Ujar Greisy, melipat kedua tangannya.


"Kenapa Callista bisa pergi kemari, dan tidak memberitahukannya kepadaku. Apa salahku kepada dia selama ini. Apa dia risih kalau aku dekat dia, makanya dia meninggalkanku, dan tak pernah menghubungiku?." Tanya Marvin terus terang.


Sontak Greisy langsung terdiam. "Kenapa kau diam saja Greisy, jawab pertanyaanku ini. Aku butuh semua penjelasan ini." Tanya Marvin sangat butuh penjelasan dari Greisy, sahabat Callista.


"Baiklah, aku akan menjawab semuanya. Callista pindah kemari, bukan tanpa alasan. Dia datang kemari memang ada alasannya. Dia cerita sendiri kepadaku, bahwa dia kemari karena kau membohonginya." Jawab Greisy.


"Membohonginya, maksud mu?." Tanya Marvin kembali.


"Kau telah membohonginya banyak hal, kau bilang kalau kau itu bukan orang jahat, dan bekerja di pasar. Tapi kau adalah seorang pembunuh, dan menghabisi orang yang tidak bersalah." Jawab Greisy sedikit tegas.


"Aku menghabisi orang bukan secara paksa, tapi mereka memang bersalah, dan pantas dihabisi. Aku menghabisi orang orang, yang mengambil keperawanan anak remaja, dan tentu saja aku tidak bisa diam. Dan apa dia tidak bisa bertanya secara langsung kepadaku, kenapa dia harus pergi begitu saja?." Tanyanya kembali.


"Pada saat kau mendapatkan telepon dari temanmu itu, Callista berinisial mengikuti mu secara diam diam. Dan saat dia mengikutimu sampai ke hutan, dia melihat kalian sedang berkelahi, sambil memegang sebuah pistol asli. Sontak di sana Callista ketakutan, karena di sangat takut dengan suara pistol, apalagi kalau melihat orang mati tepat dihadapannya. Dia sangat takut itu semua.".


"Dia terus melihatmu dari balik pohon besar, dan saat itu juga kau menembak orang. Walaupun Callista tidak melihatnya, karena ia takut, dia tahu, karena pria yang kau tembak itu mengatakan sesuatu, dan mengatakan kalau kau yang menang."


"Maka sebab itu, Callista benar benar ketakutan, sampai mulutnya tidak bisa berbicara beberapa hari. Itu semua karena kau Vin. Dari situlah dia pergi dari kota Inggris, dan datang ke London ini." Jawab Greisy menjelaskannya secara detail.


Sontak Marvin kaget, dan langsung gemetaran. "Itu semua kesalah pahaman." Ucap Marvin.


"Kenapa salah paham, jelas jelas Callista melihatnya." Tanya Greisy.


Disisi lain," kita beli apa ya Jack, semua makanan disini enak enak?." Tanya Frank yang sedang memilih makanan makanan yang terpajang.


"Ini saja deh, tinggal beli saja. Dan kita coba 1, kita makan di luar itu, kan ada kursi di depan. Daritadi kau hanya melihatnya saja, tidak beli. Ini saja lah. Yok." Ucap Jack mengambil makanan yang terlihat enak, dan mau membayar.


"Mbak, saya mau bayar ini semua." Ucap Jack mengeluarkan dompetnya.


"Saya ini saja deh mbak." Ucap seorang wanita, dan sepertinya Jack dan Frank familier dengan suara tersebut.


Sontak mereka melihat yang ada disampingnya, dan ia adalah Callista. "Eh, Callista." Ucap Frank dan Jack.

__ADS_1


Sontak Callista langsung menatapnya. "Frank, dan Jack. Kenapa kalian ada disini?." Tanyanya sambil tersenyum.


__ADS_2