Dia Datang Dan Merubah Hidupku

Dia Datang Dan Merubah Hidupku
Episode 34: Pribadi


__ADS_3

"Begini begini, karena aku sangat peduli dengan mu. Bagaimana kalau kau ikut dengan rencanaku." Ucapnya ikut menaikkan alisnya.


"Soal itu, rencana apa yang kau buat?." Tanya Marvin dengan serius.


"Coba kau pura pura marah saja kepadanya. Saat dia bertanya kenapa marah, dan otomatis dia akan minta maaf kepada kau. Dan dia akan mendekat."


"Saat dia mendekat. Disitulah kau cium saja dia, dan dengan begitu dia akan jatuh cinta dan masuk kedalam cinta kalian berdua. Dan setelah itu, kalian akan memesan hotel deh. Hahahah." Jawab Frank menjelaskannya secara detail.


"Kau pikir dia itu wanita malam. Dasar bodoh." Ucap Marvin marah, dan mengetukkan kepala Marvin.


"Aduh, sakit tahu bodoh. Namanya ini masukan dari sahabat tersayang mu ini. Hanya itu yang bisa aku bantu." Ucap Frank langsung melipat kedua tangannya.


"Oh ya, soal Drake itu gimana. Apa dia sudah mati?." Tanya Marvin langsung mengingatnya.


"Entahlah, yang terpenting markasnya sudah hancur lebur, dan kalaupun dia masih hidup, dia juga akan tidur di jalanan dengan teman temannya itu. Hahaha." Jawab Frank tertawa, dengan teman temannya ikut tertawa.


"Tapi kita tetap harus berjaga jaga, karena geng motor Drake adalah orang yang sangat licik. Jangan sampai ia menyakiti Callista dan keluarga Callista. Atau aku akan menghabisi kalian, kalian mengerti kan." Ucap Marvin dengan tegas, sambil memukul meja tersebut.


"Aman Marvin. Kami akan menjaga keluarga Callista dengan baik, karena ini perintah dari bos Marvin. Kalau begitu, mari kita bermain kartu." Ucap Jack dan yang lainnya bersorak.

__ADS_1


Disisi lain. Dimana Callista sudah kembali dari Restoran, dan sudah di kelas musik.


Callista kembali memainkan pianonya dengan musik yang berjudul Muak. Dan selesai Callista memainkan pianonya, ia langsung melamun dengan menatap piano tersebut.


"Andai ayah dan ibu masih hidup. Mungkin sekarang kami masih bersama, dan menikmati alunan piano yg dimainkan oleh ayah. Itu pasti akan sangat membahagiakan." Tersenyum Callista dan menahan air matanya.


"Apa nanti sore aku menjenguk ke makam ayah dan ibu saja ya. Iya deh, soalnya aku sudah lama tidak kesana. Pasti mereka sangat merindukan aku." Ucap Callista sudah mengaturnya dan kembali tersenyum.


Sore pun tiba. Dimana Callista sudah bersiap siap untuk ke makam kedua orangtuanya." Ini sudah saatnya aku ke makam ayah dan ibu."


"Aku tidak mau merepotkan Marvin deh. Lebih baik aku naik taxi sendiri aja deh." Ucapnya langsung menunggu taxi, dan sudah meminta izin kepada bu Keyna, kalau ia mau ke makam orangtuanya.


Sesampai makam. Callista langsung turun dari taxi, dan tidak lupa untuk membayarnya.


Callista membeli bunga dan air putih yang di jual di dekat makam tersebut. Setelah membelinya, Callista langsung menghampiri makam ayah dan ibunya.


"Halo ibu dan ayahku tersayang. Apa kalian tidak merindukan anak mu yang paling cantik ini." Ucap Callista langsung jongkok dan mengelus batu nisan ayah dan ibunya.


"Pasti kalian sangat bahagia disana ya. Andai aku juga ikut dengan kalian, mungkin kita akan bahagia disana juga. Tapi, aku harus menjaga nenek, karena sekarang nenek manja tahu. Heheheh." Curhat Callista dan tertawa tipis.

__ADS_1


"Aku tidak akan menangis kok. Karena aku orang yang kuat. Namanya aku sekuat ibu, dan aku sudah menjadi musisi terkenal tahu ayah dan ibu. Andai kalian masih ada, mungkin kalian akan terus memelukku, dan mencium keningku. Hahahah." Ucap Callista kembali tertawa.


"Dan kalian tahu. Ada seorang pria yang menyukaiku, dan dia sudah melamarku untuk menjadikanku pacarnya. Tapi aku menolaknya, karena aku belum terlalu kenal dengannya. Kan mama pernah bilang, telusuri siapa dia, dan dengan begitu, kita akan tahu siapa dia." Ucapnya kembali, sambil menaburkan bunga bunga diatas makam ayah dan ibunya.


"Aku tidak akan menangis kok. Hikss." Ucap Callista menangis juga, sambil menuangkan air tersebut.


"Eh, kenapa aku menangis. Dasar cengeng, kan ayah bilang kalau wanita kuat tidak boleh menangis. Kalau aku menangis, berarti aku cengeng dong. Haahah." Ucap Callista membuat lelucon.


Setelah Callista curhat, Callista pun berpamitan dengan ayah dan ibunya." Kalau begitu, aku pulang dulu yah ayah dan ibuku sayang. Semoga kalian bahagia disana." Ucap Callista langsung berdiri dan melambaikan tangannya.


Kembali ke 10 Tahun sekarang. Dimana Marvin hanya menceritakannya sampai situ saja." Itu saja yang bisa saya sampaikan." Ucap Marvin sudah menceritakannya secara jelas.


"Dimana wanita itu sekarang tuan. Kenapa dia tidak pernah berada di samping mu?." Tanya reporter kembali.


"Benar tuan. Apa ada masalah yang membuat kalian terpisah?." Tanya reporter lainnya.


"Saya tidak bisa menceritakan soal itu. Karena itu pribadi dari saya, dan tidak boleh diungkapkan. Maafkan saya, saya harus pergi." Jawab Marvin langsung keluar dari aula bersama Frank dan Jack, dan reporter semakin penasaran, sambil mendekat ke Marvin, tapi Marvin di jaga oleh bodyguard.


__ADS_1


__ADS_2