
Sore pun tiba. Dimana Marvin baru bangun, dan ia langsung mengusap matanya dengan perlahan lahan. Ia langsung duduk, dan melihat sekitar." Dimana, eh, kenapa aku bisa diselimuti begini.
"Apa ini semua Luna yang membuatnya. Kalau dilihat lihat, dia yang selalu ada disisiku, dan selalu menemaniku. Tapi aku tidak pernah mencintainya, kenapa bayangan Callista selalu ada di pikiranku. Aku tidak bisa melupakannya." Ucap Marvin mengacak acak rambutnya.
"Argh, lebih baik aku ke ruang musik saja deh. Untuk melampiaskan semua amarahku." Ucapnya langsung masuk ke ruang musik, yang sudah ada di rumahnya.
Sesampainya, ia langsung duduk dan membuka penutup piano tersebut. Ia langsung memainkan musik Om Shanti Om, yang sangat menusuk hati.
Begitu indah alunan nada yang dimainkannya, sampai pelayan yang sedang membereskan rumahnya, langsung terhenti dan sontak langsung meneteskan air mata mereka, karena lagu tersebut sangat menusuk hati seseorang yang mendengarkannya.
"Sedih banget lagu yang dibawakan oleh tuan Marvin. Apa dia sedang sedih." Ucap pelayan mudanya.
"Benar itu nak. Tuan Marvin mungkin sedang sedih, karena ditinggalkan oleh wanita yang ia cintai." Ucap pelayan tua yang sudah bekerja lama, sejak 5 tahun yang lalu.
Disisi lain, di ruang musiknya. Ia selesai memainkan musiknya, setelah beberapa menit." Kemana kamu Callista. Kenapa kamu tiba tiba menghilang tanpa jejak begini. Dan bahkan kamu tidak mengirim pesan dan surat kepadaku." Ucap batin Marvin mulai meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Sudahlah, ngapain juga aku tangisi wanita yang tidak pernah datang menjengukku. Jelas jelas saja, Luna yang selalu ada disisiku. Tapi tetap saja aku tidak pernah mencintainya. Argh, bagaimana ini tuhan." Ucapnya terus mengacak acak rambutnya kembali.
Tiba tiba ponselnya berdering. Dan Marvin langsung mengangkatnya." Halo." Panggilnya.
"Halo tuan Marvin. Anda sedang apa?." Tanya asisten musiknya.
"Aku baru saja selesai memainkan musikku. Ada apa emangnya." Jawabnya sekaligus bertanya.
"Apa nanti malam kita bisa bertemu tuan Marvin. Ada yang mau saya bicarakan dengan anda." Jawabnya.
"Nanti malam saya langsung yang akan datang ke rumah anda. Agar anda tidak perlu keluar lagi, dan tidak diperebutkan oleh reporter lagi." Jawabnya.
"Baiklah, aku akan menunggu mu." Langsung mematikan ponselnya.
"Apa yang mau dibicarakannya. Omong omong, bulan ini pekerjaanku sangat penuh. Mau apa lagi yang dibicarakannya." Ucapnya langsung keluar dari ruang musik, dan langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Malam pun tiba. Dimana Marvin sudah menunggu di ruang tamu, dan pelayan sudah menyediakan minuman dan cemilan lainnya.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintunya, dan masuk pengawal pribadinya." Permisi tuan, ada yang mencari anda." Ucap pengawal tersebut.
"Suruh dia masuk." Jawab Marvin memerintahkannya.
"Baik tuanku." Kembali ke luar, dan menyuruh masuk pria tersebut.
Masuklah pria tersebut."Halo gaes, bagaimana keadaanmu sekarang.Apa kaya masih membutuhkan istirahat?." Tanya asisten ya yang bernama Dixon.
Dixon adalah asisten pribadi Marvin, yang mengembangkan bakat musiknya. Hingga Marvin bisa menjadi orang yang terkenal hingga saat ini.
"Entahlah Dixon. Entah kenapa aku jadi malas bermain musik, karena bayangan wanita itu terus muncul dibenakku. Aku sangat mencintainya." Jawab Marvin menutupi wajahnya.
"Sabarlah Marvin. Mana tahu saja, saat kau mengungkapkannya lewat televisi dan siaran langsung, dia melihatnya. Dan mana tahu dia sadar, jadi dia akan balik begitu." Menenangkan Marvin.
__ADS_1
"Tapi,