Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Suamiku dan Sahabatku


__ADS_3

"Dari mana saja kamu, Mas?" tanyaku saat melihat Mas Adam masuk kedalam rumah.


"Aku lembur, Sayang!" jawabnya. Seperti biasa jawaban yang selalu saja ia berikan selama tiga bulan belakangan ini.


Biasanya aku selalu percaya dengan semua kata-kata suamiku itu. Tapi, entah mengapa hari ini aku ingin tau kebenarannya. Aku menelfon Ranti, sekertaris Mas Adam. Dan Ranti mengatakan bahwa Mas Adam sudah pulang sejak jam lima sore. Lalu, kemana dia pergi sampai larut malam ini? Sudah jam dua belas malam saat ia memasuki kamar.


"Apa benar kamu lembur, Mas?" aku yang sudah di penuhi rasa curiga, tak dapat lagi menahan hati untuk bertanya.


"Kok kamu nanya gitu sih, Sayang?" jawabnya, kemudian menghampiriku yang duduk di tepi ranjang kami.


Mas Adam membelai rambutku dengan lembut, kemudia mencium keningku. Hal yang selalu ia lalukan saat pulang kerja.


"Suaminya pulang, kok gak di salim sih?" tegurnya.


"Aku tadi telfon Ranti Mas, katanya kamu udah pulang dari jam lima sore!" ucapku tanpa menghiraukan tegurannya.


"Ranti? Kenapa kamu telfon dia? Kamu curiga sama suami sendiri? Kamu nggak percaya sama Mas?" bentak Mas Adam padaku.


Aku terdiam cukup lama. Hanya karena aku menelfon Ranti. Mas Adam tega membentakku. Padahal, sejak kami menikah ia tak pernah bicara dengan nada tinggi padaku. Meski, sampai saat ini kami belum diberikan anak. Tapi, sikap Mas Adam sama sekali tidak berubah. Ia selalu memanjakanku dan memenuhi semua kebutuhanku.


Aku merasa, Mas Adam mulai bosan padaku. Ia selalu pulang larut malam dengan alasan lembur selama tiga bulan belakangan ini. Padahal, dia adalah Manajer di perusahaan tempat ia bekerja saat ini. Awalnya aku selalu percaya, tapi hati nuraniku sebagai seorang istri juga tak bisa dibohongi. Aku curiga dan takut jika Mas Adam selingkuh di belakangku.


Tanpa terasa, mataku basah. Hatiku terlalu lemah meski hanya dibentak sedikit saja, apalagi oleh orang yang aku sayangi. Saat melihat air mataku jatuh berderai, Mas Adam memelukku.


"Sayang, maafkan Mas, Mas gk bermaksud untuk bentak kamu."


"Sudahlah Mas, kamu berubah sekarang. Jika memang kamu bosan padaku, lebih baik terus terang. Aku ikhlas jika kamu ingin bersama wanita lain, karena aku sadar belum mampu memberikanmu anak!" teriakku memotong pembicaraan Mas Adam, dan mendorongnya agar menjauh dariku.

__ADS_1


"Aqila, apa yang kamu katakan?"


"Jujur saja lah, Mas. Kamu sudah ada wanita lain kan?"


"Cukup Aqila. Hentikan! Sepertinya ada seseorang yang sudah mempengaruhi jalan pikiranmu." Jawab Mas Adam lalu meninggalkanku sendirian di kamar.


Aku menatap suami yang kukenal baik itu pergi. Aku berusaha menahan tangisku. Saat aku ingin berbaring, kutatap tas hitam yang biasa dipakai Mas Adam pergi bekerja. Rasa penasaranku pun kembali meningkat tajam. Dengan cepat aku ke arah pintu, dan menguncinya dari dalam.


Kembali aku bergegas duduk di sisi kasur. Membuka dengan cepat tas Mas Adam. Mengeluarkan semua dokumen-dokumen yang ada di dalamnya. Setelah mengecek satu persatu, tidak ada hal yang aneh. Aku kembali menyusun dan memasukkan semua dokumen itu ke dalam tasnya.


Namun, sebelum aku meletakkan kembali tas itu, aku merogoh kantung kecil disisi depan tas. Jari-jariku bersentuhan dengan kertas-kertas kecil. Aku menariknya keluar.


Deg....


Tagihan makan di Restoran, tagihan belanja, tagihan hotel dan entah tagihan apalagi yang aku genggam itu.


'Lihat saja kamu, Mas. Aku pasti akan mendapatkan bukti untuk membuatmu mengakui pengkhianatanmu ini.' bisikku dalam hati.


Aku kembali memasukkan semua kertas itu pada tempatnya. Membuka kunci kamar dan memutuskan untuk tidur lebih awal. Sampai pukul tiga dini hari, saat aku tersentak dari tidurku karena haus, aku tak melihat Mas Adam di kamar ini.


'Apa dia tidak kembali ke kamar sejak tadi?' pikirku. Kemudian aku turun dari kasur untuk mengambil air di dapur. Saat melintasi kamar tamu, kulihat Mas Adam diatas kasur.


'Dengan siapa dia video call jam segini?' fikirku.


Aku memutuskan untuk menghampirinya. Saat aku sampai didepan pintu kamar tamu, aku bertanya dengan nada kesal, "Siapa yang kamu telfon, Mas? Sepertinya asik sekali." sindirku tajam.


"Aqila... Sejak kapan kamu berdiri disitu?" tanya Mas Adam gugup dan langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Sejak kamu bermesra-mesraan sama selingkuhanmu itu divideo call!" ketusku lalu pergi meninggalkan Mas Adam yang masih tampak gugup.


Aku tak ingin berlama-lama disana, tak ada gunanya berdebat dengannya pagi buta begini. Aku langsung kedapur dan minum, setelah menghilangkan rasa hausku aku kembali kekamar. Aku memikirkan cara agar bisa membongkar rahasia Mas Adam, hingga tak terasa aku pun ketiduran.


Aku terbangun lagi saat merasakan kecupan hangat mendarat dikeningku yang dilakukan oleh Mas Adam setiap pagi.


"Selamat pagi, Sayang!" sapanya lembut.


"Pagi," jawabku singkat.


"Pagi-pagi kok udah jutek sih? Mau mandi bareng nggak?" tanya Mas Adam dengan tatapan menggoda.


"Nggak ah, kamu duluan aja. Aku masih ngantuk!" balasku lagi sambil berpura-pura ingin tidur kembali.


"Ya sudah, Mas mandi duluan ya," dia mengelus kepalaku, kemudian masuk ke kamar mandi.


Saat sudah kupastikan dia sedang mandi, aku buru-buru mencari keberadaan ponselnya.


'Ketemu' sorakku dalam hati, saat mendapati ponsel itu disebelah tas kerjanya.


Aku membuka kunci ponsel itu, dan mencari nama di daftar panggilan keluar. Nihil. Aku membuka aplikas WAnya. Banyak sekali pesan dari grup kerja dan keluarga yang belum dibaca Mas Adam sejak kemarin. Saat kutekan daftar panggilan.


"Nisa..." lirihku tak percaya.


Ada nama Nisa didaftar teratas. Kuperhatikan jamnya, jam dua malam tadi. Panggilan itu berlangsung sekitar satu jam dua puluh menit. Berarti, sampai setelah aku menghampirinya itu?


"Kenapa Mas Adam video call ria dengan Nisa di jam seperti itu? Apa Nisa sudah menggoda suamiku?" ucapku dengan tangan gemetar.

__ADS_1


__ADS_2