Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Dinner


__ADS_3

(POV Dokter Yusuf)


Akhirnya siang itu kami habiskan dengan berbincang ria sambil menyesap secangkir kopi dan beberapa cemilan yang Aqila pesan tadi. Setelah Roman pergi, aku mulai rileks saat bercerita dan bercanda tawa bersama Aqila.


Saat butik tutup karena jadwal makan siang pun, Aqila ternyata sudah memesan makanan delivery untuk seluruh karyawannya dan juga untuk kami berdua tentunya. Gagal sudah rencanaku untuk mengajaknya makan siang di luar kali ini.


Tapi tak mengapa, dapat bertemu dan melihatnya sudah hidup dengan normal kembali saja, aku sudah sangat bahagia. Mungkin, nanti aku bisa mengganti dengan mengajaknya makan malam saja. Aku akan lihat dulu bagaimana situasinya nanti sebelum mengajak Aqila makan malam di luar.


"Habisin dong, makannya dikit banget sih?" tanya Aqila padaku saat kami sedang makan siang bersama.


"Aku memang makannya dikit. Nggak bisa makan banyak-banyak. Ntar begah. Lagian lambungku kecil, nggak muat diisi banyak-banyak." jawabku sekenanya sambil bercanda.


"Ah alasan aja kamu. Mana mungkin laki-laki makannya dikit. Kamu malu ya makan dengan aku?" tanya nya penuh selidik.


"Eh, beneran kok. Beneran deh, suer. Ngapain juga aku malu. Yang biasanya malu-malu itu perempuan. Katanya kenyang, padahal lapar banget. Katanya udah, padahal pengen nambah. Hanya demi menjaga image di depan pria tuh." balasku lagi sambil menyesap air mineral dalam botol.


"Ih, kamu kok tau gitu? Punya pengalaman pribadi ya?"


"Nggak lah. Rata-rata perempuan begitu kalau lagi makan atau diajakin makan sama pria. Pasti banyak jaim nya deh."


"Tapi, aku nggak kok! Aku santai aja, ngapain juga harus jaim-jaim segala. Ya kan? Aku lebih suka jadi diriku apa adanya. Lepas aja gitu. Nggak ada beban di hati."


"Nah ini, aku suka tipe perempuan yang seperti ini. Jadi diri sendiri."


"Itu artinya, kamu suka dong sama aku?" tanya Aqila dan menatapku serius.


Aku tak tau harus menjawab apa. Apa aku harus mengatakan sejujurnya dengan menjawab 'ya aku mencintaimu' atau aku coba saja mencari alasan lain agar tidak terlalu kelihatan sekali perasaanku ini, setidaknya untuk saat ini sampai Aqila benar-benar mau membuka hatinya untukku.


Aqila menatapku dalam. Aku yakin dia sedang menunggu jawaban dariku. Saat aku sedang bersiap menjawab pertanyaan dari Aqila itu, wanita itu malah tertawa dengan menutup mulutnya. Terlihat cantik dan bahagia. Meski aku tidak tau apa alasannya tertawa saat ini. Aku diam menikmati pemandangan indah di depanku.

__ADS_1


Aku tak perlu tau alasan Aqila tertawa. Asal itu tawa bahagia, dan aku bisa melihatnya terus seperti ini, aku rela bahkan jika jadi objek tertawaannya.


"Hei, kok malah bengong lagi sih? Santai aja lah, nggak usah terlalu dipikirkan. Aku bercanda kok. Kita kan teman, harus sering-sering bercanda biar nggak serius-serius banget bicaranya." ucap Aqila akhirnya, setelah tawanya berhenti.


Bagi Aqila, hubungan kami memang tidak lebih dari pertemanan. Dan untuk sekarang, aku tak akan meminta lebih darinya. Biarlah dia menyembuhkan diri dan hatinya dari luka lama itu. Sebagai psikolog, aku mengerti kondisi kejiwaan Aqila seperti apa sekarang. Ia mungkin terlihat sudah sembuh dan bahagia. Namun, di dalam hatinya masih ada sesayat luka yang perlu ia sembuhkan. Dan aku akan membantunya menyembuhkan luka itu perlahan-lahan, seiring berjalannya waktu.


"Iya, aku tau kok. Meski pun perasaanku padamu istimewa, saat ini kita hanya berteman. Aku akan menunggu sampai pintu hatimu terbuka untukku!" akhirnya aku mengatakan hal itu pada Aqila.


"Dah lah, nggak usah bercanda." balasnya dengan salah tingkah.


"Soal perasaan, aku nggak pernah becanda."


"Ih, kan. Jadi serus gini, aku kan jadi nggak tau mau ngomong apa."


"Nggak usah terlalu dipikirin ya, Qil. Aku mengatakan hal itu padamu, hanya untuk mengeluarkan isi hatiku saja. Dan itu tidak berarti bahwa kamu harus menjawab, membalas atau menjadi sungkan setelah ini padaku. Tetap biasa aja, ya. Kita teman, bukan?" terangku panjang lebar pada Aqila. Agar wanita itu tidak salah paham atas pengakuanku padanya tadi.


"Iya, deh. Aku ngerti. Makasih ya, Suf. Kamu emang udah banyak banget bantu aku selama beberapa bulan ini. Kalau tanpa pendampingan dari kamu yang selalu sabar, mungkin aku masih dalam zona merah saat ini. Atau bisa jadi aku udah benar-benar jadi gila kali, ya. Haha." kembali Aqila tertawa renyah setelah mengakhiri kalimatnya.


"Duh, dalam banget nih. Selain jadi Dokter, udah bisa juga nih buat isi ceramah di acara pengajian." canda Aqila membuatku tertawa.


"Bisa aja kamu. Oh ya, tadinya aku mau ngajakin makan siang di luar. Tapi, berhubung kamu udah traktir aku makan siang di sini, ntar gantian gimana? Aku mau ajakin kamu makan malam di luar." tak mau menunggu lagi, akhirnya kukatakan juga yang seharusnya dari tadi kukatakan.


Kulihat raut wajah Aqila bimbang sesaat. Mungkin dia masih enggan untuk pergi keluar bersama seorang pria setelah bercerai. Statusnya yang kini adalah janda, tentu membuatnya memiliki banyak pertimbangan dalam melakukan sesuatu di tempat umum.


Apalagi, memang perceraiannya baru seumur jagung. Meski sebenarnya, pada masa ini menikah pun dia udah sah-sah saja. Tapi, pandangan dan pemikiran masyarakat kita pada umumnya tidak akan selalu sama dengan pendapat yang ada di agama.


"Hmm... Aku nggak bakalan maksa kok, Qil. Santai aja lah. Aku cuma nanya. Kalau kamu memang ada kepentingan lain dan nggak bisa, don't worry baby,"


"Bukan gitu..."

__ADS_1


"Lalu apa?"


"Aku hanya takut aja..."


"Apa yang kamu takutkan? Mantan suami mu udah menikmati hasil perbuatannya di penjara sana. Dia nggak akan mengganggumu lagi." aku coba menerka apa yang menjadi sumber ketakutan Aqila.


Karena memang dari raut wajahnya aku membaca ketakutan itu nyata. Tidak dibuat-buat untuk sekedar mencari alasan agar bisa menolak ajakanku.


"Bukan dia yang aku takutkan, tapi... Kamu..." jawabnya terbata-bata.


"Aku? Kenapa denganku? Aku nggak akan mencelakaimu, Qil. Apa kamu meragukanku?" aku bertanya dengan nada tak percaya.


"Aku hanya takut... Tidak bisa makan dengan santai, karena para gadis pasti akan terus melirik dan menatapmu dengan penuh kekaguman." jawab Aqila yang kemudian diiringi tawa garing.


"Ya ampun, Aqila..." aku menahan teriakanku dan kemudian mengusap kepalanya dengan sebuah senyuman terukir di sudut bibirku.


"Apa? Ada yang salah dengan apa yang kukatakan?" ucapnya dengan polos seperti tanpa dosa setelah membuat jantungku hampir saja lepas dari tempatnya.


"Kau berhasil menipu cara berpikirku sebagai ahli psikolog. Kau memang luar biasa." tawaku pecah setalah mengatakannya.


"Baik lah kalau begitu, jemput aku jam 7 malam. Oke?" Aqila tersenyum manis. Senyuman yang sangat aku sukai. Yang mampu membuat jantungku berdegup dengan kencang.


"Oke. Kalau begitu aku harus pergi sekarang. Ada hal yang harus segera kukerjakan sebelum nanti malam menjemputmu." Aku sudah berdiri dari dudukku.


"Baik lah. Semoga segala urusanmu di mudahkan, ya. Dan hati-hati di jalan." ucapnya padaku.


Aku mengangguk pelan sambil menebar senyum padanya. "Kay, aku pamit ya." ucapku pada Kayla yang sudah kembali duduk di meja kasir.


"Baik, Pak Dokter. Hati-hati di jalan." jawabnya dengan senyum yang hampir mirip dengan senyuman Aqila.

__ADS_1


Aku keluar dari butik dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan senang. Perasaan bahagia yang tak bisa aku ungkapkan. Yang sejak tadi aku coba tahan. Sejak Aqila mengatakan oke, ingin sekali rasanya aku meloncat kegirangan layaknya anak-anak yang diberi hadiah oleh orang tuanya.


Akhirnya, malam ini akan menjadi kencan pertamaku dengan Aqila. Kurasa, tidak berlebihan menyebutnya dengan istilah kencan. Atau mungkin sebut saja itu dinner. Ya, itu lebih tepat. Karena memang kami hanya akan dinner berdua nanti malam. Dinner dan kencan sekaligus. Ah, sudah lah. Apapun namanya, itu tidak penting bagiku. Yang penting aku pergi bersama Aqila.


__ADS_2