
Aku menatap Mas Adam dengan wajah sinis. Ayu yang mengerti akan terjadi perang rumah tangga, segera beranjak dari kursinya.
"Eh, Beb, aku ke toilet dulu ya," ucapnya.
Aku menjawab dengan anggukan pelan, dan Ayu pun pergi dari hadapanku dan Mas Adam.
Mas Adam menggenggam tanganku, tapi kenapa tangannya terasa dingin. Apa dia grogi karena ucapan Nisa tadi?
"Mas... Apa maksud ucapan Nisa tadi?" tanyaku dan menepis tangan Mas Adam.
"Yang mana, Sayang?" jawabnya masih saja dengan lembut, dan entah mengapa aku sekarang merasa jijik pada sikapnya itu.
"Yang tadi, yang dia bilang kamu perkasa,"
"Haha... Itu... Nisa kan memang seperti itu, masa temannya sendiri gk tau Nisa suka bercanda?"
"Aku serius, Mas!"
"Iya, terus Mas harus jawab apa coba?"
"Mas ada main ya sama Nisa?" tuduhku tak tahan lagi, membuat Mas Adam yang sedang menyeruput kopinya tersedak.
Uhuk... Uhuk...
Suara batuk Mas Adam, akibat tersedak, tak kuhiraukan sama sekali. Aku terlalu kesal saat ini.
"Kamu apa-apaan sih, Qila? Sejak kemarin kamu tuh aneh banget. Curigaan terus sama aku, kalau gini terus aku bisa bosan sama sikap kamu!" tanpa kuduga, Mas Adam marah besar.
Nada suaranya yang tinggi saat bicara padaku, membuat hatiku sakit.
"Mas, kamu ngebentak aku di sini? Kamu nggak sadar, gara-gara suara kamu aku di perhatiin orang-orang di Restoran ini?" tanyaku tak percaya, dan mataku mulai berkaca-kaca.
"Makanya, jadi istri jangan kebanyakan tingkah. Aku diam dan lembut selama ini sama kamu, bukan berarti kamu bisa seenaknya aja sama aku. Aku suami kamu, hargai privasiku!"
Jleb...
__ADS_1
Lagi, kata-kata Mas Adam tak seperti biasanya padaku. Aku seperti tak mengenali suamiku sendiri saat ini. Mataku terasa panas, mungkin air mata telah menggenang di pelupuknya. Kucoba untuk menahan agar butiran air mata itu tak jatuh ke pipiku.
"Kamu tunggu di sini sebentar, Mas mau ke toilet," ucapnya, lalu pergi meninggalkanku sendiri.
Saat sedang menunggu, aku melihat ponsel, kunci mobil dan tas kerja Mas Adam terletak di atas meja. Aku langsung teringat dengan chip yang diberikan oleh Roman pagi tadi.
Segera kuambil ponsel canggih milik Mas Adam, membuka pelindungnya sedikit. Kemudian aku mengambil kotak kecil berisi chip dari dompetku, menempelnya pada belakang ponsel dan segera memasang kembali pelindungnya.
Aku penasaran melihat galery foto dan video di ponsel Mas Adam, memang selama ini aku sama sekali tidak pernah memeriksa ponselnya. Karena dari awal menikah kami berkomitmen dan memutuskan untuk saling percaya.
Aku menggeser-geser gambar di dalam album foto Mas Adam, tidak ada yang aneh. Malah di dalamnya banyak foto-foto diriku yang kelihatannya di ambil Mas Adam diam-diam. Seperti fotoku saat tidur, memasak, menyiram bunga, bermain ponsel dan masih banyak lagi. Mas Adam memang sangat berbakat mengambil candid foto.
Selain itu, foto-foto kami saat liburan ke luar negeri juga memenuhi memory ponselnya. Karena memang, Mas Adam dan aku biasanya akan berlibur ke luar negeri minimal sekali dalam setahun.
Saat aku selesai di file foto, aku beralih ke file video. Hanya ada beberapa video di sana. Dan sudah kupastikan, itu adalah video kami saat bercinta. Mas Adam memang memiliki hobby yang sedikit aneh, dia suka sekali merekam saat kami bercinta di tempat yang baru pertama kali kami melakukannya. Mungkin, dari sekian banyak rekaman hanya ini yang menurut Mas Adam bagus dan layak di simpan.
Aku enggan membuka galery video itu. Aku menatap satu tampilan awal video yang kurasa bukan bagian dari diriku, aku kecilkan volumenya dan bersiap untuk memencet tombol putar, Mas Adam datang.
"Kamu periksa-periksa ponsel Mas, ya?" tanya Mas Adam padaku dengan tatapan curiga.
"Ini udah lama banget, Sayang. Nanti kamu kalau beli, yang keluaran terbaru aja. Kapan kamu maunya? Sekarang? Yuk, Mas anterin,"
"Eh... Nggak sekarang juga kok, Mas. Aku perlu backup data-data di ponsel ini dulu ke laptop."
"Kan bisa nanti-nanti. Lagian kalau beli lagi, kan ponsel lama tetap sama kamu. Bukannya di jual terus tukar tambah."
Mas Adam kembali bersikap ramah dan lembut padaku. Hatiku hampir saja meleleh dibuatnya, jika tidak karena panggilan telepon dari Nisa yang tiba-tiba masuk ke ponsel Mas Adam.
"Iya Nis? Aku masih sama Aqila. Oh, iya. Kamu bisa kan sendiri? Ya sudah kalau gitu, nanti kalau sudah selesai aku kabarin kamu, ya!"
Begitulah jawaban-jawaban yang Mas Adam berikan pada Nisa, entah apa yang wanita genit itu katakan padanya dari seberang sana.
"Nisa kenapa lagi, Mas? Kenapa sepertinya akhir-akhir ini hubungan kamu lebih dekat sama Nisa?" tanyaku curiga lagi.
"Sayang, saat ini Nisa ada masalah besar yang butuh banget suport dari aku."
__ADS_1
"Paling-paling suport masalah dana. Maklum saja, sugar daddynya sudah mencampakkannya," sindirku pedas. Aku benar-benar sudah menganggap Nisa sebagai wanita penggoda, makanya aku mengatakan kalau dia punya sugar daddy.
"Aqila... Nggak baik ngomong seperti itu, dia itu sahabat kamu. Kenapa kamu bisa bilangin dia kaya gitu. Seharusnya kamu itu mendukung dia dalam setiap masalah dong,"
"Kamu aja lah, Mas. Aku nggak tertarik ikut campur."
"Ya udah, Mas minta kamu jangan curigaan lagi dong sama Nisa dan Mas. Masa sih curiganya sama sahabat sendiri. Lagian Mas juga cuma mau bantuin dia aja."
Mas Adam mengusap kepalaku manja. Berhubung Ayu tak kunjung datang kembali. Mas Adam mengantarkanku kembali ke rumah. Awalnya dia mengajakku untuk ikut ke kantornya. Tapi, aku sedang malas berada di peruasahaan. Lebih baik aku berada di rumah dan bersantai.
Setelah mengantarku ke rumah, Mas Adam langsung putar arah lagi ke kantor. Katanya masih banyak pekerjaan yang menunggu. Sementara aku, saat Mas Adam menghilang dari pandanganku, aku mengambil kunci mobil dari dalam tasku.
Aku mengeluarkan mobilku dari garasi. Kemudian menginjak pedal gas menuju rumah Roman. Aku sudah tak sabar menunggu hingga besok pagi. Aku masih mengingat dengan jelas dimana alamat rumah Roman. Karena ternyata, kami tinggal di kompleks yang sama.
Sesampainya di rumah Roman, aku menekan bell beberapa kali saking tidak sabarannya. Namun, tidak ada jawaban dari dalam.
'Mungkin, Roman sedang keluar. Sebaiknya aku bersabar sampai besok pagi,' lirihku.
Dengan langkah lesu, aku mulai memutar tubuhku untuk kembali pulang. Tapi, belum sempat aku masuk ke dalan mobil, suara khas Roman terdengar memanggilku.
"Aqila..."
"Hai, ternyata kamu di rumah?" aku kembali bersemangat.
"Iya. Aku tadi lagi mandi waktu kamu mencet-mencet bell."
"Oh, gitu, sorry nih aku ganggu!"
"Its oke. Kok kamu dateng lagi? Ayu mana?"
"Panjang ceritanya, aku ke sini mau minta kamu hubungkan perangkat di ponselku ke chip yang udah kamu kasih tadi,"
"Kamu udah berhasil memasangnya?"
Aku mengangguk yakin pada Roman. Dan segera menyodorkan ponselku pada Roman. Dengan lihai, Roman memprogram ponselku dengan segala macam ***** bengeknya yang aku nggak ngerti sama sekali.
__ADS_1