
(POV Adam)
Aku masih bersembunyi di apartemen bekas Mami Meri tinggal sebelumnya. Entah sudah berapa banyak rokok dan minuman yang aku habiskan semalaman ini. Setelah dengan sengaja menabrak Aqila di parkiran bawah tanah kemarin, aku sempat bingung harus pergi kemana.
Tidak mungkin aku pulang ke kontrakan tempat Astri berada. Bisa saja mereka melapor polisi dan langsung menemukanku dengan mudah di sana.
Setelah berkeliling hingga malam, aku memutuskan untuk ke apartemen ini. Dengan ingatanku yang tajam, aku berhasil mengingat sandi pintu otomatis itu dan segera masuk untuk bersembunyi.
Untung saja aku memberitahu Astri bahwa aku akan keluar kota selama dua hari sebelum melakukan kejahatan itu.
"Aqila... Kau membuat hidupku berantakan dan menderita. Aku tidak akan membiarkanmu hidup. Aku pasti akan membunuhmu!" gumamku dengan geram.
Aku melempar botol minuman keras itu ke dinding dan botol itu langsung berubah menjadi pecahan-pecahan kecil yang bisa mengundang kematian.
"Dimana pun kau bersembunyi dariku, aku pasti akan menemukanmu!" ucapku lagi dan mengambil ponsel yang tergeletak tak bernyawa di lantai.
Ponsel itu sudah mati sejak malam. Aku sengaja tak mengisi dayanya karena tak ingin diganggu oleh siapa pun. Tapi siang ini, aku memikirkan keadaan Astri. Bagaimana kondisi istri mudaku itu sekarang? Apakah orang-orang sudah datang mencariku ke rumah?
Kusambungkan ponsel pada kabel yang sudah tercolok ke lubang listrik. Sepertinya, Mami lupa membawa carger ponselnya. Dan untungnya, carger itu bisa digunakan untuk tipe ponselku juga.
Sambil mengisi daya, aku memakan apa saja yang tersisa di lemari pendingin Mami. Masih ada beberapa roti dan buah-buahan di dalamnya. Ada juga beberapa pack mie korea dan stick daging yang tinggal dipanaskan saja pada microwave.
Perut yang lapar, membuatku menyantap apa saja yang bisa kumakan. Setidaknya perutku terganjal juga meski tak memakan nasi.
Setelah menunggu sekitar satu jam, aku mencabut ponsel dari colokan pengisi dayanya. Aku aktifkan ponsel itu dengan santai. Banyak sekali pesan masuk dari Astri. Juga panggilan masuk yang tertunda karena ponsel ini mati.
Belum lagi pesan dari aplikasi hijau yang tak terhitung jumlahnya entah dari siapa saja. Hanya chatting dari Astri yang aku buka dan baca.
__ADS_1
Dari sekian banyak pesannya, hanya satu yang membuatku sontak terkejut dan langsung menghubungi nomornya. Tapi tidak bisa terhubung.
Aku bergegas mandi membersihkan diri agar bau rokok dan alkohol hilang dari tubuhku. Beberapa helai pakaian Leon yang tertinggal di apartemen ini menjadi pakaian gantiku saat selesai membersihkan diri. Aku harus segera ke rumah sakit sekarang.
"Sayang, tunggu Papi ya. Papi akan datang." lirihku sambil memutar setir dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Aku memacu kendaraan roda empatku menuju Rumah Sakit Melati.
"Mas, aku akan melahirkan. Aku sudah berada di Rumah Sakit Melati. Saat kamu membaca pesan ini, usahakan segera menyusulku."
Begitu isi pesan yang dikirimkan Astri padaku pada pukul 8 pagi tadi. Sekarang sudah pukul 11 siang. Aku tidak tau apakah saat ini Astri sudah melahirkan atau belum. Apakah dia melahirkan dengan normal atau harus operasi seacar.
"Sus... Apa ada pasien masuk tadi pagi dan melahirkan?" tanyaku pada seorang perawat yang menjaga di meja pendaftaran.
"Banyak, Pak. Bisa Bapak sebutkan namanya?" jawab dan tanya perawat itu secara bersamaan.
"Astri. Usia 20 tahun."
Lalu perawat itu sibuk mengetik pada keyboard komputernya. Aku menunggu dengan tidak sabar. Sambil melihat ke kiri dan kanan.
"Pak, pasien bernama Ibu Astri sedang berada dalam ruang operasi karena harus menjalani operasi ceasar." perawat wanita itu berkata sambil mentapku heran.
"Baik, Sus. Apa saya boleh masuk ke dalam ruang operasi?"
"Maaf sebelumnya, Anda siapanya pasien ya?"
"Suaminya!" jawabku singkat dan lantang.
"Baik, Pak. Anda bisa masuk setelah memakai seluruh alat pelindung badan yang lengkap. Rekan saya akan menemani anda." jawabnya dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
Kemudian seorang perawat laki-laki datang menghampiriku dengan membawa seperangkat pelindung badan. Mulai dari pakaian yang seperti jas hujan itu. Sarung tangan, pembungkus kaki, masker, penutup kepala dan face field. Entah seperti makhluk alien mana aku saat ini.
Kami berjalan menuju ruang operasi yang sedang dijalani Astri. Saat aku melintasi satu ruangan sebelum ruang operasi, aku melihat Mami Meri berdiri di sisi ranjang pasien sambil menelpon dan menghadap ke arah pintu.
Aku berhenti tepat di depan pintu yang memang diberi kaca setengahnya. Jadi, aku maupun Mami sama-sama bisa saling melihat saat ini.
Sesaat aku gugup dan takut. Tapi, ketika mengingat bahwa saat ini aku sedang menggunakan segala atribut perlindungan medis ini, aku menjadi lega dan tenang. Aku kembali rileks dan enjoy karena tau, Mami tidak mungkin mengenaliku saat ini. Bahkan mataku pun tertutup oleh topeng kaca plastik ini.
'Hahaha... Ada juga gunanya barang-barang plastik menyebalkan ini. Aku aman dari tatapan maut wanita tua yang seksi itu.' bisikku dalam hati dan tersenyum sinis.
"Pak, silahkan masuk. Proses operasi baru saja akan di mulai karena pasien baru tertidur setelah dibius." perawat itu berkata sambil mempersilahkanku masuk.
Aku mengangguk dan membuka ruang operasi. Di ranjang yang sudah di lengkapi lampu dan alat-alat operasi itu tampak Astri sedang berbaring dan memejamkan mata.
Aku segera menghampirinya dan menggenggam erat tangannya.
Waktu berlalu sangat cepat. Operasi berjalan lancar dan seorang bayi laki-laki sudah hadir ke dunia ini. Bayi itu sedang dibersihkan dan diberikan imunisasi awal. Ditimbang dan diukur penjang badannya. Aku menemani Astri dengan haru. Perlahan mata Astri mulai terbuka. Mungkin efek bius itu sudah habis.
Astri sudah melihat bayi mungil kami yang ternyata lahir tidak cukup bulan. Astri diduga stress dan memicu kontraksi dini. Sehingga dokter akhirnya harus memutuskan jalan operasi agar bayi dalam kandungannya selamat.
Meski hanya lahir dengan berat 2,5 kg saja, bayi laki-laki itu terlihat aktif dan lincah. Dia juga tak perlu dirawat dalam tabung inkubator. Syulur lah, setidaknya hal itu tidak menambah beban biaya yang harus aku keluarkan.
Untuk penanganan pribadi, tentu biaya inkubator sangat mahal perharinya. Aku sudah tidak memiliki banyak uang lagi dalam tabunganku.
Kini bayi kami dan Astri sudah bisa dipindahkan ke kamar inap. Aku mendampingi Astri dari samping karena para dokter dan perawat yang mendorong ranjangnya, juga membawa bayi kecil itu. Saat melewati kamar dimana aku melihat Mami Meri tadi, aku melihat Aqila sedang bersandar pada kasur dan tersenyum pada seorang gadis muda di sampingnya.
"Aqila, tunggu saja sampai aku mendapat kesempatan untuk membunuhmu di rumah sakit ini!" gumamku sambil terus melangkah maju mengiringi ranjang dorong Astri.
__ADS_1