
Mas Adam tau dengan cepat, dimana aku berada. Siang itu, dia menjemputku ke rumah Ayu. Karena aku tidak mau menimbulkan keributan di rumah Ayu, aku mengalah dan pulang bersama Mas Adam.
Ayu memberiku semangat. Aku sudah banyak bercerita pada Ayu sejak pagi. Aku yakin, Ayu akan membantuku dalam hal ini.
Ya, aku ingin berpisah dari Mas Adam. Dan kupercayakan Ayu untuk mengurus perceraianku. Dia Kuasa Hukum yang sangat tepat untukku.
"Aqila... Jangan bertingkah seperti anak-anak. Ada masalah sedikit langsung minggat," ucap Mas Adam dengan nada kasar padaku.
Entah apa yang akhirnya membuat Mas Adam berubah seperti ini. Dulu dia bahkan tak pernah meninggikan suaranya padaku.
"Sedikit kamu bilang, Mas? Hah... Memang laki-laki itu maunya enak sendiri. Mikirin dirinya sendiri, mikirin perasaan sendiri." ucapku dengan nada berteriak.
Di dalam mobil itu kami terus bertengkar selama perjalanan ke rumah. Aku dengan emosi terus saja menjawab semua perkataannya.
Setelah lelah berdebat, aku memilih diam. Hingga mobil terparkir di halaman rumah, aku masih tetap diam. Kuayunkan kaki memasuki rumah warisan orang tuaku itu.
Mana aku peduli padanya yang masih tertinggal di belakang. Aku berjalan dengan cepat dan segera menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
"Aqila... Buka pintunya... Mas mau masuk. Kenapa pintunya kamu kunci?" teriak Mas Adam selang beberapa menit setelah aku mengunci pintu kamarku ini.
"Aku nggak mau kamu masuk ke kamarku lagi. Sana, pulang ke rumah gundikmu. Kamar dan kasurnya pasti lebih nyaman bukan?" teriakku dari dalam, menahan emosi agar tak meledak.
"Sayang... Tolong lah, jangan bicara seperti itu lagi. Belajar lah ikhlas menerima kenyataan ini. Bagaimana pun semua sudah terjadi," jawabnya seperti tidak berdosa dari luar sana.
'Ikhlas? Sudah terjadi? Hah, dia pikir hatiku ini mati rasa?' aku terus menggerutu dalam hati.
Mas Adam benar-benar sudah hilang akal. Sepertinya dia benar-benar sudah tidak waras dan mati perasaan padaku. Aku menggigit bibir menahan air mata agar tidak tidak tertumpah lagi untuknya.
__ADS_1
'Cukup Aqila. Cukup... Jangan lagi menangisi pria pengkhianat seperti dirinya. Air matamu terlalu berharga untuk sampah seperti dia.' aku mencoba menguatkan diri dengan kata-kata itu.
"Aqila... Ayolah, Sayang... Mas mau mandi nih, mau ganti baju." ucapnya lagi mencari alasan agar aku membukakan pintu.
Untuk apa dia mandi siang-siang begini? Aku tidak akan tertipu oleh kata-katanya. Biarkan saja dia menunggu di luar. Nanti jika lelah pasti dia akan pergi. Jika tidak ke ruang tamu, ke kantor, atau bisa jadi ke rumah istri simpanannya itu.
Aku sudah tidak perduli lagi. Kupasrahkan semua pada takdir. Aku yakin, bahwa ini adalah pilihan terbaikku. Aku, benar-benar tidak bisa hidup bersama seorang pengkhianat cinta seperti Mas Adam.
"Baiklah, jika kamu memang nggak mau buka pintu. Mas ke rumah Astri dulu, dia barusan kirim pesan wh*ts*ap. Perutnya sakit lagi," ucap Mas Adam masih dengan tidak berperasaan.
Begitu gampangnya dia mengatakan itu padaku. Istri sahnya yang jelas-jelas sedang merasa terluka dan kecewa karena pengkhianatan yang ia lakukan. Cih, dasar laki-laki tak tau diri.
"Pergilah, dan jangan pulang lagi ke sini. Aku tidak sudi lagi tinggal satu atap dengan seorang pengkhianat." jawabku dengan lantang.
"Sayang, kamu salah paham. Coba kamu pikir, kalau Astri sudah melahirkan nanti, tentu bayi itu akan menjadi milikku juga. Bayi itu darah dagingku, yang otomatis akan menjadi milikmu juga. Karena kamu istri sahku secara hukum dan agama,"
Mas Adam terdiam. Tidak terdengar suara apa pun dari balik pintu. Aku mengintip dari lubang kecil yang memang ada di tengah daun pintu itu.
Ternyata dia sedang mengetik sesuatu di layar ponselnya. Mungkin pelakor itu sedang menggerutuinya karena masih ada di sini.
"Sayang, aku akan pergi dulu. Nanti malam kita bicara lagi. Oke? Mas tau kamu sangat marah saat ini. Jaga kesehatanmu, kamu baru keluar dari Rumah Sakit."
"Pergilah, Mas. Dan tolong jangan pernah kembali dalam hidupku."
"Apa maksudmu, Sayang?"
"Dan satu lagi... Berhenti memanggilku sayang. Telingaku seperti ingin muntah saat mendengarnya."
__ADS_1
"Aqila... Apa kamu tidak keterlaluan kali ini? Mas tau salah, tapi..."
"Aku sudah membuat gugatan cerai untukmu, Mas. Tunggulah sebentar lagi sampai surat itu datang padamu. Dan tolong bubuhi tanda tanganmu di kertas keramat itu nantinya!"
"Apa maksudmu? Cerai? Kamu mau menggugat cerai padaku?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Tentu saja, ia bahkan tidak bisa apa-apa jika tidak karena bantuan financial dan koneksi ayahku dalam pekerjaannya.
"Tentu saja, Mas. Apa kamu pikir, aku masih sudi hidup bersamamu? Aku wanita biasa, Mas. Jika kau memintaku untuk menerima ****** itu dalam hidupku dan hidup berdampingan dengannya sebagai wanita yang sama-sama berstatus istrimu, maaf, Mas. Aku tidak sekuat itu!"
"Tapi kita... Masih bisa membicarakannya, Sayang. Tidak baik mengambil keputusan berpisah di saat sedang emosi seperti ini."
"Aku sudah memikirkannya baik-baik sejak kemarin. Dan kuharap, Mas bisa menerima keputusanku ini. Sekarang, pergilah dari rumahku, Mas." aku mengusir pria yang masih berstatus suamiku itu dari rumah ini.
"Aqila... Kamu mengusir Mas?" tanya Mas Adam dengan nada tak percaya dari balik pintu.
Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya. Karena aku yakin Mas Adam sendiri sudah tau jawabannya. Dia bertanya hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Sepertinya aku memang sudah terlalu kejam dan keterlaluan padanya. Tapi itu pantas untuk dia dapatkan.
Setelah suasana hening cukup lama, aku yakin Mas Adam sudah pergi. Aku berjalan ke balkon dan menatap ke bawah. Benar saja, mobil hitam Mas Adam baru saja keluar dari halaman rumahku. Aku yakin, dia akan pergi mengadu ke rumah simpanannya itu.
Akh... Hatiku sakit saat memikirkan hal itu. Setelah kepergian Mas Adam, aku mulai mengemasi barang-barang milik Mas Adam. Lalu kupindahkan ke kamar tamu. Agar ia tak perlu masuk lagi ke kamar ini dengan alasan apapun.
Biarlah, saat dia kembali nanti, akan kusuruh dia membawa semua barang-barangnya itu ke rumah Astri. Istri yang sedang ia
sanjung-sanjung karena sedang mengandung anaknya itu.
Lagi pula, aku sudah mengurus berkas-berkas perceraianku dengannya. Aku sama sekali tak ingin lagi tinggal satu rumah dengan Mas Adam.
__ADS_1
"Mas... Kenapa kamu lakukan ini padaku?" ucapku saat menurunkan foto pernikahan kami yang tertempel di dinding kamar. Air mataku kembali jatuh berderai mengingat semua kenangan indah yang telah kami lalui selama tiga tahun belakangan ini.