
Hari ini adalah sidang ke tiga dari kasus perceraianku dan Mas Adam. Tidak disangka, sebulan telah berlalu. Meski selalu diberikan surat panggilan dari pengadilan, Mas Adam tidak pernah hadir sekali pun.
Setelah beberapa teror yang aku terima, sementara waktu aku tinggal di rumah Ayu dan dilengkapi dengan cctv dan beberapa orang aparat yang menjaga sekeliling rumah itu. Saat kami bepergian pun, dua orang tentara selalu mengawasi kami dari jarak dekat dengan berpakaian casual.
Sehingga, orang-orang yang melihat tidak akan mengira bahwa aku dan Ayu sedang dijaga ketat.
Kali ini aku ke pengadilan sendirian, karena Ayu ada urusan yang harus dia kerjakan. Setelah mengantarkan Ayu, aku segera menuju ke gedung pengadilan agama.
"Apakah saudara Adam tidak hadir?" tanya jaksa yang bertugas.
"Tidak, saya sebagai Pengacara yang ditunjuk akan mewakili klien." ucap Pengacara Mas Adam sambil berdiri.
"Baik, karena pasangan ini tidak mencapai kesepakatan untuk rujuk saat mediasi, maka perceraian mungkin akan menjadi pilihan terakhir. Tahap hak asuh anak kita lewati mengingat pasangan Saudara Adam dan Saudari Aqila tidak mempunyai anak. Kita hanya akan membahas masalah harta gono gini." ucap Pak Jaksa.
"Izin, Pak Jaksa yang terhormat." Pengacara Mas Adam berdiri dan melirik kearah Pengacaraku dengan sinis.
"Izin diterima!" jawab Jaksa Agung.
"Saya ingin meminta bahwa seluruh aset dan harta yang dimiliki oleh kedua belah pihak saat ini di bagi dua. Jika itu rumah, mobil bisa dijual dan uangnya di bagi dua atau sesuai kesepakatan selanjutnya," sela Pengacara Mas Adam.
'Cih. Bagi dua? Apa yang dimiliki Mas Adam selama ini, hampir seluruhnya adalah milikku sebelum menikah dengannya. Enak saja dia mengatakan bagi dua!" batinku berkata sambil melepas tawa mengejek padanya.
Sepertinya, Pengacara itu baru bekerja di bidangnya dan belum tau apa-apa tentang klien yang dia bantu. Atau Mas Adam memanipulasi segalanya pada Pengacara muda itu.
"Maaf, izin membela, Pak Jaksa." ucap Pengacaraku itu setelah berdiri dan mengibaskan jas kebanggannya.
__ADS_1
"Izin diterima!" jawab Jaksa Agung.
"Apa yang telah diberikan oleh tergugat kepada penggugat selama pernikahan? Hampir tidak ada. Rumah yang ditempati adalah peninggalan mendiang orang tua penggugat. Mobil yang digunakan penggugat adalah hasil dari jerih payahnya sendiri. Beberapa aset dan saham yang dimiliki oleh penggugat, murni milik penggugat sendiri tanpa campur tangan tergugat. Bahkan, mobil dan fasilitas lainnya serta pekerjaan tergugat adalah hasil bantuan dari penggugat. Jadi, harta gono gini mana yang ingin dibagi dua oleh tergugat? Bukankah seharusnya, tergugat yang harus memberikan denda kepada penggugat karena perceraian ini terjadi karena kesalahan tergugat." terang Pengacaraku panjang lebar.
Pengacara yang dikirim oleh Ayu untuk menggantikannya hari ini ternyata sama cerdas dan cepat tanggapnya seperti Ayu. Tadinya aku kira dia hanya akan diam dan menerima. Karena terlihat dari raut wajahnya, dia tidak terlalu fokus mendengarkan segalanya saat persidangan.
Kuputar bola mataku kearah Pengacara Mas Adam. Nampak ekspresinya berubah yang tadinya sangat menggebu-gebu menjadi pucat dan salah tingkah.
Mas Adam pasti sudah membodohi Pengacara muda itu. Aku yakin, saat ini dia sedang mengutuk Mas Adam di dalam hatinya.
"Dan lagi, Pak Jaksa. Klien saya ini bisa saja memenjarakan tergugat dan istri barunya dengan kasus perzinahan atau perselingkuhan. Bukankah saat ini sudah ada undang-undangnya? Mereka bisa di penjara kurang lebih 9 bulan dan denda ratusan juta. Apalagi mereka sudah menikah siri tanpa sepengetahuan dan izin dari penggugat atau klien saya selaku istri pertamanya yang sah di dalam hukum dan agama!" sekali lagi Pengacaraku yang bernama Arya itu berkata dengan sangat lantang.
Habis sudah. Pengacara Mas Adam terduduk lemas tak berkutik dan tak mampu lagi berbicara. Aku lega akhirnya Arya mengatakan hal itu. Itu adalah poin pentingnya dalam persidangan kali ini.
"Jadi bagaimana, Nyonya Aqila? Apakah anda akan memperpanjang masalah ini ke ranah hukum? Anda mempunyai hak dan wewenang melakukan itu tanpa paksaan dan dorongan dari pihak manapun." Jaksa itu bertanya padaku.
Setelah jawaban itu aku berikan, Jaksa Agung dan para Jaksa lainnya nampak berbisik-bisik satu dan lainnya. Sesekali mereka melihat kertas yang ada di depan mereka.
Mungkin, mereka sedang merundingkan hasil dan keputusan sidang kali ini. Hatiku mulai gelisah. Jantungku tak karuan.
Setelah berdiskusi kurang lebih selama 10 menit, para Jaksa sudah duduk formal di kursinya masing-masing sambil memandang kami lurus ke depan.
"Baiklah. Setelah merundingkannya bersama, maka hasil keputusan sidang kali ini adalah, semua harta bawaan dari Nyonya Aqila sepenuhnya menjadi milik Nyonya Aqila. Dan harta yang dimiliki Tuan Adam saat ini, akan dibagi dua kepada Nyonya Aqila. Dikarenakan, itu adalah harta yang didapat setelah pernikahan."
"Dan, karena Nyonya Aqila tidak ingin memperpanjang masalah ini ke ranah hukum lagi, maka Tuan Adam wajib memberikan kompensasi sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah. Maka, dengan semua hasil sidang hari ini, Tuan Adam dan Nyonya Aqila kami nyatakan resmi bercerai!" ucap Jaksa Agung dengan suara keras dan lantang dan penuh penekanan di kalimat akhir.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
Diiringi oleh tiga kali suara palu diketukkan pada meja di depan Jaksa Agung sedang berdiri.
Aku langsung meneteskan air mata. Aku bahagia. Meski sedikit luka pasti ada tersisa. Bagaimana pun, aku pernah menjalin rumah tangga penuh cinta dengan Mas Adam.
Dengan senyum bahagia, kujabat tangan Arya dengan erat dan mengangguk puas.
Ia pun sepertinya sangat senang dan bangga. Tentu saja, itu rasa bangga yang tak terkira saat seorang pembela hukum memenangkan satu kasus dalam jalan kebenaran.
"Terima kasih, Pak Arya." aku berkata dengan tulus.
"Sama-sama, Bu Aqila." jawabnya ramah.
Setelah selesai persidangan dan mendapatkan surat perceraian, aku segera meninggalkan gedung itu.
Rasanya aku bebas, lepas, dan puas. Semoga saja rasa sakit atas pengkhianatan itu tak pernah lagi kurasakan setelah aku meninggalkan gedung yang tinggi menjulang itu.
"Sial. Aku akan membalasmu, Aqila!" isi sebuah pesan dari nomor tanpa nama di ponselku.
"Hah, apa yang bisa kamu lakukan saat ini, Mas? Aku bahagia sudah lepas dari pria bajingan sepertimu!" aku berkata sambil membawa kendaraan roda empatku itu meninggalkan tempat keramat yang tak ingin aku datangi lagi seumur hidupku.
Saat sampai di sebuah Hotel, aku memesan minuman dan makanan pembuka di Restoran Hotel itu. Tak lupa, aku memotret surat cerai dan mengunggahnya di media sosialku.
"Terima kasih, Tuhan. Karena sudah melepaskanku dari belenggu pria kere dan pengkhianat seperti DIA!"
__ADS_1
Tak lupa kusematkan caption itu di atas foto dan segera menekan tombol kirim.