
(POV Astri)
Semenjak aku dan bayiku pulang ke rumah dari rumah sakit pasca bersalin, lima bulan sudah berlalu. Semenjak itu pula aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan Mas Adam. Bukannya aku tidak mau, tapi aku tidak ingin membawa bayiku ikut serta ke penjara untuk menjenguknya. Jika ditinggalkan, tidak seorang pun yang bisa aku percaya untuk menjaga putraku.
Kini usia Ferdi sudah lima bulan pula. Tak sekali pun dia berjumpa dengan Papi nya yang sangat memanjakannya sejak masih dalam kandungan. Meski Mas Adam tidak pernah tau tentang kebenaran ini. Hanya karena aku tak ingin hidupku dan anakku semakin menderita, makanya aku terpaksa menjerat Mas Adam malam itu.
Tak dapat aku pungkiri, semakin lama bersama semakin tumbuh pula rasa cinta dan sayangku padanya. Makanya aku dengan tega mengambil Mas Adam dari Kak Aqila. Wanita yang memang sudah banyak sekali berjasa dalam hidupku.
Entah lah, aku tidak bisa menjelaskan lagi. Hanya demi kebahagiaan anakku, aku mampu melakukan semua itu padanya. Mungkin kini, sudah tidak ada lagi kata maaf darinya untukku. Jika aku bahwa aku menyesal sekarang, mungkin itu sudah terlambat dan percuma.
"Hai, kok melamun?" terdengar suara bass yang selalu kudengar selama lima bulan belakangan ini menyapaku.
"Baru datang, ya?" jawabku dengan senyum mengambang.
"Iya. Nih aku bawa susu dan popok untuk Ferdi. Mana dia?" balasnya lagi dengan menyodorkan empat kantong besar yang berisi popok dan susu formula dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Banyak banget nih. Nggak berat tadi bawanya kesini?" tanyaku sambil mengambil kantong-kantong itu dan meletakkannya di atas sofa.
"Ga lah. Masa sih segitu aja banyak. Oh ya, aku nanya Ferdi lo. Mana?"
"Dia baru aja tidur. Makanya aku bisa santai duduk di sini. Pegel juga aku, Mas. Maunya di gendong terus."
"Ya namanya juga masih umur segitu, masih mau di manja-manja. Sabar aja, ya."
Mas Aris sering datang ke rumah. Membawakan perlengkapan dan kebutuhan Ferdi. Dia juga royal memberiku uang belanja. Jika tidak ada dia, entah bagaimana hidupku selama lima bulan belakangan ini. Entah lah, aku tak kuat membayangkannya.
__ADS_1
"Kamu melamun apaan tadi?" tanya Mas Aris yang sudah duduk di sampingku.
"Oh, ga apapa kok, Mas. Cuma lagi ngilangin capek aja." jawabku berbohong padanya.
"Jangan bohong, Ast. Aku tau kamu pasti sedang memikirkan suamimu, kan?" tebaknya dengan benar.
Aku menatap Mas Aris tak percaya. Bagaimana ia bisa menebak dengan mudah. "Eh, i-itu... Mas. Nggak kok. Aku nggak mikirin dia." jawabku tergagap.
Tiba-tiba saja Mas Aris meletakkan telapak tangannya yang besar itu di atas pahaku yang terbuka, karena memang aku hanya mengenakan daster sebatas lutut. Yang mana jika aku duduk, tentu saja daster itu semakin naik ke atas.
Mas Aris tidak pernah berbuat seperti ini sebelumnya. Mas Aris selalu sopan padaku saat berkunjung. Aku akui dia memang sudah banyak berjasa bagiku. Aku banyak berhutang budi padanya. Jadi, untuk marah pun atas perlakuannya ini aku tak mampu.
"Mas... Em, itu... Aku bikin kan kopi dulu, ya." ucapku mencoba lari dari suasana menegangkan ini.
Apalagi ini? Apa Mas Aris mulai tertarik padaku? Apa Mas Aris mulai bernafsu saat melihatku? Bagaimana jika dia meminta atau bahkan memaksaku untuk melakukan hal yang mengarah kepada sentuhan fisik lainnya.
Aku bergegas ke dapur dan mulai meracik kopi serta gula. Sambil menunggu air mendidih, kutepis semua pertanyaan dan rasa takut yang berlebihan tadi dari dalam pikiranku.
"Aku memang sangat merindukanmu, Mas. Kapan kita akan bersama lagi?" lirihku sambil menuang air panas dan mengaduk isi dalam gelas tamu berwarna putih itu.
Hampir saja aku melempar gelas yang akan aku angkat ini, saat ada sepasang tangan kokoh yang memelukku dari arah belakang.
"Astaga. Mas Aris. Apa yang kamu lakukan, Mas?" tanyaku sambil berusaha melepaskan tangannya dari tubuhku.
"Tenang lah, Ast. Jangan berisik dan jangan banyak bergerak. Jika kamu terus bergerak, maka akan ada junior yang minta di lepaskan dari kandangnya nanti." jawab Mas Aris tanpa berniat melepaskan pelukannya dari tubuhku.
__ADS_1
Aku mengikuti perintahnya dengan tidak banyak bergerak bahkan aku tidak berbicara lagi. Mas Aris semakin mengencangkan pelukannya padaku.
Deg... Deg... Deg...
Detak jantungku berpacu cepat seiring dengan tarikan napasku yang memburu. Aku tidak tau kenapa perasaan ini muncul. Apakah karena sudah terlalu lama aku tidak disentuh oleh Mas Adam? Aku yang awalnya merasa keberatan dengan perlakuan Mas Aris, sekarang malah merasa nyaman.
"Nikmati saja, Ast. Jangan memahannya. Aku di sini akan selalu uda untukmu. Menghapus kesepianmu." bisik Mas Aris tepat di samping daun telingaku.
Hembusan napasnya membuat bulu kudukku merinding. Aku seperti merasa getaran aneh menjalar di sekujur tubuhku.
"Bukan kah kamu merindukan suamimu yang breng*ek itu?" tanya Mas Aris dengan nada mengejek.
Aku harusnya marah mendengar suamiku di hina seperti itu. Apalagi ucapan itu langsung ia lontarkan di depanku. Namun, saat ini aku sungguh tidak berdaya. Aku tidak menjawab atau marah atas ucapan Mas Aris.
"Aku memang merinduka Mas Adam, Mas. Bagaimana pun dia masih suamiku. Meski aku belum bisa menjenguknya hingga saat ini." jawabku setelah cukup lama diam.
"Tak perlu merindukannya lagi, Ast. Aku akan menggantikan posisinya di sini. Kau bisa menganggap diriku sebagai Adam." Mas Aris berkata dengan santai.
Aku cukup terkejut dengan apa yang Mas Aris katakan. Bagaimana ia bisa berkata demikian dengan cukup santai. Memang selama ini yang Mas Aris berikan padaku sudah seperti seorang suami pada istrinya. Dia juga menyayangi Ferdi seperti anaknya sendiri, memanjakannya lebih dari yang aku bayangkan.
Dari sekian banyak hal yang telah ia lakukan padaku layaknya seorang suami yang bertanggung jawab, tapi hanya ada satu hal yang tidak pernah ia lakukan selama ini.
Mas Aris dan aku hanya belum pernah melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Karena memang kami bukan suami istri tentunya. Lalu, apakah maksud ucapan Mas Aris tadi adalah hal ini? Mas Aris akan menggantikan posisi Mas Adam sebagai suami dalam segala hal. Termasuk masalah ranjang.
"Apa yang kamu maksud, Mas?" aku memberanikan diri untuk bertanya lebih dalam perkataan Mas Aris agar aku tidak salah mengartikannya.
__ADS_1