Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Rencana


__ADS_3

Tidak sampai tiga puluh menit. Mobil milik Ayu memasuki halaman rumahku. Sebenarnya, aku bisa saja pindah dari sini. Ke rumah yang jauh lebih mewah dari ini. Karena Mas Adam mampu membelikannya. Tapi, lagi-lagi aku sayang membiarkan rumah peninggalan Orang Tuaku ini dalam keadaan kosong. Di sini penuh dengan kenanganku bersama mereka. Aku tak akan pernah mau pindah kemana pun.


"Hei... Mukanya kok masam banget, kayak jeruk busuk," sapa Ayu ketika sampai disampingku, kemudian kami berpelukan.


"Gimana ga masam, coba? Mas Adam itu sekarang berubah banget, sering pulang malam. Dan kemarin aku periksa tas kerjanya, banyak banget tagihan belanja, Hotel, juga bill di Restoran mahal. Sementara, aku udah satu bulan ini nggak pernah ngajak dia belanja, nggak pernah diajak dinner di luar, apalagi nginap dihotel. Apa aku nggak boleh curiga sama dia, kalau udah gini?" cerocosku tak henti pada Ayu yang baru saja datang.


Ayu tampak mendengarkanku dengan sabar. Aku bahkan lupa menyuguhinya air minum, karena kulihat ia berjalan sendiri mengambil air. Ya, dia memang sudah mengenal baik rumah ini. Semasa sekolah, bahkan dia dan Nisa sering menginap dirumahku ini berhari-hari.


"Kamu yang ngomong panjang lebar, aku yang haus. Aku minum dulu," jawabnya, lalu meneguk air putih itu hingga habis.


"Nih, aku juga udah buatin sarapan buat kamu!" ucapku menyodorkan sepiring nasi goreng seafood kesukaannya. Aku tau, Ayu buru-buru datang ke sini dan pasti dia belum sempat sarapan. Jadi aku memang sengaja membuatkan sarapan untuknya selagi menunggu ia datang.


"Wuaa... Kamu memang terbaik, Beb. Muach!" jawabnya senang dan mengecup pipiku.


Aku membiarkan Ayu memakan sarapannya dengan tenang. Setelah selesai, pasti otaknya itu akan langsung conect dan dia mulai aktif menanyaiku.


"Jadi, hal lain apa yang membuatmu yakin dia memiliki wanita lain?" tanya Ayu, setelah menghabiskan sarapannya.


"Aku curiga, ini ada hubungannya dengan Nisa!" jawabku serius.


"Nisa? Teman kita?" tanya Ayu tak percaya.


"Iyalah, Nisa siapa lagi?" ucapku lagi.


"Emm... Kalau boleh jujur sih, aku memang pernah lihat Mas Adam itu sedang berada di Hotel Clarion bersama seorang perempuan. Aku tidak melihat dengan jelas, tapi perempuan itu dari gaya pakaian dan cara jalannya memang mirip sama Nisa. Tapi aku tidak curiga karena bisa saja itu kliennya. Aku pikir, dia sedang mengadakan pertemuan dengan klien di Hotel itu," ucap Ayu panjang lebar padaku.

__ADS_1


"Itu pasti memang Nisa. Kenapa kamu nggak pernah cerita sama aku? Kapan kamu lihatnya?"


"Mungkin, sekitar satu minggu yang lalu. Waktu itu aku sedang ketemu klienku di Hotel itu juga,"


"Tidak salah lagi. Awas kamu, Mas. Aku akan membuat kamu menyesal karena telah mengkhianatiku!" gerutuku menahan emosi.


"Sudahlah, tenangkan dirimu dulu. Kita harus mengatur rencana, supaya semua bisa jelas. Jika benar dia berselingkuh, apa yang akan kau lakukan?" pertanyaan Ayu sontak membuatku terdiam cukup lama.


Jujur saja, aku takut jika semua hal ini benar-benar terjadi. Aku masih berharap, semua ini hanyalah ketakutanku saja. Tapi, jika ternyata benar apa aku siap melepaskan Mas Adam? Aku tentu saja tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain. Aku bisa meaafkan kesalahan-kesalahannya yang lain, tapi tidak jika urusan dia berselingkuh.


"Aku akan menggugat cerai!" jawabku penuh tekad.


"Apa kau sungguh tak akan terluka nanti?"


"Aku akan lebih terluka jika terus melanjutkan hubungan dengan seorang pengkhianat," balasku tanpa menatap pada Ayu.


"Sebaiknya, kamu cari seseorang yang bisa menyisipkan pelacak pada ponsel Mas Adam. Agar aku tau kemana saja dia pergi. Jadi kita bisa memantaunya atau menggrebeknya sekalian," sahutku bersemangat.


"Oke, gimana kalau kita ke rumah Roman?" ajak Ayu padaku.


"Roman? Siapa dia?"


"Kau lupa? Roman kakak kelas kita waktu SMA. Yang pernah lima kali kau tolak mentah-mentah di depan seluruh siswa di lapangan sekolah."


"Hah? Kak Roman yang itu? Untuk apa kita ke rumahnya? Jangan bilang, kau mau menjodohkanku lagi dengannya?"

__ADS_1


"Hus, jangan suudzon pada sahabatmu yang cantik ini," ucap Ayu cepat.


"Lalu, untuk apa?" desakku padanya lagi.


"Dia itu ahli dalam bidang lacak melacak. Ahli informatika dan dalam dunia perhackeran. Jika kamu mau, ponsel suamimu juga bisa di sadap. Jadi kita bisa tau apa saja isi pesan dan pembicaraan telfonnya!" jelas Ayu.


"Oh, begitu. Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi? Kalau begitu ayo kita ke rumah kak Roman." ajakku dengan menarik tangan Ayu.


"Wah lihat ini, yang sudah tak sabar ingin bertemu mantan kekasih," ejeknya padaku.


"Aku bahkan tak sekalipun menerimanya, bagaimana dia bisa jadi mantan kekaihku?" balasku dengan bangga saat melihat Ayu sudah berdiri dari kursinya.


"Ya, kamu benar. Apa kamu akan pergi dengan pakaian seperti ini?" tanya Ayu heran melihatku hanya mengenakan kaus oblong dan jeans ketat semata kaki. Rambutku, kubiarkan tergerai karena masih basah setelah mandi tadi.


"Ya iyalah, memangnya aku harus berdandan dulu untuk ketemu sama pria lain?" jawabku sekenanya.


"Mungkin, karena itu kamu dicintai banyak pria. Sifat dan sikapmu yang sederhana itu, Beb. Pasti salah besar, jika Mas Adama benar-benar mengkhianati kamu kali ini." puji Ayu terlihat sungguh-sungguh.


"Tentu saja, aku menyingkarkan antrian panjang para pria yang ingin melamarku demi dirinya. Awas saja, jika benar dia berselingkuh. Akan kubuat dia menyesal sampai bersujud di kakiku ini!" ucapku sungguh-sungguh.


Setelah mengambil tas yang berisikan ponsel, atm, kartu kredit dan beberapa benda wajib bagi perempuan di dalamnya, aku menyusul Ayu yang sudah terlebih dahulu ke mobil. Aku masuk ke mobil Ayu dan kami berangkat.


Tak pernah terbayangkan olehku, bahwa aku akan mengalami hari yang seperti ini di dalam hidupku. Mencurigai lalu menyelidiki suamiku sendiri. Suami yang selalu kupandang tanpa celah dan dosa, suami yang kubangga-banggakan dan kupuja-puja karena kelembutan hatinya, sikapnya, dan tutur bahasanya.


Mungkin, benar kata pepatah. Air yang tenang, memiliki bahaya besar di dalamnya. Mungkin, kata-kata itu pantas kusematkan untuk Mas Adam. Pria yang tak banyak neko-neko, penurut dan tak pernah mengatakan tidak padaku. Namun sebenarnya, ada rahasia besar yang ia sembunyikan dari sikap baiknya selama ini. Aku yang dibutakan oleh cintanya, terlena. Dan lupa, bahwa Mas Adam tetaplah laki-laki biasa. Dia bukan Malaikat yang tanpa dosa dan nafsu.

__ADS_1


'Maaf, Mas. Demi ketenangan hatiku dan kebaikan kita bersama, aku harus menempuh jalan ini,' lirihku dalam hati.


__ADS_2