
(POV Aqila)
Aku menikmati hari-hariku seperti biasa di butik. Apalagi, saat ini ada Kayla yang selalu bersamaku mengurus bisnisku ini. Kayla memiliki jiwa marketing yang tinggi. Dia memasarkan juga isi butik ini di laman sosial medianya dan juga akun jual beli.
Semenjak itu, orderan di butik meningkat drastis. Sampai-sampai kini aku harus membagi karyawanku untuk bagian packing pesanan online dan yang untuk melayani pembeli langsung yang datang ke butik.
Tak lupa, aku membelikan Kayla sebuah kendaraan roda dua bermerek Vespa keluaran terbaru. Agar dia lebih mudah kemana-mana. Aku belum berani membelikannya mobil karena usianya masih 17, tahun ini. Biarlah nanti saat umur 18 tahun ia kubelikan kendaraan roda empat itu untuknya.
Ini sudah bulan ke 5 setelah perceraianku dengan Mas Adam. Aku berharap dia sudah insyaf di dalam penjara dan merenungi semua kejahatannya selama ini. Aku dengar, Astri menjadi ibu tunggal untuk anak semata wayangnya dengan Mas Adam itu. Tapi sayang sekali, mereka tak bisa mengasuh dan mengurus anak itu bersama-sama. Mereka berdua memang pantas mendapatkan balasan ini dari Tuhan.
Setelah apa yang mereka berdua lakukan padaku, Tuhan pasti tak akan membiarkan mereka hidup bahagia di atas penderitaan yang kualami. Aku bersyukur sekali sudah terlepas dari manusia-manusia licik itu. Kini, kehidupanku jauh lebih baik dan menyenangkan.
"Kak, tuh ada Kak Roman datang." ucap Kayla di tengah lamunanku. Mataku lantas menatap pada sosok tinggi tegap di ambang pintu masuk toko.
"Ya udah, kamu duduk di sini ya." jawabku pada Kayla, lalu beranjak dari kursi kasir yang kududuki dan berjalan menghampiri Roman.
"Hai, Rom. Kemana aja udah satu minggu nggak keliatan? Di grup juga nggak nongol-nongol." sapaku pada Roman dan langsung dibalas senyuman olehnya.
"Iya nih, aku lagi sibuk banget. Adikku akan menikah minggu depan. Dadakan aja karena calon suaminya akan segera berangkat ke Dubai 2 minggu lagi. Padahal rencana pernikahannya masih 2 bulan lagi." jawabnya dengan nada sedikit kesal.
"Ya udah sih, gitu aja kok kesal. Yuk, duduk dulu." aku menggiringnya duduk di sudut ruangan, di kursi yang khusus aku sediakan untuk para tamu duduk dan mengobrol.
__ADS_1
Roman menurut dan dengan langkah besar ia mengikutiku dan duduk di kursi yang sama denganku. Kami memang semakin dekat, tapi Roman sudah bisa menerima bahwa aku tak bisa memberikan perasaan cintaku padanya. Dan pria itu berbesar hati menerima keputusanku.
Meski duduk dengan jarak yang sangat dekat seperti ini, kami sama sekali tidak terlihat canggung. Karena aku, Roman dan Ayu memang sering duduk berdekatan dan bersenda gurau bersama-sama.
"Cerita deh, kok kamu kayak nggak senang gitu?" tanyaku lagi saat melihat Roman terlihat sangat bingung.
"Aku bukannya nggak senang, tapi aku bingung. Eh, Qil. Apa kamu bisa produksi 20 pasang pakaian seragam untuk resepsi adikku minggu depan?"
"20 pasang? Minggu depan? Yang benar aja kamu, Rom. Mana bisa lah. Mendadak banget gitu."
"Nah itu dia, makanya aku bingung."
"Gimana kalau kita bagi-bagi aja?" saranku yang tiba-tiba mendapatkan ide.
"Ya ampun, lola bangget sih kamu? Gini nih maksud aku. Kamu beli bahannya aja dulu yang sama kira-kira pas buat 20 orang. Nah nanti, minta ukuran baju masing-masing anggota keluarga kamu. Kemudian, kita antar deh ke tukang jahitnya. Nggak usah di satu tukang jahit aja. Tapi kita pencar jadi 4 tukang jahit. Karena ini seragam untuk resepsi adikmu, pasti kamu nggak mau kan dijahit asal jadi gitu. Makanya supaya hasilnya lebih maksimal, kita bagi jadi 4 tempat. Model untuk pakaian wanitanya jangan lupa diberitahu secara detail agar nanti semuanya sama meski dikerjain sama tukang jahit yang berbeda. Gimana?" jelasku panjang lebar kali lelah pada Roman.
Roman hanya manggut-manggut sambil terus menatapku dengan tak berkedip. Dasar Roman! Kelakuannya tak berubah juga sejak dulu. Jika awalnya aku akan merasa sungkan atau baper saat ditatap oleh Roman seperti itu, sekarang sudah lebih terbiasa dan rasanya juga biasa saja. Mungkin karena Roman juga sudah tak lagi memburu cintaku, jadi aku merasa lega dan tak perlu terlalu ambil hati dengan sikapnya itu.
"Hey, gimana? Kok malah nggak kedip gitu liatin aku? Kamu dengar nggak yang aku bilang barusan?" tanyaku dengan beberapa pertanyaan sekaligus.
"Iya, Bawel. Aku dengan kok yang kamu bilang. Kamu genius banget sih?" jawabnya dengan kembali bersandar pada sofa kekinian yang aku ganti pada dua bulan lalu.
__ADS_1
"Tapi, yang pakaian untuk pria bagaimana?" tanya Roman lagi.
"Minta ukurannya aja. Kira-kira kalau pake kemeja itu size nya apa. Kan tukang jahit pasti hapal tuh sama ukuran-ukuran size baju. Dan pakaian pria itu paling gampang lah, cuma kemeja aja kan soalnya."
"Benar juga kamu. Kok aku nggak kepikiran sampai situ ya tadi?"
"Pikiran kamu dangkal sih soalnya!" ledekku sambil tertawa.
Tiba-tiba tawaku terhenti seperti film dvd yang sedang di pause kan. Aku tak sengaja melirik ke arah pintu toko. Ada seorang pria yang berdiri diam di ambang pintu masuk sambil menatapku dengan dalam. Pria itu yang tanpa aku sadari sudah mulai mengisi sedikit demi sedikit ruang kosong di hatiku.
Dokter Yusuf. Sejak aku selesai pengobatan 2 bulan yang lalu, hubungan kami masih terus berlanjut. Yang tadinya hanya sebatas Dokter dan pasiennya, kini sudah masuk ke ranah pribadi. Meski tetap saja Dokter Yusuf lebih muda dariku, wajahku yang masih seperti anak kuliahan ini mampu menyeimbangi kharisma nya sebagai seorang Dokter.
Namun, terlepas dari semua itu, aku masih ragu untuk memberikan hatiku pada siapa pun. Termasuk pada Yusuf. Aku memang nyaman dan bahagia bersamanya, tapi untuk membuat komitmen dalam satu hubungan aku belum siap.
"Yusuf, sini masuk. Kok berdiri aja di pintu?" ucapku akhirnya dengan setengah berteriak pada pria itu.
Yusuf mendekat dan berdiri tepat di depanku. "Kayaknya lagi ngobrol asik. Aku udah datang dari tadi aja nggak ada yang tau." ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Haha... Biasa lah, bro. Aku lagi godain Aqila biar mau jadi istriku!" seloroh Roman lagi yang sengaja membuat Yusuf merasa cemburu.
"Wah, perjuangan banget ya. Masih gigih aja sampai sekarang. Terima dong, Qil. Kesian tuh Roman udah berjuang mati-matian buat dapetin cintamu!" balas Yusuf semakin membuatku yakin bahwa ia termakan api cemburu yang dinyalakan oleh Roman.
__ADS_1
Roman memang ada-ada aja. Suka sekali membuat pria berkacamata di depanku ini menjadi cemburu padanya. Karena Roman tau, Yusuf menaruh perasaan padaku. Sebagai sesama pria, tentu saja dia menyadari hal itu lebih dulu dari pada aku.