Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Mengelabui Mami


__ADS_3

(POV Adam)


Aku mendengar bahwa Mami Meri, yang tak lain adalah ibu kandung Aqila sudah kembali ke negara ini. Aku harus merahasiakan perceraianku dengan Aqila darinya. Jika tidak, Mami dan Leon akan sangat marah besar. Belum lagi Leon yang terkenal sangat kejam di balik sikap dingin dan lembutnya itu.


Aku tak mau mencari masalah dengan pria bule kekasih Mami mertuaku itu. Mungkin sekarang lebih tepatnya mantan mertuaku.


Pagi ini aku mendatangi apartemen Mami, tapi tidak ada jawaban setelah berkali-kali aku memencet belnya. Kemudian aku putuskan untuk menghubungi Mami saja. Mungkin, dia sedang keluar atau sedang di hotel bersama Leon.


Setelah menunggu beberapa saat, panggilan telepon dariku diangkat oleh Mami. "Morning, Mom. Apa kabarmu pagi ini? Apa benar Mami sudah pulang ke Indonesia?" tanyaku seramah dan sewajar mungkin seperti sikapku biasanya.


"Mami sedang tidak enak badan, Dam. Tapi Aqila sudah membawa Mami berobat semalam. Dan sekarang Mami tinggal bersamanya karena dia yang meminta agar bisa merawat Mami," jawab Mami dengan suara yang lemah, akan tetapi masih bisa kudengar dan mengerti.


"Mami di rumah Aqila?" tanyaku tak percaya.


"Iya, kenapa kamu seperti terkejut begitu? Apa Aqila belum mengabarimu tentang hal ini? Sorry, Dam. Mami tak bermaksud menjadi beban bagi kalian berdua." ucapnya tanpa kuduga.


"Tidak, Mi. Jangan berkata seperti itu. Mami tidak pernah menjadi beban bagi kami. Sebenarnya, aku dan Aqila beberapa hari ini sedang ada perang dingin. Biasalah, Mi. Aqila kan sangat posesif dan cemburuan. Tapi aku senang, itu tandanya dia masih sangat mencintaiku. Benar kan, Mi." tanyaku dengan sengaja, agar Mami berada di pihakku kali ini.


"Benar. Rumah tangga memang tak selalu berjalan mulus. Asal kalian bisa menyelesaikan masalah itu dengan hati yang tenang dan kepala dingin, jangan gegabah mengambil keputusan. Pertengkaran itu adalah hal biasa dan wajar."


"Iya, Mi. Aku juga tidak terlalu menaggapi serius kemarahan Aqila. Aku selalu mencoba mengalah sebisaku, agar Aqila senang."


"Terima kasih ya, Dam. Kamu sudah sabar menghadapi Aqila selama ini. Mami dan Leon sangat percaya padamu untuk menjaga Aqila dengan baik."


"Jangan bicara seperti itu, Mi. Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai suaminya."

__ADS_1


"Lalu, kamu tidak tidur di rumah?"


Pertanyaan Mami sempat membuatku bingung akan menjawab apa. Kemudian terbersit sebuah rencana dalam otakku agar bisa kembali masuk ke dalam rumah itu.


"Aku kemarin keluar kota, Mi. Lalu, saat pulang semua sistem keamanan rumah sudah diganti oleh Aqila. Jadi aku tidak bisa masuk. Semalam aku menginap di Hotel. Kupikir, Aqila masih marah dan enggan bertemu denganku saat ini." ucapku dengan alasan yang sengaja ku manipulasi agar Mami percaya padaku.


"Ya Tuhan. Kasihan sekali menantuku. Pulang lah, Mami akan membukakan pintu untukmu nanti. Aqila sudah pergi ke Butik. Tapi, Mami tidak tau jam berapa dia akan pulang kembali. Meski begitu, kamu tenang aja. Dia nggak akan marah kalau kamu udah kembali ke sini, karena Mami yang menyuruhmu pulang."


Tentu saja ucapan Mami membuatku semangat dan tersenyum cerah. Memang inilah yang aku harapkan. Ternyata gampang sekali mengelabui Mami.


"Baik, Mi. Aku pulang sekarang. Nanti jika sudah di depan gerbang, aku akan menelpon Mami." jawabku dengan semangat tinggi.


Setelah telepon itu kumatikan, aku segera bersiap untuk pergi ke rumah Aqila. Aku sudah lama mencari celah agar bisa masuk ke dalam rumah itu. Ingin sekali rasanya aku mengobrak abrik brankas di kamar utama kami dulu dan mengambil minimal satu saja surat berharga yang bisa kujadikan modal untuk bisnis setelah kubalik nama tentunya.


"Mas, sudah rapi pagi-pagi begini emang mau kemana?" tanya Astri yang muncul dari dapur saat aku sedang menyisir rambutku.


"Doakan proyek kali ini cair ya, Sayang. Mas mau bertemu klien dari London. Dia minta dijemput ke Bandara. Mas harus pergi sekarang." ucapku lagi-lagi berbohong pada Astri.


Entah sejak kapan, kebiasaan berbohong kini sudah melekat pada diriku. Mungkin sejak aku berbohong pada Aqila tentang pernikahanku dengan Astri dulu. Ternyata benar kata orang-orang. Sekali berbohong, akan menjadi kebiasaan dan sulit untuk meninggalkannya.


"Amin. Pasti aku doakan yang terbaik untuk pekerjaan kamu, Mas. Tapi jangan macam-macam ya di luar sana!"


"Iya, kamu tenang aja. Kan ada kamu sama calon anak kita yang menunggu Mas pulang, nggak mungkin lah Mas macam-macam di luaran sana,"


"Iya deh, aku percaya sama Mas. Jadi Mas nggak sarapan dulu nih? Tuh, mie gorengnya udah siap aku buatin,"

__ADS_1


"Nggak sempat, Sayang. Mas buru-buru. Kamu makan sendiri aja ya. Eh, berdua dong sama dedek bayi dalam perut."


Tampak raut kecewa di wajah Astri. Sejak hamil, aku memang sulit menebak dan memahami mood Astri yang selalu berubah-ubah bahkan bisa dalam hitungan menit saja.


Aku menbelai kepalanya dengan lembut, kemudian mengecup keningnya. Beralih ke perut buncintnya, aku juga mengelus dan mencium perut itu dengan lembut.


"Sayang, jaga Mami di rumah ya. Temani Mami sarapan, karena Papi ada kerjaan penting sekarang. Anak pinter, ngerti nih sama kerjaan Papi. Kan untuk kamu dan Mami juga uangnya," aku berkata pada perut yang membuncit itu. Mungkin terlihat konyol memang sikapku itu.


Tapi, aku berhasil membuat Astri menarik garis bibirnya lagi membentuk sebuah senyuman. Lega rasanya hatiku saat ini.


"Ya udah, Mas hati-hati, ya. Jangan malam-malam pulangnya. Kalau aku udah nelpon, berarti nggak ada lagi alasan. Mas harus segera pulang!" ucapnya penuh penekanan padaku.


Tidak punya pilihan lain, saat ini aku hanya bisa mempengaruhi pikiran mertuaku.


Jadi aku tak menghiraukan perjanjian semula dengan Aqila dan Astri. Aku tak bisa melupakan Aqila meski aku sudah berhasil mend*sah dengan nikmat di atas tubuh Astri atau di belakangnya akhir-akhir ini.


"Iya-iya. Mas jalan dulu. Jangan lupa kunci semua pintu dan jangan undang masuk siapa pun orang yang datang!" titahku tak kalah tegas dari ucapan Astri tadi.


Setelah selesai drama pagi ini, aku sengaja pergi menggunakan mobil yang sudah jarang kupakai akhir-akhir ini.


Saat aku sampai di gerbang, aku menelpon Mami dan pagar itu langsung terbuka lebar. Aku masuk dengan santai dan mencari keberadaan Mami.


Kemudian, aku melihat Mami di salah satu kamar lantai dasar.


"Akhirnya aku berada di rumah ini lagi," gumamku dengan hati bahagia.

__ADS_1


__ADS_2