
(POV Ayu)
"Tenang, Nak. Tenang. Kendalikan dirimu, dan lihat dia baik-baik. Bukan kah dia sahabatmu? Apa kamu lupa dia?" Mami Meri membujuk Aqila dan membelai kepalanya dengan lembut.
Aqila bersandar pada tubuh Mami nya. Terlihat raut ketakutan sangat jelas di wajahnya. Apa mungkin Aqila mengira bahwa Roman adalah orang yang mencelakainya? Atau gerak gerik Roman menyerupai peristiwa itu?
"Aqila, itu Roman. Kamu tau kan? Kamu ingat Roman kan, Qil? Dia yang selalu isengin kamu, gombalin kamu, juga yang selalu ada buat kamu. Ingat dia, Qil." aku pun ikut angkat suara.
"Kayla, cepat ambilkan Kakakmu air minum. Dia syok berat." titah Mami pada gadis muda itu.
"Baik, Mi." jawabnya patuh, lalu mulai bergerak mengambil segelas air putih di atas nakas itu.
Kemudian gadis bernama Kayla itu menyodorkan perlahan ke mulut Aqila. Dengan cepat, Aqila meminum segelas air putih itu hingga tandas. Dengan bahu yang terguncang naik turun, menandakan bahwa pernapasannya belum stabil, Aqila kemudian menunjuk ke arah Roman.
"Kamu beneran Roman kan? Kamu nggak akan celakain aku kan, Rom?" tanya Aqila dengan nada cemas yang nyata.
"Aqila... Kapan satu kali saja dalam hidupku, aku melukaimu? Mencelakaimu? Bahkan berniat pun aku nggak berani. Aku kan masih mau nunggu kamu cinta sama aku," jawab Roman tak lupa berkelakar.
Dan benar saja, kata-kata Roman berhasil membuat Aqila mengumbar seulas senyum di sudut bibirnya yang pucat. Aqila sudah melepaskan diri dari pelukan Mami.
"Lihat lah Mi, aku punya sahabat yang akan selalu peduli dan menjagaku dari ancaman pria gila itu. Mungkin dia memang pantas dipanggil gila. Karna sikapnya sudah tidak seperti orang normal lagi, Mi." ucap Aqila pada Mami Meri.
"Oh ya gaes, ini kenalin Adik aku satu-satunya. Baik, cantik, lembut, mandiri dan pekerja keras. Tipe idaman para pria banget, bukan?" terang Aqila lagi saat memperkenalkan adiknya pada kami.
"Hai, Kak. Hai, Kak. Aku Kayla, adik satu rahim dengan Kak Aqila. Hanya ayah kami saja yang berbeda." terang Kayla yang kelihatan sekali polosnya.
"Beb, kamu tolong urus segala keperluan Kayla untuk kembali ke bangku pendidikan." pinta Aqila padaku dengan tatapan penuh permohonan. Sikapnya kembali normal, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
__ADS_1
"Baik lah. Serahkan saja padaku. Aku selalu bisa diandalkan." jawabku bersikap senormal mungkin.
"Terima kasih, Beb. You are the best." jawabnya dengan mengacungkan kedua jempol tangannya padaku.
Tiba-tiba ponsel Roman berdering. Dia meminta izin untuk menjawabnya di luar. Aku mengangguk setuju. Aku memperhatikan Aqila yang terus menatap pada punggung Roman yang semakin menjauh lalu menghilang dibalik dinding.
Saat ini, tidak banyak yang bisa aku lakukan pada Aqila. Tidak mungkin aku bertanya tentang siapa yang datang dan mencelakainya itu. Bisa-bisa jiwanya kembali terguncang, otaknya bekerja keras mengingat siapa orang itu. Dan itu tandanya dia harus kembali membayangkan saat peristiwa itu terjadi. Itu sungguh tidak baik untuk mental Aqila.
Belum lagi, Aqila sepertinya belum bisa menerima bahwa untuk sementara kakinya belum bisa digunakan dengan normal seperti biasa. Tapi, Aqila nampak mampu menahan rasa terlukanya untuk satu hal.
"Kak, gimana kalau sekarang Kakak istirahat dulu? Aku dan Mami akan terus disini jagain Kakak. Jadi, Kakak nggak usah takut lagi ada yang akan datang." seru Kayla sambil memijat pelan kaki Aqila yang lemah.
"Kamu benar, Dek. Kakak memang sangat ngantuk saat ini. Apa nggak masalah kalau Kakak tidur dan istirahat sekarang?"
"Malah itu semua yang kami harapkan. Agar Kakak bisa segera pulih. Jadi, harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran. Biar aja semuanya kami yang mikirin. Oke?"
"Hmmm... Oke deh kalau gitu." jawabnya pasrah.
"Baiklah, Sayang. Tentu saja bisa. Apa Mami masih mau di sini? Atau Mami mau ikut makan siang bersamaku dan Roman di kantin bawah?" ajakku pada Mami Meri.
"Mami di sini aja, Nak. Mami nggak mau kecolongan lagi. Mami mau ada di dekat Aqila 24 jam meski hanya berjaga di depan pintunya." jawab Mami Meri yang langsung membuat hatiku terenyuh.
"Baiklah, jika ada apa-apa pada Aqila nantinya, Mami jangan sungkan untuk menghubungi kami. Lagi pula kami akan tetap berada di rumah sakit ini hingga besok pagi."
"Terima kasih, Nak. Ada saja orang yang benar-benar mencintai sahabatnya melebihi apa pun di dunia ini. Awalnya Mami hanya mengira semua itu cuma ada di cerita sinetron."
"Mami, tolong jangan percaya pada siapa pun yang datang berkedok teman Aqila selain kami. Oke?" ucapku mengingatkan dan langsung mendapat anggukan pasti dari Mami Meri.
__ADS_1
Kemudian Roman membuka pintu kamar perlahan, ia memanggilku keluar dengan gerakan dagu yang mengisyaratkan ada hal penting.
"Mami, aku permisi sebentar." pamitku dan segera berjalan keluar, menyusul Roman yang kelihatannya punya berita penting untuk diberitahukan padaku.
Aku sudah berdiri di samping Roman saat ini, tapi pria itu malah memegang pergelangan tanganku dan membawaku berjalan menjauh dari kamar Aqila. Getaran aneh itu terasa lagi. Aku tidak tau sejak kapan hal ini mulai terjadi pada diriku. Sepertinya tubuh dan hatiku merespon sikap dan perilaku Roman dengan maksud yang berbeda dari biasanya.
Apakah sebenarnya aku mulai menyukai pria ini? Pria yang tanpa sadar sudah mengisi hampir setiap hari-hariku dengan tingkah konyolnya. Sampai di sebuah lorong yang lumayan sepi, Roman menghentikan langkahnya. Aku yang masih terus melamun tentu saja tak memerhatikan hal itu dan terus berlanjut. Sampai akhirnya tubuhku menabrak tubuh Roman yang tanpa sadar sudah kupeluk tadi saat menangis.
"Jalan melamun aja, kayak yang lagi jatuh cinta aja kamu!" sindir Roman yang sudah kupastikan hanya asal bicara dan bercanda itu.
Tapi kenapa rasanya sangat mengena di hatiku. Apa mungkin benar, aku sudah jatuh cinta padanya? Pikiranku melayang dan kembali sadar saat jari Roman menyentil keningku sedikit kuat.
"Awww.... Sakit tau!" protesku sambil mengusap dahiku pelan.
"Makanya kalau aku ngomong tu di 1dengerin, jangan malah melamun!" ucapnya dengan wajah serius.
"Iya-iya... Sorry deh. Btw, ngapain kamu bawa aku ke tempat sepi gini? Ingat, ini rumah sakit lho..." candaku pada Roman yang berdiri hanya beberapa centi di depanku. Sebenarnya aku sendiri merasa kikuk dan tak nyaman dengan posisi ini, tapi aku mencoba untuk bersikap sewajar mungkin.
"Jangan mancing-mancing deh, ntar aku khilaf nih!" jawabnya serius dan menatapku lekat.
Kini aku benar-benar mati kutu oleh sikap pria satu ini. Entah bagaimana wajahku saat ini, aku sendiri tidak tau. Yang pasti, kualihkan pandangan dan mendorongnya agar sedikit menjauh.
"Jangan bercanda ah. Buruan bilang ada apa?" tanyaku mengembalikan pembicaraan ke topik yang seharusnya.
"Tim penyidik sudah menemukan beberapa bukti tentang identitas pelaku, dan itu mengarah pada Adam!" tegas Roman dengan suara dan sikap tegas. Berbeda sekali dengan dirinya beberapa detik yang lalu.
"Aku sudah menduganya. Pria itu memang terlihat tidak bisa tenang sebelum menghancurkan hidup Aqila. Padahal, dia yang sudah berkhianat. Tapi saat ditinggalkan Aqila, kenapa dia malah bertingkah gila seperti ini?"
__ADS_1
"Sebagian pria akan bertindak extrem saat menyangkut harga dirinya. Jadi, tidak heran lagi kenapa Adam bisa senekat itu. Bisa saja karena ia merasa sangat terhina karena digugat cerai oleh Aqila. Terlebih lagi setelah semua orang tau ternyata selama ini dia hanya parasit yang menempel pada Aqila."
"Kamu benar, Rom. Adam harus dipenjara, baru Aqila bisa hidup tenang!" ucapku penuh kemarahan mengingat bagaimana bertolak belakangnya sikap dan sifat Adam yang sekarang dengan yang dulu saat masih menjadi suami perfect bagi Aqila.