Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Saingan Baru


__ADS_3

(POV Dokter Yusuf)


Aku sudah bersiap-siap hendak pergi ke butik Aqila. Ya, Aqila yang notabenenya adalah mantan pasienku beberapa waktu lalu. Sejak awal bertemu dengannya 5 bulan yang lalu, aku merasakan getaran berbeda dalam hatiku.


Namun, karena saat itu dia adalah pasienku, maka aku berusaha bekerja dengan profesional.


Aku membantunya untuk perlahan bangkit dari keterpurukannya. Depresi pasca teror dan percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh mantan suaminya begitu membekas di hati dan pikirannya.


Wanita yang usianya lebih tua dariku itu, masih memiliki wajah yang khas anak ABG. Tentu itu semua karena dia rajin merawat wajah dan penampilannya. Rugi sekali pria yang berstatus mantan suaminya itu. Telah menyia-nyikan wanita secantik bidadari ini.


Klinik memang libur hari ini, karena satu kali dalam seminggu aku mengambil waktu untuk istirahat. Aku mengambil hari senin sebagai hari liburku. Kenapa? Tentu saja karena aku kasihan pada calon pasien yang selalu punya kendala untuk datang di jam kerja. Sebab itu aku tetap bekerja pada sabtu minggu agar pasien dan calon pasienku bisa memiliki banyak waktu untuk berkonsultasi dengan santai.


Sejak Aqila menyelesaikan konsultasi dan terapinya 2 bulan yang lalu, aku mulai mendekatinya secara pribadi. Itu tidak terlalu susah, karena selama konseling pun kami selalu bicara dengan santai dari hati ke hati. Meski begitu, tentu saja aku tak ingin gegabah dengan terlalu cepat mengatakan perasaanku padanya.


Akan kubiarkan lukanya sembuh total, tapi aku akan terus mencari celah agar bisa sedikit demi sedikut mengisi ruang hatinya yang kini pasti sudah kosong tak berpenghuni. Gegas aku melajukan kendaraan roda empatku menuju butiknya.


"Aku akan berusaha keras meluluhkan hatimu, Qil." gumamku saat turun dari mobil yang sudah terparkir cantik di depan butik Aqila.


Tak lupa kurapikan pakaian dan kacamata yang bertengger di hidungku. Aku tak ingin ada nilai minus dari Aqila untuk diriku. Aku memang 3 tahun lebih muda darinya, tapi aku bisa pastikan bahwa jalan pikiranku tak kalah dewasa dari usianya.


"Minta ukurannya aja. Kira-kira kalau pakai kemeja itu size nya apa. Kan tukang jahit pasti hapal tuh sama ukuran-ukuran size baju. Dan pakaian pria itu paling gampang lah, cuma kemeja aja kan soalnya."


"Benar juga kamu. Kok aku nggak kepikiran sampai situ ya tadi?"


"Pikiran kamu dangkal sih soalnya!"

__ADS_1


Dari pintu tempat kini aku berdiri, terdengar percakapan hangat dan akrab antara Aqila dan Roman. Meski aku sudah tau bahwa mereka bersahabat, tapi hatiku tak bisa untuk menyimpan rasa cemburu pada pria itu.


Dalam sesi terapinya duku, Aqila juga pernah menyebut-nyebutkan nama Roman. Dari cerita Aqila aku tau bahwa Roman salah seorang sahabat yang sangat berjasa dalam masa-masa sulitnya. Mulai dari saat Aqila mencari bukti perselingkuhan suaminya, sampai menjaga Aqila demgan baik dalam segala hal agar mantan suaminya itu tidak bisa menggangunya lagi.


Namun terlepas dari semua yang telah Roman lakukan untuk Aqila, ada satu fakta yang tak bisa aku sangkal. Roman menaruh hati pula pada Aqila. Sudah sejak lama, kabarnya. Bahkan sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah.


Aku seorang pria, tentu aku tau apa yang dipikirkan oleh Roman setiap kali bertemu Aqila. Bagaiman cara dia memandang dan mengkhawatirkan Aqila saat dia beberapa kali menemani Aqila ke klinikku dulu.


"Yusuf, sini masuk. Kok berdiri aja di pintu?" suara panggilan dari Aqila memgejutkan lamunanku.


Aku mendekat dan berdiri tepat di depan Aqila. "Kayaknya lagi ngobrol asik. Aku udah datang dari tadi aja nggak ada yang tau." ucapku dengn senyum yang dipaksakan.


"Haha... Biasa lah, bro. Aku lagi godain Aqila biar mau jadi istriku!" seloroh Roman lagi yang sengaja membuat aku merasa semakin cemburu.


"Wah, perjuangan banget ya. Masih gigih aja sampai sekarang. Terima dong Qil. Kesian tuh Roman udah berjuang mati-matian buat dapetin cintamu!" balasku, lalu mengambil duduk di sisi yang lain di sebelah Aqila.


"Bentar ya, aku pesanin minum dulu di caffe depan." ucapnya sambil mengangkat gagang telpon di atas meja kasir.


"Cie... Yang diapelin dua pangeran sekaligus. Boleh dong bagi buat aku yang dokternya!" suara candaan Kayla, adik Aqila masih dapat kudengar meski ia berniat berbisik dengan sang Kakak.


"Apaan sih!" jawab Aqila dengn pipi yang merona. Aku tak hentinya menatap pada wajah wanita yang sudah mengisi separuh hatiku itu.


"Jangan kelamaan mandangnya, bro. Ntar naksir lo!" tegur Roman dengan sengaja.


"Sudah kok. Tanpa perlu memandangnya terlalu lama, aku udah suka sama dia." balasku dengan ketus.

__ADS_1


Mungkin bagi Aqila dan sahabatnya Nia, Roman adalah sahabat yang asik dan humoris. Sangat menyenangkan dan tentu saja bisa diandalkan. Tapi bagiku pribadi, dia seorang pria yang resek. Sengaja sekali ia memancing kecemburuanku.


"Wah, nambah nih sainganku. Aku aja yang udah lama kenal dia, belum bisa buat dapetin hatinya. Apalagi kamu yang masih baru."


"Cinta itu bukan tergantung berapa lama kamu mengenal dan bersamanya, Rom. Kamu tau kan istilah jodoh ditangan Tuhan? Banyak pasangan yang baru sebulan dua bulan kenal, udah yakin untuk berumah tangga. Sementara, bisa jadi sebelumnya dia sudah pernah menjalin hubungan selama bartahun-tahun dengn orang lain. Itu yang namanya 'jodoh tak akan tertukar, meski sekian lama dijaga orang lain'."


Mendengar ucapanku itu, Roman terdiam. Aku memang sudah mengenal Roman cukup lama. Dan aku juga tau, aku bertemu Aqila memang atas camputlr tangannya yang merekomendasikan aku pada Aqila. Roman cukup lama terdiam dan termenung mungkin dia sedang memikirkan tentang kebenaran ucapanku tadi.


"Sorry ya lama. Tadi aku ke toilet juga." ucap Aqila dan mengambil duduk di kursi lain di seberang aku dan Roman.


"Iya, santai aja. Btw, aku juga nggak bisa lama-lama nih. Ada janji juha paling 15 menitan lagi aku otw ya." ucap Roman pada Aqila dan aku hanya menatap Aqila dengan tatapan sendu.


"Kok cepat sih? Aku baru aja pesan kopi sama cemilan. Bentar lagi diantar sama karyawan caffe depan tuh." jawab Aqila manyun.


"Iya aku tunggu kok. Aku juga nggk mau lah jatah kopiki di embat Dokter hebat ini. Bisa rugi banyak aku." balas Roman degan gelak tawa yang berderai dan sengaja menyemggol lenanku


.


"Rugi banyak? Apa maksudnya?" tanya Aqila dengan polosnya.


"Ehem. itu, nggak usah di dengerin lah si Roman. asal ngomong aja dia pasti." aku menyela sebelum Roman menjawab pertanyaan Aqila dengan kata-kata yang semakin terdengar seperti ingin mengekspos perasaanku pada Aqila.


"Oh, iya sih. Roman nih kalau ngomong suka asal."


"Kan, gitu... Mentang-mentang Dokter kesayangannya dateng, aku dikata-katain nih. Biasanya juga aku dipiji-puji." protes Roman dengan nada yang dibuat seolah tak suka dengan sikp Aqila.

__ADS_1


"Eh, kamu tu ya, kalau kamu baik ya aku puji kamu baik. Kalau kamu yang emang suka iseng dan nogomong ngasal dan kadang bikin aku kesal, ya kali aku puji juga."


"Nah itu benar. Kita lebih baik berkata apa adanya di depan tanpa harus ada yang ditutup-tutupi. Jangan ramah di depan, eh nyindir-nyindir di belakang!" aku menatap Roman dengan sengit setelah mengatakan hal itu.


__ADS_2