Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Siapa Leon


__ADS_3

"Maafkan kecerobohan Mami, Sayang. Mami buta karena keramahan dan kelembutannya. Mami tertipu oleh sikap baiknya yang ternyata adalah kepalsuan," lirih Mami dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.


"Nggak masalah, Mi. Mami nggak usah mikirin hal itu lagi. Sekarang Mami istirahat aja, ya. Nanti saat Mami benar-benar pulih, kita bicara lagi." titahku sambil membaringkan tubuh Mami di ranjang. Menyelimutinya dengan lembut.


Kemudian aku menciun kening Mami lembut, meski sempat ragu sebelumnya. Mami melanjutkan tidurnya yang tertunda karena pertengkaran dengan Mas Adam tadi. Aku pun segera keluar dari kamar Mami dengan langkah pelan.


Duduk di kursi ruang tengah dengan menarik nafas panjang dan mengembuskannya kasar. Sungguh, keadaan yang sangat menguras emosi dan tenaga.


Dari sekian banyak percakapan kami tadi, aku penasaran dengan ancaman Mami pada Mas Adam. Mami mengancam Mas Adam dengan seorang pria bernama Leon.


Tapi, siapa dia sebenarnya? Kenapa Mas Adam tampak sangat takut saat Mami mengatakan bahwa Leon akan mengurus segalanya? Sehebat apa Leon itu sebenarnya? Atau, apa yang telah dia berikan pada Mas Adam hingga bajingan itu sangat takut mendengar namanya.


Aku akan cari tau tentang Leon itu nanti. Bukankah aku memiliki dua orang sahabat yang sangat baik dan peduli padaku. Ya, tentu saja dia adalah Ayu dan Roman.


Ada baiknya aku menghubungi Ayu. Agar stressku ini sedikit berkurang. Aku benar-benar kewalahan menghadapi sikap Mas Adam tadi.


Setelah berbunyi beberapa kali, panggilanku dijawab oleh Ayu. "Hai, Beb. Apa kabar kamu? Rindu ya sama aku yang cantik, imut dan ngangenin ini pastinya," sapa Ayu dengan sangat narsis.


"Hai, Beb. Iya, aku kangen banget tau sama kamu." jawabku dengan sedikit tawa yang lepas dan ringan.


"Sama aku nggak kangen nih?" terdengar suara Roman bersorak dari belakang.


"Eh, kamu lagi sama Roman?" tanyaku kaget.


"Iya, nih. Kebetulan kita lagi ngurus satu kasus yang sama. Jadi lagi kerja bareng deh,"

__ADS_1


"Oh, gitu. Kompak selalu deh buat kalian ya. Sering-sering aja kalian bareng. Biar lama-lama tumbuh cinta. Jadinya kan cinta lokasi," candaku dengan menggoda Ayu.


"Aqila... Kamu yakin nggak akan nangis bombay kalau aku sama Roman nantinya? Belum tentu lho ada pria sebaik dan setulus dia mencintai kamu lagi,"


"Jika memang nggak ada lagi, ya udah aku sendiri aja. Jalani hidup bersama Mamiku. Eh, btw sekarang aku tinggal bareng Mami," terangku pada Ayu. Sepertinya aku merasa perlu memberitahu pada Ayu hal penting ini.


"Kamu pindah ke apartemen Tante Meri? Emang si brengsek itu masih ganggu dan neror kamu lagi?" tanya Ayu cemas.


"Sini... Kasih ke aku dulu. Aku mau ngomong," terdengar suara Roman seperti meminta ponsel Ayu.


"Hai, Qil. Sorry aku nyela pembicaraan kamu sama Ayu. Apa benar kamu pindah ke apartemen Mamimu? Kenapa?" tanya Roman beruntun, tak kalah cemas dari Ayu.


Inilah yang aku salutkan pada mereka berdua. Mereka selalu menjadi garda terdepan saat aku sedang dalam masalah. Mereka benar-benar ada dan peduli padaku tanpa pamrih.


"Bukan. Aku nggak kemana-mana kok. Aku masih tetap tinggal di rumahku. Cuma, aku mengajak Mami tinggal di sini bersamaku mulai sekarang. Aku pikir, sudah saatnya melupakan masa lalu dan coba memaafkan semua kekhilafan Mami dulu. Dan lagi pula, saat ini hanya Mami yang aku punya." jelasku pada Roman dengan perasaan yang haru.


Ia hanya mencoba menggoda dan menghiburku. Begitulah Roman. Meski berkali-kaki aku menolaknya, dan menyakiti hatinya dengan mengatakan bahwa aku tak akan pernah bisa mencintainya, dia masih tetap sangat peduli dan tulus padaku.


"Kalian segalanya bagiku. Tentu saja, hanya kalian sahabat yang aku punya. Aku tak butuh apa-apa lagi jika sudah memiliki kalian." jawabku dengan tulus pada Roman.


"Ya, aku mengerti. Sepertinya mulai sekarang aku harus mulai menakar atau mengurangi kadar keinginanku untuk menjadi suamimu. Karena kelihatannya, aku benar-benar tidak punya kesempatan untuk itu." ucap Roman lagi dengan tawa nyaring.


Hingga kudengar, seseorang memukul tubuhnya. Lalu membekap mulutnya agar tidak tertawa terlalu nyaring seperti itu. Siapa lagi kalau bukan Ayu yang melakukannya. Mungkin saat ini mereka sedang berada dalam ruangan yang banyak karyawannya.


"Sorry, Rom. Kamu akan tetap jadi sahabat terbaikku. Dan aku doakan, semoga kamu dan Ayu berjodoh ya. Aku perhatikan, sebenarnya kalian sangat cocok."

__ADS_1


"Eh, apa-apaan kamu. Jangan ngada-ngada deh. Roman bukan tipeku. Aku suka pria perawakan seperti bule-bule gitu." bantah Ayu setelah berhasil merebut kembali ponselnya dari tangan Roman.


"Jangan ngomong gitu kamu, Beb. Nanti kemakan omongan lho. Mau?"


"Iiihhh... Apaan sih? Kan kamu tau, aku sukanya bule. Nggak suka pria lokal."


Mendadak aku teringat pada Leon saat Ayu beberapa kali menyebut bule. Aku penasaran siapa sebenarnya Leon ini. Dan kenapa Mas Adam tak berkutik saat Mami mengancamnya dengan nama Leon. Ada hubungan apa antara Leon, Mami, dan Mas Adam sebenarnya.


Sesaat aku ragu untuk meminta bantuan Ayu dan Roman. Tapi rasa penasaranku ini tak dapat lagi aku sembunyikan dan pendam.


"Beb, aku mau minta tolong padamu dan Roman,"


"Okey, bilang aja. Asal ada bayarannya, kami siap bekerja dengan sepenuh hati dan semaksimal mungkin memberi hasil terbaik." goda Ayu padaku.


Aku tertawa ringan mendengar kata-kata itu. Sejak kapan dia mau menerima bayaran dariku? Paling-paling Ayu hanya akan menerima traktiran dariku saja.


"Aku ingin kamu dan Roman cari tau tentang pria bule bernama Leon!" tegasku pada Ayu dengan nada serius.


"Leon? Siapa? Apa kamu mulai menyukai bule juga?" tanya Ayu penasaran.


"Bukan. Dia pacar Mami dan sepertinya hubungan mereka sangat serius. Tapi, Mas Adam sepertinya takut pada Leon!" jawabku lagi.


Kemudian dengan ringkas aku menceritakan kejadian tadi pada Ayu dan Roman. Mereka beberapa kali terdengar melontarkan kata-kata umpatan karena geram pada Mas Adam.


"Kamu tenang aja. Kami akan mencari tau semuanya dengan detail. Dan aku juga akan memberikan pelajaran pada Adam!" tukas Roman geram.

__ADS_1


"Baik. Terima kasih. Aku tutup dulu yah Mami memanggil." ucapku dan langsung memutus panggilan telepon itu.


Aku berharap, Leon bukanlah mafia atau pun gangster mengerikan seperti di novel-novel romance itu.


__ADS_2