
(POV Aqila)
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian Mas Adam datang ke rumahku dan membuat kekacauan. Mami sudah sembuh total dan masih tinggal bersamaku. Aku juga sudah mengetahui siapa Leon sebenarnya. Leon adalah orang nomor satu di negaranya. Tidak tanggung-tanggung, dia disegani dan ditakuti gangster dan mafia dari seluruh belahan dunia.
Ternyata sehebat itu seorang Leon yang sekarang menjalin kasih dengan Mami. Pantas saja nyali Mas Adam langsung menciut saat Mami mengancamnya. Mana berani dia dengan orang sehebat dan sekuat Leon.
Tapi, aku masih mencari tau bagaimana Mami bisa sampai mengenal Leon. Leon jelas lebih muda dari Mami dan terlihat masih single. Dimana awalnya Mami mengenal Leon. Karena, jujur saja aku sangat takut jika Mami terbawa dan terjerumus dunia hitam yang selama ini digeluti Leon.
Meski dia tak langsung turun tangan, tetap saja semua terjadi atas perintahnya. Secara tidak langsung, Leon adalah bosnya.
Pagi ini Mami ikut bersamaku ke butik. Kami sengaja berangkat agak siang, karena sejak beberapa hari lalu aku sudah memberikan Risna kunci cadangan untuk membuka dan menutup butik.
Tidak ada salahnya kembali percaya pada orang lain. Hanya karena satu orang mengkhianatiku, bukan berarti aku menganggap sama pada semua orang yang mungkin saja benar-benar tulus padaku.
Kami mampir di sebuah resto untuk sarapan pagi. Aku menyukai bubur di resto ini karena benar-benar memakai bahan yang murni tanpa pemanis buatan dan pengawet. Bubur di resto ini yang seminggu lalu aku pesan dan diantar oleh seorang kurir perempuan yang terlihat masih sangat muda.
"Mi, pesan aja yang Mami suka. Aku mau kesana dulu, ya." ucapku pada Mami sambil menunjuk kemeja resepsionis.
"Oke, Sayang. Jangan lama-lama, ya." jawab Mami dengan senyum mengembang.
Aku mengangguk dan membalas senyuman Mami. Kemudian berjalan ke arah pelayan wanita yang ramah menyapaku di meja resepsionis.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita berseragam ungu putih itu dengan hormat.
"Iya, Mba. Saya mau nanya, apa di sini ada kurir yang masih gadis belia? Sekitar umur 15 sampai 17 tahunan gitu!" aku yang memang penasaran tentang gadis itu tak bisa untuk tak bertanya.
__ADS_1
"Hmmm... Namanya siapa, Bu? Karena ada dua orang kurir yang ciri-cirinya seperti ibu sebutkan barusan."
"Aku tidak tau namanya. Tapi, seminggu yang lalu dia mengantarkan orderan ke butikku," terangku pada karyawan wanita itu.
"Boleh saya tau nama butik dan alamatnya, Bu? Saya akan mengecek transaksinya dulu, baru kita akan tau siapa kurir yang bertanggung jawab mengantarkan pesanan kesana."
"Nama butiknya Aqila Boutique di jalan Melati nomor 52," jelasku padanya.
"Sebentar ya, Bu. Akan saya cek terlebih dahulu."
"Baik, Mba."
Aku duduk di kursi tinggi yang memang di sediakan di sana. Mataku menyapu seluruh sudut ruangan. Melihat jika saja gadis itu ada di Resto ini sekarang. Maksudku mencari gadis itu, tentu saja bukan karena ingin menagih sisa uang kembalian yang katanya mau diantar lagi seminggu lalu itu. Tapi, aku ingin mengenalnya lebih jauh. Kenapa aku seperti tak asing pada gadis itu. Dan aku melihat bahwa banyak beban yang ditanggungnya.
Jika tidak, mana mungkin gadis seusia dia menjadi kurir pengantar makanan. Aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat. Hatiku terasa lebih dekat dengannya. Meski tak bisa dengan jelas melihat wajahnya saat itu.
"Ini, Bu. Semua detail informasinya. Silahkan di cek dan beritahu kami jika ada keluhan atau semacamnya," ucapnya dengan ramah.
"Baik. Terima kasih, Mba." jawabku dengan seulas senyum.
Aku segera kembali ke meja tempat Mami menungguku. Tampak Mami sedang berselancar di media sosialnya. Ponsel Mami yang super canggih, yang aku yakin harganya tak kurang dari 150 juta rupiah itu, tampak sangat menggoda imanku. Bukannya aku tak sanggup membelinya, tapi aku hanya tidak terlalu suka mengikuti trend dengan berganti-ganti ponsel. Apalagi jika ponsel itu memiliki harga yang fantastis.
"Hai, Sayang. Sudah selesai urusannya?" tanya Mami saat melihatku kembali duduk di kursi yang tadi aku tempati.
"Sudah, Mi. Pesanannya udah datang dari tadi ya?" aku balik bertanya saat melihat menu-menu lezat itu sudah tersaji rapi di atas meja.
__ADS_1
Aroma bubur dan beberapa puding sangat menggugah selera. Membuat perut yang tadinya tidak terlalu lapar, menjadi sangat keroncongan seperti belum di isi seharian.
"Baru aja kok. Yuk, kita makan dulu buburnya. Mumpung masih hangat. Nanti abis makan kita lanjut ngobrol atau kemana kamu mau ajakin Mami lah pokoknya."
"Iya, Mi. Buburnya enak banget nih recomended." ucapku sambil mengambil semangkuk bubur bagianku dan mulai menyendokkannya ke mulut.
Kami sarapan dalam diam. Sengaja, agar sarapan terasa lebih nikmat dan memang makan saat berbicara itu tidak dianjurkan. Setelah selesai, melahap semangkuk bubur, kami mulai mencicipi satu cup puding buah yang menyegarkan.
"Qil, apa yang kamu baca?" tanya Mami saat melihatku tengah asik membaca selembar kertas yang diberikan oleh karyawan resto tadi.
"Oh, ini ya Mi. Ini cuma catatan orderanku minggu lalu. Aku ingin tau siapa kurir yang mengantar bubur itu ke butik. Karena, aku merasa gadis muda itu terlihat takut saat berbicara denganku," jawabku blak-blakan.
"Ada-ada saja kamu, Qil." ujar Mami sambil tertawa.
Memang terdengar konyol. Tapi entah mengapa aku sangat penasaran dengan gadis itu. Meski seminggu ini aku sibuk mengurus ini dan itu, tapi pikiranku pun tak bisa lepas dari gadis pengantar makanan itu.
Siapa sebenarnya dia? Apa aku pernah bertemu dengannya? Kenapa aku sangat ingin bertemu dan dekat dengannya. Seperti sosok adik yang sangat aku dambakan selama ini. Mengingat aku adalah anak tunggal, tentu aku pernah berharap memiliki seorang adik atau kakak. Itu pula lah sebabnya aku menyayangi Astri dengan tulus dan sepenuh hati selama ini.
Tapi ternyata, semua kebaikanku di salah gunakan olehnya. Sakit memang rasanya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat, semua sudah terjadi dan tak mungkin bisa aku perbaiki lagi.
Aku membaca detail data diri gadis pengantar makanan itu. Ada yang sedikit menggelitik relung hatiku. Kayla Khazanah, nama gadis itu. Kenapa nama belakangnya, sama dengan namaku?
Itu hanya kebetulan atau bagaimana? Apa mungkin sebenarnya aku memang memiliki seorang adik. Kupandang wajah Mami yang tak banyak berbeda denganku. Mami masih terlihat cantik dan awet muda.
Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan dalam otakku. "Mi, apa aku punya adik perempuan?"
__ADS_1
Puuufffttt... Uhuk... Uhuk...
Seketika Mami menyemburkan minuman hangat yang sedang di seruputnya dan terbatuk-batuk. Mami menjadi salah tingkah.