
(POV Astri)
"Katakan, dimana saudara Adam berada?" tanya polisi itu padaku.
"Aku benar-benar tidak tau, Pak. Setelah menemaniku melahirkan dan melihat anaknya sebentar, dia memgatakan akan ke ATM mengambil uang untuk biaya administrasi. Tapi sampai sekarang dia tidak juga muncul." jawabku sejujurnya dan apa adanya.
"Baik, jika dia datang lagi, tolong kooperatif dengan segera menghubungi kami. Jangan sampai ada yang membuatnya curiga. Karena kami tidak akan meletakkan penjaga atau polisi di sekitar sini." terang polisi itu lagi padaku.
"Baik, Pak." aku kembali menjawab dengan tergagap.
Polisi itu segera pergi dari ruanganku. Aku menangis sambil menatap bayiku yang sedang tertidur nyenyak di dalam box bayinya.
Aku merasa syok karena Mas Adam sedang dalam pencarian polisi. Kondisiku pasca melahirkan masih sangat lemah dan masih butuh suport. Tapi, polisi itu datang membawa berita besar.
Percobaan pembunuhan pada Kak Aqila? Apa benar Mas Adam sanggup melakukan hal itu pada mantan istrinya itu? Yang aku tau, Mas Adam masih sangat mencintai Kak Aqila, bahkan sampai detik ini pun tak berubah.
Apa dia menyesal telah mempertahankan pernikahan siri denganku dan menyebabkan pernikahannya dengan Kak Aqila berakhir? Apa dia sebegitu terpukul dan terlukanya karena gugatan cerai dari Kak Aqila?
Tidak. Aku yakin bukan karena itu hal utamanya. Pasti itu karena sikap Kak Aqila yang telah merendahkan dan meremehkan kemampuan financial nya selama ini. Kak Aqila memang keterlaluan pada Mas Adam. Dia bahkan tidak memberikan aset apa pun pada suamiku sebagai harta gono gini.
'Rasain kamu, Kak. Sekarang kamu tau kan gimana jadinya kalau orang yang selama ini diam sekali mengambil sikap? Makanya jangan main-main sama Mas Adam. Aku rasa kamu memang pantas dilenyapkan bersama kesombonganmu itu,' bisikku dalam hati sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana ini? Papi mu tidak datang juga sampai saat ini. Jika dia tidak melunasi pembayarannya, bagaimana kita bisa pulang ke rumah? Mami nggak mau di sini lama-lana." ujarku pada sosok bayi mungil yang tengah tertidur lelap dalam bungkusan kain bedung.
"Sabar ya, Nak. Mami akan meminta pertolongan pada Om Aris." lanjutku lagi pada bayi yang sudah jelas tidak akan merespon atau menjawab kata-kataku itu.
Aku mengambil ponsel yang kusimpan di bawah bantal kepalaku. Mencari nama Aris dalam daftar kontak. Aku memang menyimpan nomor teleponnya, karena dulu dia pernah membantuku saat aku kesulitan menghubungi Mas Adam.
Selama ini dia sangat baik padaku. Jadi, jika aku meminta bantuan padanya kali ini, pasti dia tidak akan keberatan. Tanpa ragu lagi, aku menelepon nomor itu.
Beberapa kali berdering tapi tidak dijawab. Aku sempat putus asa. Karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa kuandalkan saat ini. Andai saja Suamiku bukan Mas Adam, dan terjadi hal seperti ini, pasti dengan senang hati Kak Aqila akan membantuku.
Ah, sudah lah. Apa lagi yang harus kusesali. Baik atau buruknya, semua toh sudah terjadi. Saat aku akan meletakkan kembali ponselku, panggilan masuk dari Aris muncul di layar ponsel.
"Halo, Pak Aris..." sapaku saat panggilan itu berhasil terhubung.
Benar kan yang aku katakan, dia orang baik. Aku punya harapan sekarang. Aku tau Mas Adam tak mungkin kembali ke rumah sakit ini karena kejahatan yang dia lakukan pada Kak Aqila yang ternyata juga ada di rumah sakit ini.
"Iya... Nggak apa-apa, Pak. Begini Pak, saya mau... Mau minta tolong sama Bapak."
"Minta tolong apa, Astri?" tanya pria itu dengan lembut.
"Begini Pak, saya baru saja melahirkan. Dan sekarang masih ada di rumah sakit. Sementara, Mas Adam tidak tau entah kemana." ucapku dengan sedikit berbohong agar bisa menarik simpatinya.
__ADS_1
"Apa? Kamu melahirkan dan Adam tidak ada di sana? Keterlaluan sekali anak itu. Padahal dia sudah lama menantikan kehadiran seorang anak."
"Iya, Pak. Saya juga tidak tau sekarang dia dimana. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Sementara saya akan keluar besok dari rumah sakit ini. Tapi saya sama sekali tidak punya uang untuk membayar administrasinya. Apa boleh saya meminjam uang Pak Aris? Saya janji, pasti akan saya ganti. Nanti saat Mas Adam kembali atau saat saya mendapatkan pekerjaan, saya akan mengganti secepatnya." aku langsung saja ke inti permasalahan agar tak terkesan bertele-tele.
"Berapa total biaya seluruhnya?" tanya Pak Aris langsung membuatku terkesiap.
"15 juta rupiah, Pak. Karena saya melahirkan dengan jalan operasi." jawabku dengan sedikit berbohong.
"Baik, saya akan segera mentransfernya. Kirim saja nomor rekeningmu." balasnya lagi dengan tegas.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak."
Setelah panggilan terputus, aku segera mengirimkan nomor rekeningku melalui WA. Tak lama kemudian, sudah ceklis biru.
Belum 5 menit, Pak Aris mengirimkan resi transfer dari mobile banking miliknya. Dan tertulis status berhasil di sana. Transfer 15 juta rupiah ke rekening milikku. Aku segera mengecek mobile banking ku pula. Yap benar, dalam tabunganku saat ini menjadi 25 juta. Karena sebelumnya aku memiliki tabungan 10 juta untuk berjaga-jaga.
Sebenarnya, biaya persalinan ini hanya 10 juta. Tapi aku tidak mungkin meminta pas-pas an. Karena setelah keluar dari rumah sakit ini aku juga akan memiliki banyak keperluan untuk mengurus bayiku. Aku perlu banyak biaya.
Mas Adam sudah jelas tak bisa diharapkan lagi. Dia saja sedang dalam pengejaran polisi saat ini. Apa ini hukuman bagiku karena sudah menikah dengan pria yang jelas-jelas sudah memiliki istri?
Hidupku semakin apes dan berantakan sejak menjadi istri siri Mas Adam. Lebih tepatnya aku seperti simpanan saat itu. Karena harus bersembunyi dan berbohong pada semua orang.
__ADS_1
Tapi sekarang aku sudah agak tenang. Uang sudah ada ditangan. Besok aku bisa membawa bayiku pulang dengan tenang ke rumah kami.
Tapi bagaimana keadaan Mas Adam sekarang? Bagaimana pun, aku menyayangi Mas Adam. Dia tetaplah Ayah dari anakku ini.