Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Terima Kasih Untuk Malam Ini


__ADS_3

(POV Aqila)


Aku sudah menunggu Yusuf sejak setengah jam yang lalu. Mungkin lebih tepatnya bukan aku yang menunggunya, tapi akunya saja yang terlalu cepat selesai bersiap-siap. Jam 6:30 aku sudah selesai berdandan. Padahal, Yusuf mengatakan akan datang menjemputku jam 7 tepat malam ini.


Mungkin saja karena sudah lama aku tidak merasakan bahagia seperti ini, aku menjadi sangat bersemangat. Atau memang karena ada perasaan lain yang mulai tumbuh di hatiku untuk Dokter itu? Entah lah, aku tidak tau dan tidak mau mengartikannya terlalu cepat pula.


"Cieee... Yang mau kencan ni yee." goda Kayla padaku saat aku sudah mulai pindah menunggu Yusuf ke ruang tamu.


"Apaan sih, Dek. Biasa aja deh," jawabku malu-malu pastinya.


"Mi... Mami... Liat ni, anak gadis Mami lagi kasmaran." pekik Kayla pada Mami yang sedang berada di meja makan.


Ada-ada saja kelakuan Kayla, masa aku dikatakan anak gadis? Padahal kakaknya ini sudah berstatus janda. Yang sebenarnya membuatku cukup takut untuk bepergian bersama seorang pria. Aku takut statusku ini membawa image buruk di kalangan teman-teman atau masyarakat sekitar tempatku tinggal.


"Idih, cantik banget ini turunan Mami. Wangi, rapi, juga ceria banget. Mau kencan sama Roman ya?" puji Mami dengan sangat antusias dan menanyakan Roman padaku.


"Mamii... Ih, bukaaannn..." Kayla membelaku dengan mengomeli Mami.


"Terus sama siapa dong? Apa mungkin dengan Dokter bermata empat itu?" tanya Mami Meri dengan sedikit curiga.


Ah, sial sekali kenapa Mami harus menjawabnya dengan benar? Aku jadi tidak bisa membantah lagi selain hanya mengangguk pelan.


Kayla lantas meloncat-loncat kegirangan. Dia memang selalu mendukungku untuk bisa bersama Yusuf. Entah apa yang dilihat anak sekecil itu dari sosok Yusuf. Tapi, dia juga sudah cukup remaja mendekati dewasa.


Tentu dia sudah pandai melihat mana pria yang baik dan tulus pada kakaknya. Jadi Aku pun tidak pernah heran dengan sikap dan perilaku Kayla. Aku memaklumi semua sikap dan tingah laku Kayla.


Mengingat bagaimana ia berjuang untuk hidup selama belasan tahun, Aqila merasa sikap manja dan kekanak-kanakan Kayla sangat wajar. Gadis itu tumbuh bisa dikatakan sebatang kara dan tanpa belaian dan sentuhan kasih sayang seorang Ibu.


"Mamii... Sama aja nih dengan Kayla." rungutku yang sengaja kubuat-buat.


"Mami hanya senang melihatmu udah mulai bangkit lagi seperti ini. Memang udah saatnya kamu tuh ngelupain masa lalu dan kembali menata masa depan."

__ADS_1


"Aku tau, Mi. Tapi, ga semudah itu. Aku belum siap untuk membuka hatiku untuk pria mana pun. Aku hanya menganggap mereka sebagai teman saat ini,"


"Tapi, Mami yakin kamu menyimpan perasaan yang spesial untuk Dokter itu. Mami melihat matamu bersinar jika sedang saat bersamanya. Tingkat bahagiamu lebih tinggi saat bersamanya. Dibandingkan saat kamu bersama Roman."


"Mami sok tau nih. Udah kayak peramal aja." candaku dengan tawa yang manja.


Mami merangkul tubuhku dan aku melingkarkan kedua lenganku di pinggang Mami.


"Tuh kan, giliran peluk-peluk aja aku ditinggal." protes Kayla yang duduk di depan kami.


"Duh, si bontot Mami cemburu. Sini-sini, Mami peluk bareng-bareng dua putri kesayangan Mami." jawab Mami sambil merentangkan tangannya pada Kayla. Kayla pun langsung menghambur ke pelukan Mami. Kami bertiga saling berpelukan dengan hangat.


"Selamat malam, Tante." sapa sebuah suara dari ambang pintu.


Sontak kami bertiga saling mengurai pelukan dan menoleh ke arah asal suara itu. Yusuf sudah berdiri dengan tampannya di sana. Aku membalas senyumannya saat mata kami saling beradu tatap.


"Selamat malam, Dokter. Langsung berangkat aja, gih. Aqila udah nggak sabar nih dari tadi ngeliatin jam terus," goda Mami lagi padaku dan Yusuf.


"Lihat tuh, Mas Dokter. Nggak sopan banget tu Kak Aqila melotot-melotot gitu ke Mami." sorak Kayla pula.


Ya Tuhan, kenapa kedua orang ini sengaja sekali membuatku malu di depan Yusuf. Akhirnya aku hanya berdiri sambil menutupi wajahku dan menggeleng-gelengkan kepala.


Yusuf hanya tertawa kecil melihat tingkah lucu keluargaku. Setelah berpamitan pada Mami, kami pun segera meninggalkan pekarangan rumahku. Yusuf membawaku ke sebuah Restoran yang memang sedang viral akhir-akhir ini.


Yusuf ternyata sudah memesan sebuah meja untuk kami dinner malam ini. Dan letaknya pun cukup bagus menurutku. Yusuf sangat pandai memilih tempat duduk. Aku memang tidak suka berada di tempat yang pengunjungnya terlalu ramai atau bertumpuk-tumpuk.


Posisi duduk kami yang jauh di sudut dan memiliki beberapa hiasan untuk berselfie ria di samping kiri dan kanan, juga dinding yang sudah dilukis sedemikian rupa hingga membuat mata tak mau lepas memandangnya.


"Qil, sini deh duduknya. Background nya bagus banget buat foto-foto. Yuk, kita foto." ajak Yusuf padaku yang tengah asik memandang dinding di belakangnya.


"Nggak ah, aku malu diliatin orang. Udah tua gini masih begituan." tolakku dengan sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Ya ampun Aqila! Siapa bilang kita ini sudah tua? Kita ini masih anak muda."


"Definisi aku, muda itu ya seperti mereka-mereka itu." jawabku sambil mengarahkan dagu ke meja yang berada tidak jauh dari tempat kami duduk.


Di sana duduk sepasang ABG yang mungkin masih seusia anak SMA. Mereka asik berfoto-foto ria dengan berbagai macam gaya, bahkan sampai ke pose saling mencium pipi pasangan dengan bahagianya.


Yusuf tertawa setelah melihat dua sejoli muda yang sepertinya sedang di mabuk cinta itu. Tanpa kuduga, Yusuf menggenggam tanganku yang memang kuletakkan di atas meja.


"Itu remaja. Kita ini dewasa. Kita masih sama-sama muda, meski beda usia dan tingkatannya. Jangan pernah minder dengan diri sendiri. Kamu harus bangkitkan semangat dan kepercayaan dirimu sendiri. Kalau tidak, sampai kapan pun kamu nggak akan pernah bisa maju dan meraih apa pun yang kamu inginkan dalam hidup." tegasnya dengan sorot mata yang begitu lembut dan nyaman.


Yusuf mengencangkan genggamannya saat aku berusaha menarik tanganku karena aku mulai gugup. 'Ya Tuhan, perasaan aneh apa lagi ini? Tolong jangan buat aku semakin bingung!' aku berseru dalam hatiku.


Kini, pria muda di depanku itu tersenyum manis padaku. Jantungku seakan ingin lepas dari tempatnya terpasang. Seindah itu kah senyumannya? Mungkin, Yusuf merasakan suhu di telapak tanganku yang berubah menjadi dingin karena terlalu grogi.


"Hei, malah melamun. Ayo buruan sini, keburu pesanannya datang lho. Ini tempat bakalan rame banget sebentar lagi, yang ada kita semakin keki buat foto-foto nantinya." terang Yusuf yang masih membujukku.


Akhirnya aku mengangguk dan Yusuf melepaskan genggaman tangannya yang hangat. Aku sempat merasa tak rela saat genggaman itu terlepas, tapi cepat kutepis dengan segera berpindah duduk ke sebelah Yusuf.


Yusuf segera mengambil ponselnya dan memasang kamera depan. Kami mulai berfoto-foto ria. Aku yang awalnya sangat kaku, mengundang gelak tawa kasual dari bibir Yusuf. Kemudian dia menuntunku agar lebih rileks.


Tak terhitung berapa puluh kali jepretan yang sudah kami ambil di sini. "Banyak juga, ya. Nanti aku sortir deh saat di rumah. Yang bagus akan aku kirimkan padamu," ucapnya lalu menyimpan kembali ponsel canggih keluaran terbaru miliknya itu.


"Oke. Makasih ya, Suf." ucapku tulus padanya.


"Makasih? Untuk apa?" tanya Yusuf dengan heran dan menatapku dalam.


"Karena udah ngasih aku kebahagiaan malam ini. Udah bikin aku merasa istimewa dan lebih percaya diri lagi. Aku akan berjuang untuk bangkit demi hidupku sendiri mulai saat ini!" jawabku dengan penuh tekad dan keyakinan.


Aku melihat Yusuf mengangguk dan tersenyum. "Itu baru Aqila yang sebenarnya. Meski kita baru kenal, aku tau orang seperti apa dirimu yang sebenarnya. Makasih ya, Qil. Karena bersamaku malam ini," ucapnya dengan sungguh-sungguh.


Lalu seorang pramusaji datang menghidangkan semua menu pesanan kami tadi. Aku dan Yusuf kemudian hanyut dalam cita rasa kuliner yang memang diakui kenikmatannya.

__ADS_1


__ADS_2