Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Apa Ini Namanya Selingkuh


__ADS_3

(POV Astr)


"Ya, aku akan menggantikan Adam sebagai suamimu mulai saat ini."


"Apa kau sama sekali tidak pernah tertarik padaku, Ast?" tanya Mas Aris lagi padaku.


"Dalam hal apa Mas Aris akan menggantikan Mas Adam?" tanyaku lagi dengan polosnya.


"Tentu saja semuanya, Sayang. Dari urusan dapur, sampai ke kasur." bisiknya kemudian mengecup bahuku yang terekspos dengan lembut.


Aku memejamkan mata menerima perlakuan Mas Aris. Bagaimana pun juga, tubuhku memang sudah lama tidak menerima sentuhan dari pria. Mas Adam khususnya karena dia adalah suamiku. Aku ingin menolak, tapi tubuhku malah menerimanya dengan baik.


Ya Tuhan. Apa yang sedang aku lakukan bersama pria lain di dalam rumahku? Sementara suamiku sedang berada di penjara saat ini, entah bagaimana kabarnya dan keadaannya saat ini.


"Mas..." lirihku tak berdaya menahan segala gejolak di dalam dada.


Mas Aris sepertinya semakin terpancing dengan suaraku yang mendayu memanggil namanya. Dan aku tidak tau kapan dan bagaimana itu terjadi, yang jelas aku sudah berada di atas kasur tempat tidurku dengan Mas Aris selama ini.


Semua terjadi begitu saja. Antara sepasang manusia yang terjerat rayuan setan. Aku dan Mas Aris melakukan hal yang seharusnya tak boleh kami lakukan. Karena, aku dan Mas Aris sama-sama sudah memiliki pasangan.


Aku tak bisa lagi mengingat bagaimana rentetan kejadiannya hingga kami berakhir di atas kasur tanpa sehelai benang pun. Mas Aris mendengkur keras di sampingku. Aku segera berdiri dan menjangkau handuk yang tergantung di dinding kamar. Kemudian berlari ke luar kamar, masuk ke kamar mandi dan membersihkan diriku sangat lama.


Meski pun aku bukan wanita yang suci saat menikah dengan Mas Adam, tapi setelah menjadi istrinya dan melihat ketulusannya padaku, aku sudah bertekad akan setia padanya. Namun, kini semua itu sudah ternoda. Yang lebih parahnya lagi aku melakukan itu dengan temannya sendiri. Dan di ranjang yang sama dengan tempat kami memadu kasih selama ini.


"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku. Aku wanita biasa yang juga membutuhkan nafkah batin. Aku sudah berusaha menolak, tapi tubuhku menginginkan dan merindukan semua hal itu." gumamku dengan derai air mata yang jatuh membasahi pipi.

__ADS_1


Cukup lama aku menggosok tubuhku dan membersihkan bagian kewanitaanku. Aku sama sekali tak mengira semua kebaikan Mas Aris akan berujung pada pembalasan budi dengan tubuhku ini. Aku mendengarkan suara rengekan Ferdi dan bergegas ke luar dari kamar mandi.


Aku mengambil baju dari lemari pakaianku dan melihat Mas Aris masih tertidur dengan lelap. Setelah mengenakan daster kebanggaanku, aku berlari ke kamar sebelah tempat dimana Ferdi ketiduran.


Bayi itu menangis cukup keras, dan tak bisa aku bujuk dengan apa pun. Mungkin kah dia mengerti bahwa aku baru saja melakukan sebuah kesalahan? Aku berusah membawanya bermain di ruang tamu.


"Ferdi kenapa, Ast?" tanya Ma Aris yang muncul dari kamar dan sudah dalam keadaan rapi seperti saat pertama ia datang tadi.


"Ga tau ni, Mas. Bangun tidur langsung rewel." aku menjawab dengan apa adanya.


"Bosan kali dalam rumah, kita ajak keluar yuk." ajaknya tanpa ragu padaku.


"Maksud kamu, kita pergi keluar bersama? Apa kamu ga takut ketahuan istrimu, mas?" aku bertanya dengan bimbang.


"Ga akan. Dia jam segini masih ada di toko kuenya." jawab Mas Aris dengan santai.


"Iya. Sini Ferdi biar sama aku aja."


Mas Aris mengulurkan tangannya untuk mengambil Ferdi dari gendonganku. Aku menyerahkan Ferdi yang masih sedikit rewel pada Mas Aris.


Setelah Ferdi berpindah tangan pada Mas Aris, aku bergegas kembali ke kamarku. Mengganti pakaian dengan dress selutut yang sudah lama kubeli, tapi belum sempat kupakai karena saat itu sedang hamil Ferdi.


Tak lupa aku memoles bedak dan lipstik agar penampilanku tidak terlalu udik saat keluar bersama Mas Aris nanti. Kemudian aku menggerai rambutku yang memang bagian bawahnya sedikit curly. Setelah aku rasa cukup, kuambil sepatu setinggi 3 cm dari rak sepatu. Memasukkan dompet dan lipstik ke dalam tas merek Diar, yang memang hanya itu tas ori yang kumiliki.


"Ehem. Mami cantik banget ya, Nak. Papa jadi pengen di sini terus deh." ucap Mas Aris pada Ferdi.

__ADS_1


Aku terkejut. Bukan karena dia memujiku cantik. Tapi dengan panggilan yang baru saja dia tujukan untuk dirinya pada Ferdi. Papa? Apa aku tidak salah dengar? Atau Mas Aris yang tak sengaja salah menggunakan kata itu.


"Mas, kok kamu panggilin Papa ke diri kamu sama Ferdi?"


"Lho, emang ga boleh? Ga apa-apa dong. Kan selama ini aku sudah menggantikan peran Adam sebagai ayahnya."


"Tapi, Mas. Kalau keterusan bisa bahaya. Kalau nanti Ferdi bisa ngomong dan terus manggil kamu Papa, gimana? Atau kalau orang salah sangka ngirain Ferdi anak kmu gimana? Aku ga enak sama istri kamu lah, Mas. Aku ga mau dianggap pelakor kedua kalinya."


"Udah lah, Ast. Kamu tenang aja. Ga akan ada hal-hal seperti itu. Aku akan jaga kamu dan Ferdi dengan baik. Aku udah anggap Ferdi anak aku sendiri."


"Tapi, Mas..."


"Udah, ga usah tapi-tapi an lagi. Yuk kita berangat sekarang. Aku udah lapar banget nih."


Aku akhirnya pasrah dan mengangguk. Aku memang pernah diserang dan dipermalukan sebagai perebut suami orang oleh Kak Aqila. Saat itu aku memang salah. Aku jelas-jelas tau Mas Adam adalah suami Kak Aqila, tapi aku juga enggan melepaskannya.


Saat itu hanya dia orang yang kuanggap bisa menyelamatkanku dari rasa malu. Meski akhirnya rasa malu atas cap pelakor pun tak dapat aku hindari. Biar lah, aku pikir itu tak berapa dibanding rasa malu saat orang-orang melihatku hamil tanpa suami. Dan aku sendiri belum tau akan bagaimana menjalani hidup sebagai ibu tunggal untuk anakku kelak.


Mungkin, karena dari pernikahannya yang sudah berjalan 8 tahun, Mas Aris tak kunjung diberi keturunan, maka ia menyayangi Ferdi seperti anaknya sendiri. Apalagi dia memang sudah dekat dengan Ferdi sejak Ferdi baru saja lahir ke dunia.


Karena hutang budiku pada Mas Aris, aku benar-benar tak bisa berkutik. "Mas aku takut kalau keluar sama kamu nanti ada yang tau kalau kamu suaminya Mba Santi. Terus dia ngadu ke Mba Santi." di dalam mobil aku masih merasa takut akan hal itu.


"Bagaimana jika tiba-tiba Mba Santi datang dan ngelabrak aku. Aku malu lah, Mas. Ga bagus juga untuk perkembangan mental Ferdi ke depannya." lanjutku lagi dengan nada khawatir yang tak bisa aku sembunyikan lagi.


"Sayang, ga usah mikir yang macam-macam dulu, ya. Aku jamin tempat yang kita datangi ini akan buat kamu nyaman dan bahagia." jawab Mas Aris dengan memamerkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.

__ADS_1


Aku tersenyum dan mengangguk setuju. Kucoba untuk berdamai dengan hatiku sendiri. Kutepis semua ketakutan yang tadi sempat mendera hati dan pikiranku.


Kupandang Ferdi yang asik main dengan gigitan kelincinya. Sesekali Ferdi menoleh ke arah Mas Aris dan berusaha menggapai tangannya. Mungkin Ferdi ingin dipangku oleh Mas Aris. Tapi aku mengalihkan perhatiannya dengan memberikan sebotol susu formula yang sudah kusiapkan sebelum pergi tadi. Dan akhirnya Ferdi diam sambil menikmati susu sambungnya.


__ADS_2