Dikhianati Suamiku

Dikhianati Suamiku
Kenyataan


__ADS_3

Astri masih terdiam setelah lepas lima menit. Aku masih menunggu jawaban dari mulutnya. Astri terlihat gugup dan salah tingkah. Dia menggaruk kepalanya yang mungkin sama sekali tidak gatal.


"Eh... Itu-itu kan... Em... Dulu pas Kak Aqila dan Mas Adam nganterin Aku pulang, Aku pernah lihat." akhirnya Astri menjawab pertanyaanku itu, dengan kalimat yang cepat dan terburu-buru.


"Kapan?" tanyaku lagi.


"Udah lama sih, Kak. Oh iya, Kak. Ada Bu Alda, aku layani dulu ya." pamitnya saat melihat pelanggan VIP masuk ke Butik. Hal ini tentu saja menjadi kesempatan bagus bagi Astri, untuk lari dari introgasiku tadi.


Saat aku dan Mas Adam mengantarnya pulang? Itu sudah lama sekali, mungkin sudah tiga bulan terakhir. Dan ponsel Mas Adam ini, baru dua bulan yang lalu aku belikan. Sebagai kado pernikahan dariku. Saat itu Mas Adam membelikanku kalung emas berbandul inisial namanya.


Aku memperhatikan gerak gerik Astri dari kejauhan, pinggulnya tampak lebar sampai bagian depan. Memang persis seperti orang yang sedang hamil. Meski aku belum pernah hamil, sebagai perempuan, aku masih dapat membedakan wanita gemuk dengan wanita hamil.


Namun, apa sebenarnya alasan Astri tiduk mau memberitahu padaku tentang pernikahannya? Sebesar itukah aib menikah dengan pria duda? Sampai-sampai dia harus menutupinya dariku, yang selama ini sudah tulus membantunya.


"Kak... Kak..." panggil Astri yang sudah berada di depan mejaku.


"Ah... Iya... Ada apa?" jawabku terbata-bata, karena baru sadar dari lamunan.


"Ini, Bu Alda mau bayar. Ini kredit cardnya!" Astri mengulurkan sebuah gaun pesta dan sebuah kartu kredit berwarna emas padaku.


"Oh, baik. Silahkan tunggu sebentar ya, Bu." ucapku ramah pada Bu Alda.


Kami memang sudah kenal sejak lama. Dulu aku mengenal Bu Alda sewaktu masih bekerja di Perusahaan suaminya. Bu Alda saat ini berusia sekitar enam puluhan. Tapi wajah dan tubuhnya seperti masih berusia empat puluhan.


Setelah selesai melakukan pembayaran, aku memberikan paper bag berisi belanjaan Bu Alda beserta kartu kreditnya kembali.


"Terima kasih, Bu. Silahkan datang kembali," ucapku tulus pada Bu Alda.

__ADS_1


"Sebaiknya, jangan pernah percaya pada siapa pun di sekitarmu. Karena orang terdekat, berpotensi besar untuk mengkhianatimu." balas Bu Alda dengan senyuman khasnya. Kemudian pergi keluar dari Butik milikku ini.


Aku masih duduk diam, mencerna apa maksud dari ucapan Bu Alda tadi. Kenapa tiba-tiba dia memperingatiku tentang orang-orang terdekat? Ada apa sebenarnya? Apakah Bu Alda tau sesuatu? Banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku. Sampai semua itu buyar, karena ponsel Mas Adam bergetar. Aku melihat nama Nisa di sana. Lalu mengangkatnya.


"Ada apa?" tanyaku langsung pada intinya.


"Apakah kamu belum mengembalikan ponsel Adam? Tadi dia datang ke sini lagi mencari ponselnya!" jawab Nisa menjelaskan.


"Belum. Aku langsung ke Butik tadi. Aku yakin, sebentar lagi dia pasti akan ke sini." lalu aku mematikan telfon dari Nisa.


Entah mengapa, hatiku masih terasa sangat kesal. Entah apa yang kukesalkan saat ini. Aku sendiri tak bisa memahami perasaanku. Haruskah aku kesal pada Nisa? Mas Adam? Astri? Atau pada Bu Alda?


Astri terlihat sangat gugup sambil terus memperhatikanku dan melirik ponsel Mas Adam. Kenapa gadis ini terus melihat ke arah ponsel Mas Adam? Apa yang dia pikirkan? Lalu, untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku membuka kunci ponsel Mas Adam. Kulihat nama-nama kontak di ponsel Mas Adam. Melihat panggilan telfonnya dan chat di media sosialnya. Semua biasa-biasa saja. Tapi kenapa mata Astri seakan tak bisa lepas dari ponsel ini.


Caranya memandang, seolah takut ada rahasia besar yang akan terbongkar jika aku lama-lama memegang ponsel milik Mas Adam ini. Aku semakin meninggikan ponsel itu ke depan wajahku, sengaja. Biar Astri tau bahwa aku sedang memeriksa ponsel suamiku. Rasanya aku seperti sedang memanas-manasi dia. Tapi, tak jelas tujuannya untuk apa.


Saat aku melihat gambarku yang ada di foto Mas Adam saat tertidur tanpa busana, usai bercinta, aku memasang ekspresi terkejut dengan menutup mulut dan membesarkan kelopak mataku. Aku menatap Astri dengan sengaja. Maksud hati, ingin melihat apakah dia masih memperhatikanku atau tidak.


"Kak, Maafkan Astri. Astri nggak bermaksud sama sekali, Kak. Maafkan Astri. Tolong, kak. Ampuni Astri, semua ini sama sekali nggak pernah terniat dalam hati Astri. Semua terjadi begitu saja, Kak." ucapnya sudah dengan banjir air mata dan menunduk tak berani menatapku.


Aku sebenarnya tidak mengerti sama sekalu maksud perkataan Astri ini. Minta maaf? Untuk apa? Kenapa Astri sampai menangis seperti ini? Kesalahan apa yang sebenarnya dia lakukan padaku?


Belum sempat aku bertanya sepatah kata pun padanya, Mas Adam datang. Mas Adam masuk ke Butik dan menuju ke arahku dengan senyum lebar. Namun, saat melihat Astri yang berlinang air mata di sampingku, mendadak senyumnya menjadi kaku dan Mas Adam terlihat sangat gugup dan ragu melangkah mendekatiku.


Aku mencoba untuk menguji keadaan yang sebenarnya sangat membuatku bingung ini. Tapi, aku tidak ada pilihan selain mencobanya.


"Mas, untung lah kamu sudah datang. Coba jelaskan padaku..." aku sengaja menggantung kalimatku dan menunggu reaksi Astri.

__ADS_1


Benar saja, Astri langsung berdiri ke arah Mas Adam dan bergelayut di lengan Mas Adam.


"Mas, tolong jelaskan pada Kak Aqila. Aku nggak bersalah, Mas. Aku nggak mau dibilang pelakor, Mas!" rengeknya pada Mas Adam.


Pelakor? Apa maksud ucapan Astri? Ada hubungan apa dia dan Mas Adam?


"Aqila... Sayang... Dengarkan Mas dulu, ya!" Mas Adam buka suara.


"Apalagi? Coba jelaskan semuanya padaku, mungkin aku bisa memaafkan dia jika Mas mengatakan semuanya dengan jelas dari awal," ucapku asal bicara.


"Sayang, ini semua bukan salah Astri. Ini semua karena... Karena Mas khilaf. Mas waktu itu diberi obat perangsang oleh rekan bisnis, saat di jalan pulang, Mas melihat Astri dikejar oleh dua orang preman. Mas membantunya. Tapi, masalah Mas sendiri belum selesai. Mungkin... Obat itu dosisnya tinggi. Sampai akhirnya, Mas melakukan hal itu... Pada... Astri," ucap Mas Adam terputus-putus.


Duar...


Bak tersambar petir di siang hari, aku mendengar pengakuan Mas Adam. Tubuhku melemas, tak sadar air mataku jatuh mengalir. Dadaku rasanya panas seakan terbakar. Apa yang baru saja kudengar? Apakah semua ini nyata?


"Kak... Maafkan Astri... Semua ini terjadi begitu saja. Astri tidak pernah merencanakan semua ini," ratap Astri yang masih dapat kudengar.


"Sayang..." Mas Adam memanggilku masih dengan sebutan Sayang?


Para karyawanku yang lain sudah berinisiatif memutar merek toko menjadi tutup. Mereka juga segera pergi ke ruang istirahat. Meninggalkan kami bertiga di ruangan ini.


Aku berdiri lemah, dan berjalan ke arah Mas Adam di depan meja. Kupegang pipinya, tangannya.


"Sejak kapan, Mas?" tanyaku pilu.


"Sudah enam bulan yang lalu. Dan, Mas sudah menikahi Astri secara siri, karena saat itu ternyata Astri masih perawan. Cinta tumbuh dengan sendirinya, Sayang. Maafkan, Mas. Dan saat ini Astri sedang hamil dua bulan!" jawab Mas Adam dengan tertunduk.

__ADS_1


Bruk...


Tubuhku ambruk ke lantai mendengar kata-kata yang diucapkan Mas Adam. Kutatap sekeliling ruangan menghitam. Itulah, hal terakhir yang dapat kuingat sebelum tak sadarkan diri.


__ADS_2