
Aku sudah mengemasi semua barang-barang Mas Adam yang ada di dalam kamar. Kumasukkan pakaiannya ke dalam koper dan beberapa barang lagi ke dalam kardus-kardus kecil.
Sebelum dia datang lagi, aku sudah meletakkan semua itu di kursi teras. Agar ia tak perlu lagi menginjakkan kaki ke dalam rumah peninggalan orang tuaku ini.
Pasti saat ini orang tuaku sangat terluka karena perbuatan Mas Adam padaku. Dan aku, kemana aku harus mengadu? Keluarga ayahku tinggal jauh dan berbeda negara. Lagi pula, aku tidak sedekat itu dengan mereka.
Sementara dari pihak ibuku sudah tidak ada sama sekali yang tertinggal. Ibuku adalah anak bungsu dari empat bersaudara.
"Hai, Beb. Apa semua sudah siap? Kapan kamu akan mengirimkannya?" tanyaku beruntun pada Ayu melalui sambungan telepon.
"Iya, ini sedang di proses. Sabar ya. Mudah-mudahan sore ini beres semuanya. Pagi besok udah aku kirim langsung ke ruangannya di Kantor. Bersiaplah, Qil," jawab Ayu dengan nada sedikit khawatir.
"Oke, terima kasih ya. Kamu memang sahabat terbaik yang aku punya."
"Tentu saja. Karena itu juga aku ingatkan kamu untuk berhati-hati. Karena aku sudah banyak menghadapi pria-pria seperti itu di persidangan."
"Iya, Nona bawel. Aku tau, kamu emang perempuan terbaik dan paling teliti."
"Aku seriua, Qil. Aku yakin, suamimu itu tidak akan membiarkan semua ini berjalan dengan mudah,"
"Kamu benar. Aku juga berpikir seperti itu. Pasti, sebentar lagi dia akan mencoba membuat masalah baru."
"Karena itu, sebaiknya jangan lengah. Apa kamu membutuhkan seseorang untuk menjagamu?"
"Menjagaku? Untuk apa, Ayu. Aku tidak akan apa-apa. Mas Adam nggak mungkinlah nyelakain aku, meski dia sangat marah sekali pun!"
"Kamu sangat yakin, Qil? Pria seperti itulah yang sebenarnya paling berbahaya jika merasa sakit hati atau marah."
"Untuk apa dia sakit hati dan marah padaku? Seharusnya itu aku."
"Tentu saja karena kamu menggugat cerai dirinya, Aqila sayang!" Ayu menjawab dengan nada yang sedikit di tekankan.
Memang sahabatku itu paling kesal jika aku terus saja menjawab dan melawan setiap argumennya. Jiwa pengacaranya seolah tertantang karena memiliki aku sebagai sahabat yang tak pernah mau kalah.
"Iya deh, iya. Kali ini aku ngalah sama Miss Lawyer." aku berkata dengan suara gelak tawa yang juga diiringi oleh Ayu.
__ADS_1
Setelah pembahasan itu, telfon aku matikan. Kubaringkan tubuh lelah ini di atas ranjang yang sebelumnya selalu ada aroma tubuh Mas Adam. Namun, semua sudah kuganti dengan yang baru. Sehingga tidak meninggalkan sedikitpun jejak tentang dirinya di kamar ini.
Seperti inikah rasanya membenci orang yang sangat kita cintai? Seperti inikah rasa sakitnya membenci orang yang selama ini kita sayangi dan percaya tak akan pernah berkhianat?
Mungkin, karena terlalu lelah tubuh dan otakku ini. Terlalu lelah hati juga perasaanku ini, hingga perlahan mataku tertutup. Aku terlena dalam tidur panjangku. Hingga tak sadar, saat terbangun hari sudah sangat gelap. Kulihat jam dinding, sudah jam sebelas malam.
Aku keluar kamar dan melihat sekeliling ruangan rumah. Tidak ada tanda-tanda Mas Adam pulang selama aku tertidur tadi.
'Ah, tentu saja dia tak akan datang. Bukankah simpanannya itu sedang sakit. Tentu saja dia akan mengutamakan menjaga wanita yang tak lama lagi akan memberikannya seorang buah hati, keturunannya yang selama ini dia nanti-nanti,' pikirku lagi dalam hati.
"Sepertinya, besok aku harus mengganti kunci pintu utama dan pintu depan. Agar dia tak bisa lagi leluasa datang ke rumahku ini," ucapku sendirian. Karena memang Mas Adam menyimpan juga duplikat kunci-kunci di rumah ini.
Setelah mengambil segelas air, aku kembali menaiki anak tangga dan kembali ke kamarku. Aku memutuskan untuk kembali melanjutkan tidur. Karena besok pagi, pasti akan ada drama yang sangat menegangkan terjadi.
Keesokan paginya, aku bangun seperti biasa. Berkemas dan bersiap akan berangkat ke butik. Saat suara ponselku berbunyi, menandakan ada sebuah notifikasi dari Wh*tsa*p yang masuk.
"Aku baru saja mengirimkan berkas itu padanya."
Begitu isi pesan itu setelah kubaca. Aku tersenyum getir. Mengingat tak lama lagi, mahligai rumah tangga yang kubina selama 3 tahun ini akan segera berakhir.
Aku pergi ke butik dan mengunci gerbang dengan yang kemarin aku beli. Aku sengaja mengganti gemboknya, agar lelaki itu tak bisa masuk lagi ke rumahku.
Sesampai di butik, karyawan sudah berkumpul di depan butik. Tentu saja, kecuali pelakor itu. Aku segera membukakan pintu butik agar semua karyawanku bisa masuk dan mulai mengerjakan tugasnya masing-masing.
Sementara aku duduk di meja kasir. Tempat yang dulu aku percayakan untuk Astri. Namun, sayang sekali. Jangankan menjaga kepercayaanku di laci kasir, dia bahkan tega merebut suamiku.
Terkadang aku berpikir, apakah selama ini aku terlalu bodoh dan naif? Hingga dengan mudahnya percaya dengan sikap manis mereka berdua. Aku tertipu cukup lama.
Cukup lama aku merenung. Hingga air mataku saja sudah enggan untuk menetes. Mungkin, sudah terlalu sakit hati ini. Hingga, air mata saja sudah tak cukup lagi untuk menggambarkan rasa sakit dan kecewa.
"Buk, ada Bapak!" bisik Risna yang berdiri tak jauh dariku.
Aku langsung memutar kepala, memandang ke arah pintu masuk butik. Tampak Mas Adam berjalan dengan langkah terburu-buru dan bisa kutebak dari ekspresinya. Pasti dia sudah menerima berkas perceraian yang dikirim oleh Ayu pagi ini.
"Aqila... Apa-apaan ini?" tanyanya dengan nada setengah berteriak, sambil menunjukkan berkas perceraian kami.
__ADS_1
"Apa? Baca dong. Mas kan bisa baca!" jawabku dengan enteng.
"Aku nggak akan pernah mau menanda tangani surat perpisahan ini!" ucapnya dengan wajah serius.
"Terserah! Meskipun kamu nggak mau tanda tangan, kita akan tetap bercerai. Karena apa, Mas? Karena aku punya bukti perselingkuhanmu.
Bukti bahwa kamu telah mengkhianati pernikahan kita." balasku dengan senyum getir.
Bisa kulihat bahwa Mas Adam terkejut mendengar ucapanku. Tentu saja bukti yang kumaksud adalah semua rekaman dari hasil penyadapan di ponselnya. Aku harus berterima kasih pada Roman untuk hal besar yang sangat membantuku kali ini.
"Sayang... Tolong, pikirkan sekali lagi. Kita masih bisa memperbaiki semuanya." suara Mas Adam tiba-tiba saja melunak.
Aku tidak ingin lama-lama menjadi tontonan seluruh karyawanku. Meski mereka bersikap cuek seolah tidak terjadi apa-apa pada Mas Adam dan aku. Mereka punya telinga yang pasti mendengar semua percakapanku dan Mas Adam.
"Tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi, Mas!" jawabku mantap.
"Mas akan menceraikan Astri ketika dia selesai melahirkan nanti. Dan Mas akan membawa anak itu untuk kita rawat dan besarkan bersama."
Sekali lagi, entah setan apa yang telah merasuki Mas Adam yang dulu berhati baik hingga bisa berpikir dan mengucapkan kata-kata yang tidak berperasaan itu.
Aku tersenyum miris kepadanya. Tak menyangka, lelaki itu bisa berpikir picik dan akan melukai lagi hati wanita yang telah dia nikahi siri dan hamili.
"Cukup aku saja, Mas. Jangan kamu sakiti lagi istri sirimu itu. Jangan melakukan kesalahan dan dosa lagi. Lebih baik, kamu terima kenyataan dan jalani kehidupan barumu. Bukankah keluarga bahagia seperti itu yang sejak dulu kamu dambakan?"
"Tapi, Mas maunya itu bersamamu, Aqila."
"Maaf, Mas! Pintu hatiku sudah tertutup rapat untukmu!"
Aku segera masuk ke ruanganku setelah mengucapkan kalimat terakhir. Meninggalkan Mas Adam dengan kebingungannya. Mungkin ia sama sekali tidak percaya bahwa aku bisa mengatakan kalimat itu.
Tidak lama kemudian kudengar Mas Adam masih berusaha mengetuk pintu memanggil namaku dari depan pintu.
'Aku sudah terluka cukup dalam, Mas. Dan semua itu karena ulahmu. Aku tidak bisa memberikanmu maaf dan kesempatan. Hatiku tidak seluas dan setabah itu!' pekikku dalam hati.
Mungkin karena aku tidak kunjung menyahut, suara Mas Adam perlahan menghilang ditelan kesunyian. Biarlah, aku coba ikhlaskan cinta itu untuk yang lain. Semoga dia bisa mendapatkan semua kebahagiaan yang tak pernah bisa aku berikan.
__ADS_1