
Selama setengah jam perjalanan, kami hanya berbicara mengenai hal-hal ringan saja. Sambli sesekali bercanda tawa dengan Ferdi. Kami sampai di sebuah Restoran pinggir pantai yang sangat indah dan pastinya terkesan mewah.
Mas Aris turun terlebih dahulu, dan mengitari mobil untuk membukakan pintu untukku. Aku merasa sangat tersanjung dengan perlakuan manis Mas Aris. Terlebih dahulu, Mas Aris menggendong Ferdi agar aku tidak terlalu kesulitan saat turun sambil menggendong bayi.
Bukan kah wanita sangat suka diperlakukan istimewa seperti itu? Bagaimana aku bisa mengelak terus setiap kali Mas Aris memberikan perhatiannya padaku? Sementara aku sendiri memang haus akan perhatian dan kasih sayang pasca Mas Adam di penjara.
Kami masuk ke dalam restoran itu layaknya sepasang suami istri dengan seorang bayi di dalam pelukan Mas Aris. Aku juga terpaksa menggandeng tangan Mas Aris karena dia terus memaksa selama jalan menuju pintu masuk.
Dari luar, restoran itu terlihat biasa saja. Terlihat sama seperti restoran pada umumnya. Namun, saat kita memasukinya lebih dalam, mata akan langsung disuguhi pemandangan indah tepi laut. Suara debur ombak menambah keromantisan suasana senja ini.
"Ast, kita duduk di ujung sana saja, ya. Itu agak sepi. Jadi kamu bisa lebih santai. Ferdi juga pasti ga nyaman kalau ramai, karena belum biasa." ajak Mas Aris sambil menunjuk sebuah tempat duduk yang paling ujung.
"Oke, Mas. Terserah kamu aja. Aku sih, nyaman-nyaman aja asal ga ada istri kamu di sini." jawabku sambil tertawa ringan.
Mas Aris pasti tau maksudku hanya lah sekedar bercanda. Kemudian kami berjalan ke sana. Semilir angin berhembus syahdu. Aku terlena dan hanyut dalam suasana yang romantis dan penuh kehangatan ini. Mas Aris membuka jas nya dan menutupi punggungku dengan jas itu.
Untung saja Ferdi memang selalu aku bekali dengan pakaian dingin, kaus kaki tebal dan kupluk sebagai penutup kepalanya. Jadi aku yakin. Ferdi tidak akan kedinginan di sini.
"Kamu pilih aja, mau makan dan minum apa. Nanti tulis 2 porsi, ya. Aku akan makan dan minum apa yang kamu suka. Biar Ferdi tetap sama aku. Kamu santai aja."
"Baik, Mas. Aku akan tulis pesanannya dulu."
"Jangan sungkan, pilih makanan apa saja yang ingin kamu makan. Meski nanti kamu hanya memakannya sesuap, aku ga akan marah," ucap Mas Aris lagi membuat hatiku semakin berbunga-bunga.
__ADS_1
Mas Adam saja tidak pernah bersikap seperti ini padaku. Memang Mas Adam sangat memanjakanku, tapi dia tidak pernah mau tau dengan apa yang aku suka. Apalagi semenjak perceraiannya dengan Kak Aqila, dia menjadi sangat jarang memperhatikan aku dan mempedulikanku.
"Udah nih, Mas. Kasih ke siapa ya kertasnya?" tanyaku setelah selesai mencatat pesanan.
"Bentar, aku panggi waiters nya dulu, ya," jawab Mas Aris. Lalu Mas Aris menjentikkan jarinya sebanyak dua kali.
Tak lama kemudian, seorang pelayan pria datang ke meja kami dan memberikan senyum dan sapaan ala-ala pelayan restoran. Mas Aris menyerahkan kertas yang sudah aku tulis dengan beberapa menu tadi kepadanya. Berbeda dari restoran lainnya, di sini memang pengunjung sendiri yang dipersilahkan mencatat pesananya.
"Ast, kamu mau ga jadi kekasihku?" tanya Mas Aris saat pelayan itu sudah pergi dengan membawa kertas berisi pesanan kami tadi.
"Ma-maksudnya apa nih, Mas?" aku balik bertanya dengan gugup.
"Ya, aku tau mungkin kamu bingung dengan pertanyaanku. Karena kita sama-sama sudah memiliki pasangan. Tapi, kamu kan bisa dikatakan sudah berpisah dengan Adam. Dia akan dijerat hukuman yang sangat lama. Minimal 10 tahun karena itu adalah kasus percobaan pembunuhan. Apa kamu yakin akan menunggunya selama itu?"
"Sementara istriku, hanya sibuk dengan bisnisnya. Sementara uang yang aku berikan sudah pasti lebih dari cukup. Entah apa alasannya bekerja dan mengurus toko kue itu. Padahal banyak orang yang membantunya sebagai karyawan di sana. Mungkin itu salah satu penyebab dia belum bisa hamil sampai saat ini."
"Hubungan kami di ranjang juga terasa hambar. Karena sudah tidak ada lagi keharmonisan dalam rumah tangga dua tahun belakangan ini." Mas Aris berkata panjang lebar padaku tentang keadaan kami dan rumah tangganya.
"Kalau memang kamu ga bahagia lagi bersamanya, kenapa kamu ga ceraikan aja dia, Mas?" tanyaku sembarangan.
"Rencananya begitu. Tapi, Mamaku sangat menyayangi dia. Aku juga ga akan bisa dapat warisana Papa kalau aku menceraikan dia. Karena, Papaku pernah berjanji pada Alm Papa Santi, bahwa dia akan menjaga Santi sampai kapan pun dan ga akan membiarkan dia sedih atau pun menderita."
"Jadi aku harus bagaimana? Aku bisa saja meminta perpisahan dengan alasan ga bisa menunggu Mas Adam selama itu dalam hidupku. Tapi, aku juga ga bisa hidup bersama suami orang dengan tenang seperti ini, Mas."
__ADS_1
"Jadi, kamu mau menjadi kekasihku?"
Aku menghela napas panjang dan membuangnya perlahan. "Semua sudah terlanjur, Mas. Kita juga sudah melakukan hubungan itu. Aku tidak memungkiri bahwa aku juga merindukan ranjang yang mampu memberikanku kehangatan dan kepuasan. Terlepas dari semua itu, tidak ada istri yang akan diam saja saat tau suaminya berbagi cinta,"
"Aku bisa mengurusnya dengan gampang. Santi adalah gadis yang lemah dan gampang diancam. Meski dia tau kita memiliki hubungan, dia ga akan bisa berkutik. Paling dia hanya akan diam aja terus menganggap semunya ga pernah terjadi. Lalu, dia akan kembali menyibukkan diri dengan toko kue nya itu."
"Beneran, Mas? Mba Santi ga galak seperti Kak Aqila mantan istrinya Mas Adam?" tanyaku tak percaya. Karena biasanya seseorang yang bernama Santi memiliki sifat yang sangat keras dan kasar.
"Iya. Ngapain juga aku bohong. Atau nanti kita nikah siri aja. Jadi aku bisa datang kapan aja ke kontrakan kamu tanpa takut di grebek warga."
"Ni-nikah siri? Tapi, aku masih dalam ikatan pernikahan siri juga dengan Mas Adam."
"Alah, itu gampang. Tinggal buat surat cerainya aja nanti. Zaman sekarang apa sih yang susah. Pokoknya kamu percaya aja lah sama aku, gimana?"
Meski ada sedikit ketakutan dalam hatiku atas rencana yang dikatakan Mas Aris, tapi saat ini aku juga harus memikirkan masa depan Ferdi. Aku tak mau dia hidup dalam kekurangan seperti halnya diriku dulu. Akhirnya aku memberikan anggukan tanda setuju pada Mas Aris.
Mas Aris melempar senyum padaku. Dan menggenggam tanganku yang memang sejak tadi aku letakkan di atas meja sambil memutar-mutar pot bunga kaktus mini.
"Nanti, kita cari kontrakan baru yang lebih bagus, ya. Aku akan beri kamu uang belanja bulanan dan memenuhi semua kebutuhanmu juga Ferdi. Aku akan menganggap Ferdi seperti anakku sendiri." janji Mas Aris padaku.
Aku senang, setidaknya Mas Aris akan membawaku pindah dari kontrakan yang sederhana itu. Syukur-syukur nanti dia mau membelikan sebuah rumah atas namaku. Ya, aku akan membujuknya untuk hal itu. Sudah terlanjur basah, maka mandi saja sekalian. Aku akan memberikannya pelayanan yang memuaskan. Pasti dia akan menuruti semua kemauanku.
Apalagi, dia sangat menyayangi Ferdi. Aku bisa menjadikan Ferdi sebagai alasan dari segala apa yang akan aku minta nantinya. Rumah, mobil, perhiasan, sebuah usaha. Wah, aku sudah tidak sabar akan mendapatkan semua kemewahan itu dari Mas Aris.
__ADS_1