
Pagi-pagi sekali aku sudah selesai berkemas dan segera memanggil perawat untuk datang ke ruanganku. Aku tak ingin, bertemu dengan Mas Adam hari ini. Luka itu akan kembali berdarah jika aku bertemu dan berbicara dengannya saat ini.
Jadi, aku putuskan keluar dari Rumah Sakit sebelum dia datang mengunjungiku. Siapa tau, nanti dia datang bersama istri simpanannya itu. Aku sudah berusaha keras agar tidak melontarkan kata-kata kasar pada Astri. Mengingat ia tengah hamil saat ini.
"Bu, kenapa Anda ingin keluar sepagi ini?" tanya Perawat itu saat memeriksa tensi dan suhu tubuhku.
"Aku sudah merasa baikan, Sus." jawabku singkat.
"Baiklah, Ibu bisa menyelesaikan administrasi dulu sebelum pergi. Aku akan kembali dengan membawa riciannya,"
"Tidak perlu. Aku akan langsung membayarnya di bagian administrasi saja. Agar tidak bolak balik!"
"Baiklah, Bu. Mari, saya antar."
"Terima kasih, Suster."
Perawat muda itu tersenyum dan menuntun jalanku ke bagian administrasi. Setelah selesai membayar semua tagihan Rumah Sakit melalui mobile banking, aku segera meninggalkan tempat itu.
Aku memesan taxi online untuk mengantarkanku ke rumah sahabatku, Ayu. Aku sungguh tidak ingin pulang ke rumah untuk saat ini.
Dan lagi pula, aku sudah mengabari Ayu bahwa akan datang pagi ini. Jarak Rumah Sakit dan kediaman Ayu tidak begitu jauh. Sepuluh menit sudah cukup lama untuk sampai, karena supirnya mengendarai taxi itu dengan kecepatan lambat.
"Hai... Udah rapi aja jam segini?" aku menyapa Ayu saat ia membukakan pintu untukku.
"Kamu bisa mengomeliku selama tiga jam kalau sampai aku belum mandi waktu kamu datang," jawabnya menyindirku dengan sebuah senyuman.
"Hahaha... Lagian, anak perawan kok males mandi?"
"Yeee... Aku bukan males mandi. Aku cuma kadang nggak sempat mandi pagi."
"Halah, alasan aja kamu bisanya."
Ayu membawaku masuk dan menuju ke meja makan. Sudah ada dua mangkok bubur ayam di sana. Tentu saja, Ayu memesannya melalui gra*fo*d. Mana mungkin dia membuatnya sendiri.
Setelah selesai sarapan, aku dan Ayu duduk santai di sofa ruang tengah rumahnya itu. Kemudian, Ayu menatapku penuh tanda tanya. Tentu saja, aku bisa mengartikan apa maksud dari tatapannya itu.
__ADS_1
"Beb, aku butuh kamu sekarang. Mas Adam udah berkhianat. Dia merusak kepercayaanku, dan aku tidak bisa memaafkan atau menerimanya lagi," air mata mulai terasa mengisi bola mataku.
"Apa? Mas Adam? Selingkuh maksudmu? Suami se perfect dia? Nggak usah bercanda deh, nggak lucu!" ternyata, Ayu juga bisa tertipu oleh penampilan dan sikap Mas Adam selama ini.
"Bukan selingkuh lagi malahan, tapi udah nikah siri." aku menambahkan kalimatku.
Membuat Ayu kembali terkejut, dengan ekspresi mata terbuka lebar dan tangan menutup mulutnya. Sekelas Ayu saja bisa tertipu, apalagi aku yang tidak punya keahlian khusus untuk membaca situasi dan mimik wajah seseorang.
"Kamu tau nggak, siapa istri sirinya Mas Adam?" tanyaku lagi, saat melihat Ayu masih mencoba mencerna perkataanku.
Tentu saja Ayu masih merasa tak percaya. Mas Adam yang selama ini terkenal sangat berkelakuan baik, mesra padaku, selalu memberikan hal-hal romantis, tidak pernah tidak pulang ke rumah, tiba-tiba ketahuan selingkuh. Bahkan sudah menikah siri.
"Sama siapa, Qil?" tanya Ayu dengan penasaran.
"Astri..." aku menggantung jawabanku. Agar Ayu bisa menikmati kembali ekspresi terkejutnya.
"Astri? Karyawan di Butik kamu kan?" tanya Ayu dengan nada tak percaya dan sungguh seperti mengharap ini tidak nyata.
Aku hanya mengangguk lemah, menjawab pertanyaan Ayu. Rasanya, sudah habis seluruh tenaga yang aku miliki saat ini. Hanya untuk memikirkan kenapa Mas Adam menjadi seperti ini.
"Dan... Astri sedang hamil saat ini. Mungkin, itu sebabnya akhir-akhir ini Mas Adam selalu pulang tengah malam dan beralasan lembur segala macam. Sedangkan aku..." lolos sudah pertahanan tetakhirku.
Aku tak bisa lagi menahan air mata ini untuk tidak jatuh tertumpah. Ayu dengan cepat memeluk tubuhku dengan erat. Aku memang butuh ini sekarang. Tempatku bersandar, menumpahkan semua kesedihan dan keluh kesahku.
Memiliki Ayu sebagai sahabat, adalah hal yang sangat aku syukuri di dunia pada saat ini. Jika Ayu tak ada, entah apa yang terjadi pada diriku saat ini. Aku orang yang mudah stress dan sangat labil.
"Sudahlah... Ada aku di sini. Jangan menangisi laki-laki bajingan itu lagi. Dan pelakor sialan itu, apa perlu aku yang turun tangan?" Ayu menawarkan bantuannya.
"Tidak perlu. Aku nggak mau gegabah, wanita itu sedang hamil sekarang. Dia bisa menjadikan itu sebagai senjata untuk membuat kita tersudut." jawabku mantap.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku akan mengurus perceraian dengan Mas Adam. Aku yakin, dia tidak akan setuju. Karena itu aku sangat membutuhkan bantuanmu."
"Tentu saja, kau bisa mengandalkanku!" Ayu memelukku lagi dengan erat.
__ADS_1
"Terima kasih, karena masih sudi menjadi sahabatku yang selalu merepotkammu ini," ucapku dengan perasaan haru.
"Hmmm... Jangan berpikir bahwa semua ini gratis,"
Kami berdua tertawa. Ternyata, aku masih bisa tertawa di atas rasa sakit dan kecewa yang kurasakan.
Tiba-tiba suara dari ponselku terdengar. Aku mengambil dan melihat siapa yang menelfon. Ternyata Mas Adam.
Setelah ragu sesaat, akhirnya aku putuskan untuk menjawab telepon darinya.
"Sayang, kamu kok keluar Rumah Sakit nggak bilang-bilang aku dulu sih?" cecarnya saat panggilannya baru saja aku angkat.
"Aku ada urusan penting. Nggak sempat ngabarin kamu." jawabku ketus.
"Kamu gimana sih, kok nggak sempat ngabarin suami sendiri. Mas bawa makanan dari Astri nih buat kamu."
Hah, mudah sekali dia mengucapkan kata-kata itu. Apakah sekarang hatinya benar-benar sudah tidak peka? Apakah dia sengaja ingin terus menorehkan luka di hatiku?
Aku yakin, Ayu mendengar suara Mas Adam dari dalam telepon. Tampak dari wajah Ayu yang mendadak berubah menjadi marah dan menyuruhku mematikan telepon sepihak.
"Sayang... Kok diam sih? Sekarang kamu dimana? Biar Mas jemput ya?" tanya Mas Adam lagi padaku.
"Tidak perlu, Mas. Aku akan pulang sore. Urusanku masih banyak hari ini."
"Tapi, kamu masih sakit. Aqila, tolong jangan keras kepala!" Mas Adam sedikit berteriak saat mengucapkan namaku.
Hal yang dulu bahkan tak pernah sama sekali ia lakukan padaku. Karena aku terlalu bodoh dan terlambat untuk menyadari semuanya.
"Mas, kamu nggak usah peduliin dan sok perhatian lagi sama aku. Urus aja tuh simpanan kamu yang lagi hamil." jawabku denhan emosi.
"Aqila..."
"Semua berakhir, Mas!" aku menyela pembicaraan Mas Adam.
Kemudian aku mematikan ponselku. Tangisku kembali tertumpah. Ayu dengan sabar memeluk dan menenangkanku. Aku hancur, aku terluka.
__ADS_1
Bagaimana sakitnya, saat berusaha membenci orang yang kita cintai? Aku tak sanggup menjelaskannya.